JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Teknologi

Rawa Pasang Surut Sebagai Pilar Swasembada

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Lahan rawa pasang surut memiliki potensi strategis untuk dikembangkan lahan pertanian sebagai  sumber pertumbuhan baru produksi pertanian. Namun, hal tersebut perlu didukung teknologi budidaya yang handal karena umumnya memiliki kendala teknis, infrastruktur, sosial ekonomi, dan kelembagaan.

Menurut Ani Susilawati, M.Si, peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), lahan rawa pasang surut tersedia cukup luas dalam satuan-satuan skala hamparan yang cukup luas, air yang berlebih, topografi rata datar, distribusi yang mudah melalui jalur darat dan jalur air,  serta kesesuaian lahan dan agronomi cukup sesuai sampai sangat sesuai.

Potensi lahan rawa pasang surut itu sangat besar untuk mendukung swasembada pangan. “Pasang surut memiliki pilar swasembada pangan seperti aspek ketersediaan (availability), keterjangkauan (accessibility) secara fisik dan ekonomi, dan stabilitas (stability),” kata Ani.

Namun Ani mengatakan “dibutuhkan syarat pemahaman yang komprehensif tentang lahan rawa pasang surut ini, agar pengembangan teknologi dapat relevan secara teknis dengan kebutuhan dan secara ekonomis dapat terjangkau oleh masyarakat lokal” ujarnya.

Dalam penelitiannya Ani menyatakan optimalisasi penggunaan lahan rawa pasang surut dapat dilakukan melalui perluasan areal, peningkatan Indeks Pertanaman dengan pengelolaan air dan penggunaan varietas unggul, dan peningkatan produktivitas melalui penataan lahan, pengolahan tanah, ameliorasi dan pemupukan, pengendalian gulma, hama dan penyakit serta penguatan kelembagaan.

Menurut Ani apabila optimalisasi lahan rawa pasang surut didukung inovasi teknologi pengelolaan dan budidaya yang baik serta peningkatan indeks pertanaman (IP 200), “kita dapat memperoleh tambahan produksi sebesar 2,44 juta ton gabah per tahun,” katanya.

Pencapaian optimalisasi tersebut dapat dilakukan secara bertahap, melalui penerapan asas prioritas, berkesinambungan, sistematis, dan fokus. Menurut Ani adanya keterkaitan yang kuat baik antar sektor maupun antara subsektor pada bidang pertanian maka dibutuhkan koordinasi, integrasi, sinkronisasi sebagai kunci keberhasilan (Laela Rahmi).

Foto: Saefoel Bachri

Peringatan Dini Kekeringan Pertanian

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Kekeringan menjadi bencana alam yang sangat kompleks, sulit dipantau, dan diprediksi. Pada sektor pertanian kekeringan berdampak pada penurunan produksi pertanian yang signifikan. Menurut Dr. Elza Surmaini dari Balai Penelitian dan Pengembangan Agroklimat dan Hidrologi, Bogor, sistem peringatan dini kekeringan menjadi penting karena dapat melacak, menguji, dan mengirim informasi kondisi iklim, hidrologi, dan kondisi sumberdaya air yang tersedia. “Dengan peringatan dini, potensi dampak dapat diminimalkan,” kata Elza.

Tanpa peringatan dini resiko kerugian sangat besar. Sebut saja seperti yang dicatat Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan yang menunjukkan pada El Niño kuat tahun 1997 dan 2015, padi yang terkena kekeringan seluas 513 ribu ha dan 597 ribu ha. Luasan tersebut setara dengan berkurangnya 4,2-juta ton padi pada 2015 dengan asumsi produksi rata – rata padi 7 ton/ha. Apabila kekeringan lebih dini terdeteksi mungkin kerugian petani akan jauh lebih sedikit.

Indonesia sudah memiliki data sistem peringatan dini dan prediksi kekeringan meteorologis. “Kita sudah mencontoh beberapa negara lain seperti United States Drought Monitor, the US Agency for International Development (USAID) Famine Early Warning System Network (FEWS Net), African Drought Monitor, dan the University of Washington Experimental Surface Water Monitor, atau GIDMaPS drought monitoring and prediction,” tutur Elza.

Kini Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui kerjasama Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) mulai mulai mengembangkan sistim prediksi kekeringan sejak 2016. Sistem tersebut menggunakan metode downscale prediksi keluaran NCEP v2 untuk seluruh wilayah Indonesia. “Memang agak terlambat, tetapi ini harus kita lakukan karena kebutuhan mendesak” kata Elza.

