JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
(Reading time: 1 - 2 minutes)

Perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian yang telah berjalan mapan pada kondisi normal sehingga ketersediaan pangan dapat terganggu. Banyak riset menyebut tanpa beradaptasi dengan perubahan iklim, maka produksi pangan pada 2050 akan menurun tajam sehingga umat manusia terancam kelaparan.

Hingga saat ini ilmu pengetahuan masih menyisakan banyak ketidakpastian untuk memprediksi dampak perubahan iklim terutama wilayah Indonesia di daerah tropis yang komplek. “Dampak perubahan iklim belum diketahui hingga ke hilirnya seperti dampak bagi perekonomian masyarakat,” kata Kepala Bidang KSPHP, BBSDLP, Dr. Yiyi Sulaeman, M.Sc usai membuka pelatihan Climate Downscaling-AMICAF, pekan lalu.

Dengan demikian, menurut Yiyi, pemerintah perlu mendapat gambaran prediksi untuk mempersiapkan berbagai skenario strategi adaptasi yang menyeluruh. “Sekasar apapun gambaran tersebut, pemerintah harus memilikinya dengan metodologi dan analisis yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata Yiyi.

Kini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian bekerjasama dengan FAO merancang strategi tersebut melalui pelatihan Climate Donwscaling Method yang menjadi bagian kegiatan dari Analysis and Mapping of Impacts under Climate Change for Adaptation and Food Security (AMICAF).  Pelatihan melibatkan 17 peserta dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. “Setiap instansi tersebut berbagi tugas menyusun berbagai skenario adaptasi,” kata Yiyi.

Menurut Rodrigo Garcia Mansanaz PhD, narasumber dari FAO, saat ini bukan waktunya lagi berdebat mengenai perubahan iklim benar-benar terjadi atau hanya isapan jempol. “Data iklim selama ratusan tahun sudah menjadi bukti. Perubahan iklim di masa lalu terjadi karena aktivitas vulkanik dan radiasi matahari sehingga perubahan iklim berjalan alami. Sementara setelah revolusi industri perubahan iklim terjadi secara drastis karena aktifitas manusia,” kata ilmuwan dari Universitas Cantabria, Spanyol, itu.

Dengan demikian, menurut Rodrigo, seluruh umat manusia dari berbagai negara harus bersatu padu melakukan adaptasi. “FAO telah melakukan kegiatan ini di beberapa negara seperti Peru dan Filipina,” kata pria berambut plontos itu.

Pada pelatihan ini peserta dilatih melakukan kalibrasi data iklim yang diperoleh dari data model yang diolah dengan super komputer dengan rekaman data iklim yang didapat dari stasiun iklim yang tersebar di Indonesia, lalu memproyeksi iklim masa depan. Dari pelatihan di berbagai negara tersebut, nantinya ditindaklanjuti dengan memanfaatkan proyeksi iklim untuk crop modelling, hydrology modelling, dan analisa dampak sosial ekonomi untuk ketahanan pangan masyarakat. (Yopi Yogaswara)