JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
(Reading time: 2 - 3 minutes)

Pekarangan bangunan itu terlihat kontras. Ruang persegi yang dibatasi papan pembatas penuh terisi gundukan jagung berwarna kuning terang. Itu hasil panen jagung dari sebuah kebun di Desa Biau, Kecamatan Biau, Kabupaten Buol. Sebentar lagi jagung pipilan itu bersalin rupa menjadi lembaran-lembaran rupiah. Namun, di sudut lain di luar papan pembatas terlihat gundukan tongkol jagung berwarna putih yang tersia-sia menjadi limbah terbuang. 

Itulah pemandangan lazim di setiap penjemuran pipilan jagung yang tim Upsus Pajale (padi, jagung, dan kedelai) temui di Kabupaten Buol, pekan lalu. “Di situ ada penjemuran, di sana pula ada bonggol menggunung,” kata Amir, petani jagung di Biau. Menurutnya para petani di desa tersebut membiarkan gundukan tongkol jagung hingga berubah cokelat, hitam, lalu hancur tak berbekas. Dengan asumsi bobot tongkol 25% dari bobot total, maka setiap panen 10 ton jagung menghasilkan 2,5 ton tongkol yang terbuang sia-sia.

Kondisi itu bertolak belakang dengan petani jagung di Jepang. Di sana tongkol jagung dimanfaatkan untuk beragam tujuan. Yang paling umum tongkol jagung dibakar dengan tungku yang didesain minim oksigen untuk menghasilkan arang biochar. Bahan itu lalu dikembalikan ke dalam tanah untuk memperbaiki sifat fisika tanah. “Biochar mampu memegang air 2—3 kali lipat dibanding bobot keringnya,” kata Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Bogor.

Menurut Dedi, tongkol juga dapat dimanfaatkan untuk campuran pakan ternak. Caranya tongkol jagung dihancurkan dengan mesin atau manual lalu dicampur dengan pakan. Ternak yang memakan tongkol jagung menghasilkan kotoran yang kemudian dapat dipakai sebagai pupuk kandang. Tongkol jagung juga dapat dipakai sebagai pupuk setelah dikomposkan. “Prinsipnya jangan sampai ada hasil dari lahan yang terbuang percuma. Kembalikan semua ke lahan,” kata Dedi yang juga penanggung jawab upsus di Kabupaten Buol.

Di Jepang, limbah bonggol jagung bahkan dipakai juga sebagai bahan baku pupuk hayati yang diandalkan untuk meningkatkan produksi pertanian. Saat ini di tanah air penelitian biochar berbahan bonggol jagung juga sudah banyak dilakukan. “Biochar dari tongkol jagung tergolong menghasilkan biochar berkualitas,” kata Dedi. Apabila petani jagung memanfaatkan limbah bonggol untuk biochar, dapat dipastikan biaya pembelian pupuk dapat berkurang sehingga sistem pertanian lebih efisien.

Menurut Dedi, yang terpenting adalah petani diberi wawasan sistem pertanian terpadu yang tidak terlalu mengandalkan input dari luar. “Pengembangan sapi untuk pertanian lahan kering di sini menjadi sangat penting,” kata Dedi. Apalagi saat meninjau lapangan Dedi melihat tak hanya tongkol yang terbuang percuma. Berangkas daun dan batang jagung di lahan juga banyak terbuang percuma atau dibakar sembarangan. Padahal, berangkasan tajuk jagung itu dapat dimanfaatkan untuk pakan sapi.

Bahkan, banyak petani yang memiliki sapi pun tak menggunakan berangkasan jagung untuk pakan karena mereka tak tahu berangkasan jagung adalah sumber pakan. “Tugas kita memberikan penyuluhan pertanian terpadu yang terintegrasi dengan ternak,” kata Dedi. Pertanian terpadu adalah sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan.

Diharapkan pertanian terpadu dapat menjadi solusi bagi peningkatan produktivitas lahan, program pembangunan, konservasi lingkungan, serta pengembangan desa terpadu. “Kebutuhan jangka pendek, menengah, dan panjang petani berupa pangan, sandang dan papan akan tercukupi dengan sistem pertanian ini,” tutur Dedi. Musababnya, jangka waktu panen setiap komoditas pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan peternakan berbeda-beda sehingga dapat saling menutupi. (Laela Rahmi)