Menurut Elza, akurasi sistem peringatan dini tersebut perlu ditingkatkan dengan menambah kapasitas pemantauan, perluasaan jaringan stasiun iklim otomatis, pemanfaatan data satelit, dan peningkatan kapasitas jarngan internet. Diharapkan sistim peringatan dini tersebut akan memberikan kontribusi untuk mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan pada masa mendatang. (Laela Rahmi)

Sekolah Lapang Iklim Jurus Antisipasi Iklim Ekstrim  

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Perubahan iklim yang dinamis sangat berdampak pada sektor pertanian di Indonesia, hal tersebut ditandai dengan kejadian iklim ekstrim yang sering terjadi. Kejadian iklim ekstrim mengakibatkan petani kesulitan dalam melaksanakan usaha taninya, misalnya dalam penentuan waktu dan pola tanam, pemilihan varietas, serta penanganan hama penyakit (OPT). Iklim ekstrim yang paling terlihat yaitu adanya kejadian kekeringan yang berkepanjangan diakibatkan curah hujan yang rendah atau hujan yang terus menerus yang mengakibatkan banjir di banyak tempat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang antara lain melibatkan staff dan peneliti Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitan Hidrologi dan Agroklimat (Balitklimat).  Sekolah Lapang Iklim (SLI) tersebut merupakan program yang digagas oleh BMKG, sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi dampak iklim ekstrim. SLI adalah sekolah lapang yang dilaksanakan di alam terbuka dengan memberdayakan petani agar mampu membaca kondisi iklim serta kearifan lokal untuk melaksanakan budidaya pertanian spesifik lokasi agar dapat meminimalisir penurunan produksi sebagai dampak fenomena iklim ekstrim seperti banjir atau kekeringan.

Melalui SLI para petani maupun penyuluh diharapkan mampu mengaplikasikan informasi prakiraan iklim dan mampu melakukan adaptasi dalam pengelolaan usaha tani apabila terjadi perubahan iklim ekstrim.

SLI adalah sosialisasi pemahaman informasi iklim pada tingkat petani, penyuluh atau pemangku kepentingan terkait. Tujuan SLI adalah meningkatkan pengetahuan petani tentang iklim, membantu petani mengamati unsur iklim dan menggunakannya dalam rangka mendukung usaha tani,  dan membantu petani menerjemahkan informasi prakiraan iklim untuk strategi budidaya yang lebih tepat.

Kurikulum SLI disusun sedemikian rupa dan dilaksanakan dalam satu musim tanam. Kurikulum SLI menurut Pedoman Umum Sekolah Lapang Iklim Direktorat Pengelolaan Air, Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air, Kementerian Pertanian 2010,  antara lain berisi materi: evaluasi hasil pengamatan lapangan,  dinamika kelompok , pengenalan unsur cuaca dan iklim, pengenalan ekosistem, pengenalan istilah dalam prakiraan musim, konsep peluang, pengaruh cuara dan iklim terhadap OPT.

Dalam kegiatan SLI juga dilakukan kunjungan lapang (field trip), pengenalan alat pengukur cuaca dan iklim, proses pembentukan hujan, cara memanfaatkan informasi prakiraan musim dan kearifan lokal, neraca air untuk kebutuhan irigasi dan menilai potensi banjir, faktor penyebab banjir dan kekeringan, serta pengendalian masalah banjir dan kekeringan.

Dari aspek sosial ekonomi diajarkan pula tentang: analisa usahatani sederhana, penilaian ekonomi informasi prakiraan musim/iklim. 

SLI bersifat spesifik lokasi karena berkaitan dengan kondisi spesifik di masing-masing daerah serta disesuaikan dengan kebutuhan petani setempat (Catur Nengsusmoyo/5/4/2017)

Beda Pola Iklim, Beda Musuh Alami dan Penanganannya

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Pasukan yang pandai membaca iklim, mereka akan memenangkan peperangan.

Sejak Februari 2017 Indonesia memasuki kondisi iklim normal. Sebelumnya Indonesia mengalami iklim basah dan iklim kering yang nyaris bergonta-ganti. Dengan demikian tahun ini musim kemarau juga diprediksi dalam kondisi normal. Namun, menurut Peneliti Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Dr. Aris Pramudia, setiap daerah di Indonesia memiliki variasi iklim yang tinggi. “Pola curah hujan di setiap wilayah berbeda-beda tergantung posisi lintang dan posisi bujurnya, serta kondisi relief permukaan bumi di sekitarnya” kata Aris.

Sebut saja di Sumatera bagian utara seperti Aceh, Sumut, Riau, dan Sumbar yang memiliki pola curah hujan ekuatorial. Maksudnya mengalami 2 kali periode basah dan 2 kali periode kering. “Intensitas hujan mulai menurun pada Februari, tetapi naik lagi pada April,” kata Aris. Sementara dari Sumatera kebagian selatan seperti Sumsel, Lampung, Jawa, Nusa Tenggara, Sulsel bagian selatan, dan sebagian pesisir Kalimantan memiliki pola curah hujan monsunal. Yaitu mengalami satu periode basah dan satu periode kering. Mulai basah September-Oktober dan mulai kering April-Mei.

