JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
(Reading time: 2 - 4 minutes)

Upaya Kementerian Pertanian dalam mencapai target swasembada pangan ditempuh dengan berbagai cara, diantaranya melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) dan pembukaan lahan sawah baru. Peningkatan IP maupun penambahan area sawah baru tidak serta merta mampu mendongkrak produksi dalam waktu cepta seperti yang diharapkan, karenanya diperlukan upaya lain yang mampu mendukung pencapaian target di atas.

“Sebagai salah satu upaya peningkatan produksi padi sawah, Badan Litbang Pertanian telah merilis teknologi Jarwo Super terkait dengan pencapaian target swasembada” demikian ungkap Dr. M. Syakir, Kepala Badan Litbang Pertanian dalam berbagai kesempatan.

Pada Jarwo Super terdapat lima input utama yakni penggunaan varietas unggul baru (VUB),  penggunaan biodekomposer, pemanfaatan pupuk hayati dan pupuk berimbang, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), serta penggunaan alat mekanisasi pertanian khususnya transplanter dan combine harvester. Kata ‘Super’ sendiri disematkan pada teknologi ini mengacu pada penggunaan kelima input di atas. Pupuk hayati sebagai salah satu input pada teknologi ini memegang peran penting dalam peningkatan produksi. Kehadirannya diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik, juga meningktakan produksi secara signifikan.

Adalah Etty Pratiwi salah seorang peneliti Badan Litbang Pertanian bersama beberapa koleganya telah menemukan racikan pupuk hayati yang diberi label Agrimeth. 

“Pupuk hayati memiliki fungsi sebagai penambat N2 simbiotik, penambat N2 non simbiotik, pelarut P dan fasilitator P, penghasil anti mikroba, perombak bahan organik, dan pengakumulasi logam berat” papar  Etty.

Berdasarkan Permentan No. 70/Permentan/SR.141/10/2011 pupuk hayati didefinisikan sebagai produk biologi aktif yang terdiri atas mikroba yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan, dan kesehatan tanah.

Agrimeth memiliki keunggulan khusus, yakni mengandung bakteri filosfer Methylobacterium sp. penghasil fitohormon untuk pematahan dormansi, meningkatkan vigor (daya tumbuh)dan viabilitas benih.

Ketika ditanya mengapa menggunakan jenis mikroba di atas. “Belum ada produk pupuk hayati yang menggunakan Methylobacterium sp. Bakteri ini sangat sulit tumbuh dan dikembangbiakan” sergah Etty.

Dalam satu kesempatan seminar yang diadakan di Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), doktor jebolan IPB tersebut memaparkan, dari berbagai percobaan yang dilakukan terungkap bahwa Agrimeth dapat meningkatkan efisiensi pupuk NPK 25 hinggga 50%. Selain itu Agrimeth dapat meningkatkan produktivitas tidak hanya padi, tetapi juga kedelai dan cabai di berbagai agroekosistem.

Pada tahun 2014 pengujian Agrimeth dilakukan di areal pengembangan (demarea) seluas 462 ha yang tersebar di enam provinsi yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, banten, dan Jambi. Tahun 2015 areal pengembangan seluas 50 ha di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Tahun 2016 seluas areal pengembangan mencapai 850 ha terebar di 23 provinsi, sementara tahun 2017 direncanakan areal pengembangan seluas 10.000 ha yang tersebar di 10 provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Produktifitas padi sawah pada teknologi Jarwo Super menembus angka di atas 10 ton/ha, hasil pengujian di beberapa area pengembangan (demarea) dijumpai hasil: Varietas Inpari 30 Ciherang Sub-1: 13.9 t/ha, Inpari 32: 14.4 t/ha, Inpari 33: 12.4 t/ha, Inpari 43 Agritan GSR: 14.2 t/ha. Sementara produktifitas Ciherang di luar demarea hanya sekitar 7.0 t/ha.

“Pupuk hayati pada dasarnya berisi mikroba yang tidak lain adalah mahluk hidup, karenanya dia memerlukan perlakuan sebagaimana mahluk hidup lazimnya. Sebagai contoh bila pupuk hayati dicampurkan dengan fungisida atau pestisida maka mikrobanya malah bisa mati” papar Etty.

Pada saat aplikasi di lapangan, upayakan pupuk hayati tidak langsung terkena hujan. Bila suhu simpan di atas 50o C, populasi mikroba akan menurun. Pupuk hayati memiliki masa daluarsa paling lama enam bulan.

Untuk 1 hektar diperlukan 400 gr Agrimeth atau 400 gr/25 kg benih padi, sedangkan untuk kedelai dosisnya adalah 250 gr/40 kg benih kedelai. Etty juga mengingatkan, jangan mengurangi dosis dari takaran yang dianjurkan. Mikroba memerlukan jumlah minimal supaya bisa bergerak dan berinteraksi, bila jumlah mikroba terlalu sedikit maka kemungkinan pupuk hayati tidak akan efektif.

Untuk mendapatkan hasil yang efektif, pemberian Agrimeth dilakukan dengan tiga tahap, yaitu: 1) membasahi benih dengan air sampai basah atau  benih padi direndam semalaman, lalu tiriskan,  2) selimuti benih dengan pupuk hayati, 3) benih segera ditanam (tidak ditunda lebih dari 3 jam), agar tidak mematikan mikroba yang telah melekat pada benih.

Terkait respon petani terhadap produk Agrimeth, Etty menuturkan “Berdasarkan wawancara di lapangan terhadap sejumlah petani responden dihasilkan, lebih dari  91% petani menyatakan mudah memahami atau menguasai teknologi pupuk hayati”

Sedangkan dari aspek kemudahan aplikasi di lapangan, 87,5 %  petani menyatakan mudah. 100% petani menyatakan menguntungkan bila menggunakan pupuk hayati,  sementara dari segi harga 100% petani menyatakan mampu membeli/terjangkau dengan harga yang dipasarkan saat ini.

Upaya meracik Agrimeth tidak serta merta mencapai hasil ideal seperti saat ini,  melainkan ditempuh melalui jalan panjang. Semula Agrimeth diformulasi dalam bentuk cair, selain dosis aplikasi lebih banyak, Etty dan kawan-kawan mengalami kendala saat pengiriman produk. Ongkos kirim pupuk cair dua kali lebih mahal dibanding pupuk padat, karena itu dibuatlah formula pupuk dengan bentuk padat seperti saat ini (Saefoel Bachri).