Indonesia mempunyai luas daratan 191,09 juta hektar yang terdiri atas 511 kabupaten/kota. Sejalan dengan pertambahan penduduk dan terus menciutnya lahan pertanian subur akibat dikonversi ke penggunaan lain, maka kebutuhan terhadap sumberdaya lahan terus meningkat. Di sisi lain, perubahan iklim, meluasnya lahan-lahan rusak/terdegradasi, dan semakin lebarnya kesenjangan produksi (yield gap) mengancam kedaulatan pangan nasional. Oleh karena itu data dan informasi sumberdaya lahan menjadi sangat diperlukan untuk mengoptimalkan sumberdaya lahan yang ada (intensifikasi dan diversifikasi) dan lahan-lahan yang masih tersedia (ekstensifikasi). Salah satu bentuk data dan informasi sumberdaya lahan yang sangat diperlukan adalah peta tanah semi detail skala 1:50.000.  Peta tanah tersebut menyajikan informasi spasial sifat-sifat tanah lebih detail dan penyebarannya pada landscape di suatu wilayah kabupaten/kota. 

Hingga akhir tahun 2017, telah tersedia peta sumberdaya lahan/tanah semi detail skala 1:50.000 ter-update di 382 kabupaten/kota di Indonesia. Berdasarkan peta tanah tersebut telah pula dihasilkan peta kesesuaian lahan dan arahan komoditas serta rekomendasi pengelolaan lahannya. Mengingat pentingnya peta-peta tersebut, terutama dalam mendukung kedaulatan pangan nasional dan perencanaan pembangunan pertanian di tingkat kabupaten/kota, maka pada tahun 2018 penyusunan peta sumberdaya lahan/tanah semi detail skala 1:50.000 ter-update dilanjutkan di 129 kabupaten/kota lainnya di Indonesia. Dengan demikian, akhir 2018 informasi sumberdaya lahan/tanah semi detail skala 1:50.000 di seluruh kabupaten/kota di Indonesia telah selesai dilaksanakan.

Kegiatan Penyusunan Atlas Peta Kesesuaian Lahan dan Rekomendasi Pengelolaan Lahan untuk Pengembangan Komoditas Pertanian Skala 1:50.000 di Indonesia di 129 kabupaten/kota di Indonesia terdiri atas beberapa subkegiatan: 1) Korelasi dan updating peta tanah, 2) Penyusunan Land Characterstics (LC), 3) Penilaian kesesuaian lahan (komoditas yang dinilai adalah: padi, jagung, kedele, bawang merah, cabai, tebu, hijauan pakan ternak/sapi potong. 4) Penyusunan arahan komoditas, dan 5) Penyusunan rekomendasi pengelolaan lahan. Keluaran dari kegiatan ini adalah: 1) Atlas peta tanah semi detail skala 1:50.000 ter-update, 2) Land Characteristics (LC) yang digunakan sebagai parameter input dalam penyusunan peta kesesuaian lahan, 3) Peta kesesuaian lahan dan arahan komoditas, serta 4) Rekomendasi pengelolaan lahan di 129 kabupaten/kota. Diharapkan dengan tersusunnya peta-peta sumberdaya lahan/tanah berbasis kabupaten/kota, maka pembangunan pertanian di daerah akan lebih terarah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peta tanah yang dihasilkan di 129 kabupaten/kota memperlihatkan sifat-sifat tanah dan lahan yang beragam karena beragamnya bahan induk pembentuk tanah. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa di 129 kabupaten/kota tersebut terdapat 17 jenis tanah, yaitu: Organosol. Litosol, Aluvial, Regosol, Renzina, Grumusol, Arenosol, Andosol, Latosol, Molisol, Kambisol, Gleisol, Nitosol, Podsolik, Mediteran, Podsol, dan Oksisol.

Hasil analisis menunjukkan dari 41.583.224,72 ha total luas lahan di 129 kabuaten/kota, sekitar 625.931,63 ha merupakan sawah eksisting. Selain padi, pada lahan sawah juga dapat diarahkan untuk jagung, kedelai, bawang merah, dan cabai merah serta tebu (khusus di P. Jawa). Sekitar 2.993.009,57 ha merupakan lahan tegalan/kebun campuran. Selain sesuai untuk tanaman pangan lahan kering seperti padi gogo, jagung, kedelai, bawang merah, cabai merah, juga dapat diarahkan untuk tanaman tahunan/perkebunan, seperti tebu, kakao, kelapa sawit, dan hijauan pakan ternak. Sekitar 848.091,86 ha merupakan lahan perkebunan. Pada saat tanaman berumur muda, lahan-lahan perkebunan ini dapat dimanfaatkan untuk tanaman pangan padi gogo, jagung dan kedelai sebagai tanaman sela, dan sekitar 6.179.991,78 ha merupakan lahan cadangan untuk areal perluasan (ekstensifikasi). Menurut data BPS (2012), lahan-lahan tersebut masih merupakan semak belukar, lahan terlantar, dan lahan terbuka. Lahan cadangan untuk pengembangan ekstensifikasi berada di kawasan areal penggunaan lain (APL), kawasan hutan produksi (HP) , dan kawasan hutan produksi konversi (HPK). Untuk pengembangan masing-masing komoditas di 129 kabupaten/kota disusun paket rekomendasi pengelolaan lahan sesuai karakteristik lahan dan iklimnya.

Lahan-lahan yang tidak direkomendasikan untuk pertanian sekitar 22.896.498,95 ha karena berada pada kawasan hutan lindung, hutan margasatwa, suaka alam, dan hutan lindung lainnya. Sekitar 6.372.559,42 ha tidak sesuai (N) secara biofisik, sebagian besar karena lereng curam > 40%, tekstur kasar, drainase sangat terhambat atau tergenang, atau curah hujan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Sebagai saran dari kegiatan ini bahwa Informasi penggunaan lahan menjadi salah satu penentu pola pengembangan komoditas, terutama dalam mencari lahan-lahan yang belum dimanfaatkan untuk penggunaan apapun sebagai lahan perluasan tanam baru. Permintaan terhadap lahan semakin meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan pembangunan di segala bidang. Namun informasi penggunaan lahan yang ada masih menggunakan data tahun 2012 (7 tahun yang lalu), sementara penggunaan lahan berjalan sangat cepat, sehingga dapat saja informasi sumberdaya lahan yang dihasilkan tidak sesuai lagi dengan kondisi di lapangan. Mengingat semakin pentingnya data penggunaan lahan, maka diperlukan subkegiatan yang menghasilkan informasi penggunaan lahan terakhir.

 

Peneliti: Dr. Ir. Erna Suryani, M.Si, Ir. Hikmatullah, M.Sc; Ir. Sofyan Ritung, M.Sc; Dr. Ir. Sukarman, MS;  Ir. Rudi Eko Subiandono, M.Sc; Dr. Edi Yatno, S.P, M.Sc