Di Kalimantan iklimnya lebih komplek. Ada wilayah yang curah hujannya sangat tinggi sehingga sulit ditentukan kapan musim kemarau. Kasus lain di Sulawesi terjadi perbedaan musim tajam antara pantai barat dan pantai timur. Musim hujan di pantai barat terjadi pada Desember-Januari, tetapi di pantai timur jatuh pada Juni-Juli sehingga disebut memiliki pola lokal. “Pada pola lokal, ada suatu daerah yang sangat kering pada Desember-Januari dan sebaliknya sangat basah pada Juni-Juli,” kata Aris.

Di luar ketiga pola tersebut, ada pula yang disebut daerah dengan zona di luar musim (Non ZOM). Maksudnya, daerah tersebut sulit diprediksi pola iklimnya. Misalnya sebagian wilayah di Pulau Papua yang tak bias ditentukan musim kemarau dan musim hujan. ”Pola iklim tersebut mempengaruhi jenis hama dan penyakit yang bakal dominan menyerang sentra-sentra pertanian, karena pola di setiap daerah berbeda, maka pola kehadiran musuh padi juga berbeda,” kata Aris.

Uraian lebih lengkap pola iklim dengan pola serangan padi diulas Aris bersama Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Penggangu Tumbuhan (BBPOPT), Ruswandi di artikel Majalah AGRINA Vol 12. Nomor 37 edisi Maret 2017.(NunikRachmadianti)

 

 

Uji Tanah Rawa Portable Seakurat Laboratorium

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Lahan sawah pasang surut berpotensi memberikan kontribusi produksi padi yang cukup besar. Namun, produktivitas padi sawah pasang surut tergolong rendah karena teknologi pemupukan hara berimbang belum banyak dilakukan.  Rekomendasi pemupukan yang dapat ditentukan petani langsung di lapangan dengan cepat, tepat, serta spesifik lokasi sangat diperlukan untuk mendongkrak hasil padi rawa pasang surut.

Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR) dapat digunakan acuan untuk menentukan rekomendasi pemupukan tanaman padi di lahan sawah pasang surut. Hal ini diungkapkan Muhammad Hatta, dkk dalam Jurnal Tanah dan Iklim Vol 39 No.1 Tahun 2015. PUTR merupakan teknologi hasil penelitian Balai Penelitian Tanah Bogor sebagai alat bantu petani, penyuluh pertanian, dan praktisi pertanian di lahan rawa.

Menurut Hatta, petani yang tidak memiliki latar belakang ilmu kimia atau ilmu kesuburan tanah dapat menggunakan PUTR karena mudah digunakan. Rekomendasi dari PUTR juga akurat bila dibandingkan dengan pengujian di laboratorium. “Saya telah membandingkan rekomendasi dari PUTR dan rekomendasi dari laboratorium di Kalimantan Barat,” kata Hatta.

Hatta melakukan percobaan pada lahan tipe luapan A dan tipe luapan B dengan membandingkan perlakukan pemupukan dengan takaran berdasarkan hasil uji tanah dengan menggunakan PUTR. Hasilnya taraf pemupukan berdasarkan hasil analisis tanah di laboratorium dan uji tanah dengan PUTR memberikan pengaruh positif terhadap jumlah malai  dan gabah per rumpun bila dibandingkan dengan padi yang dipupuk berdasarkan rekomendasi setempat dan tanpa dipupuk.

Pemupukan berdasarkan hasil uji tanah dengan menggunakan takaran pemupukan satu rekomendasi PUTR (90 kg/ha N, 18 kg/ha P2O5, dan 90 kg/ha K2O) cukup akurat digunakan acuan untuk padi sawah pasang surut tipe luapan A dan B. Hal ini ditunjukkan dengan hasil gabah yang setara dengan hasil dari rekomendasi di laboratorium. Hasil gabah kering meningkat 41.5% di tipe luapan A dan 53.3% di tipe luapan B bila dibanding hasil pemupukan rekomendasi setempat.

Hatta menambahkan PUTR dapat meningkatkan efisiensi pemupukan yang kemudian berdampak terhadap pendapatan petani. Efisiensi dapat ditingkatkan dengan mengukur ketersediaan hara dalam tanah dan mengukur kebutuhan hara sehingga produksi optimum dan nilai ekonomi produksi lebih tinggi. (Nunik Rachmadianti)