JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
(Reading time: 3 - 5 minutes)

Kualitas tanah yang rata-rata relatif rendah merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas lahan pertanian di Indonesia.Hal tersebut terungkap dalam tulisan ilmiah yang disampaikan oleh Ai Dariah, dkk, peneliti senior Badan Litbang Pertanian dalam Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9 No. 2 Tahun 2015. Selain berhubungan dengan karakteristik lahan di Indonesia yang rentan terhadap erosi dan pemiskinan hara, penurunan kualitas lahan juga banyak disebabkan oleh faktor manusia yang tidak melakukan sistem pengelolaan lahan secara tepat dan berkelanjutan.

Diungkapkan, meskipun program rehabilitasi lahan pertanian telah dilakukan dari tahun ke tahun, namun peranannya seolah tidak begitu nampak dalam mengurangi laju penurunan kualitas lahan. Penyebabnya antara lain metodologi rehabilitasi lahan yang kurang tepat, laju proses degradasi lahan yang lebih cepat dibanding pemulihannya, dan luasan areal terdegradasi jauh lebih besar dibanding kemampuan merehabilitasinya. Untuk mengatasi masalah di atas penggunaan pembenah tanah yang tepat merupakan cara yang dapat ditempuh untuk mempercepat proses pemulihan kualitas lahan.

“Saat ini cara pemulihan lahan secara alamai sangat mustahil dilakukan, terutama di daerah dengan penduduk padat dengan kepemilikan lahan yang sempit, oleh karena itu diperlukan suatu metode untuk mempercepat pemulihan kualitas lahan yang telah mengalami degradasi,” Ai menuturkan.

Bila lahan tersedia untuk pertanian masih mencukupi, pemulihan lahan pertanian yang telah mengalami penurunan kualitas bisa dilakukan secara alami, yakni dibiarkan bera selama bertahun-tahun, selanjutnya setelah mengalami pemulihan, lahan dibuka kembali untuk usahatani.  Namun seperti yang diungkapkan di atas bahwa pemulihan lahan secara alami saat ini sangat sulit dilakukan, penyebabnya antara lain karena sempitnya kepemilikan lahan sehingga lahan terus menerus diusahakan.

Pembenah tanah berfungsi memperbaiki kualitas fisik, kimia, dan biologi tanah, sehingga produktivitas tanah menjadi optimum. Pembenah tanah diartikan sebagai bahan-bahan sintetis atau alami, organik atau mineral, berbentuk padat maupun cair yang mampu memperbaiki struktur tanah, dapat merubah kapasitas tanah menahan dan melalukan air, serta dapat memperbaiki kemampuan tanah dalam memegang hara, sehingga air dan hara tidak mudah hilang, namun tanaman masih mampu memanfaatkan air dan hara tersebut. Pembenah tanah juga berfungsi memperbaiki sifat kimia tanah misalnya untuk perbaikan reaksi tanah dan menetralisir unsur atau senyawa beracun, kaitannya dengan ini maka pembenah pembenah tanah dikenal sebagai soil ameliorant.

Pembenah tanah dibagi menjadi dua yakni pembenah alami dan sintetik, sedangkan berdasarkan bahan pembentuknya dibedakan menjadi pembenah tanah organik, hayati, dan mineral. Pembenah tanah yang bersumber dari bahan organik sangat disarankan untuk digunakan, selain terbukti efektif dalam memperbaiki kualitas tanah dan produktivitas lahan, juga bersifat terbarukan, insitu, dan relatif murah, serta bisa mendukung konservasi karbon dalam tanah. Namun pembenah organik membutuhkan dosis yang relatif tinggi. Sementara itu pembenah mineral juga efektif dalam meningkatkan kualitas tanah, namun tetap harus disertai dengan penggunaan pembenah tanah organik. Penggunaan pembenah tanah sintetik perlu diuji terlebih dahulu dari segi dampak negatifnya terhadap lingkungan, selain pertimbangan harga yang umumnya relatif mahal, meski dosis yang digunakan relatif rendah.

Pembenah tanah organik biasanya diberikan dalam bentuk kompos, namun dosis yang diberikan masih sangat rendah  untuk dapat berfungsi sebagai pembenah. Selain itu kapur pertanian (kalsit dan dolomit) juga merupakan pembenah tanah yang dikenal petani.

Pembenah tanah yang lain adalah jasad hidup atau organisme tanah. Organisme tanah digunakan untuk mempercepat dekomposisi bahan organik, meningkatkan ketersediaan hara, serta untuk pembentukan dan perbaikan struktur tanah.

Bahan organik merupakan bahan pembenah tanah yang sudah relatif memasyarakat. Sebagai bahan pembenah tanah, bahan organik harus diberikan dalam jumlah yang relatif besar, sehingga didapatkan manfaat yang nyata. Pada usahatani sayuran yang umum dilakukan di dataran tinggi misalnya, petani memberikan bahan organik dalam jumlah sangat tinggi. Pemberian bahan organik yang tinggi dilakukan bukan semata untuk pemenuhan hara tanaman, namun lebih sebagai pembenah tanah.

Beberapa hasil penelitian menunjukan peranan biochar sebagai pembenah tanah. Penambahan charcoal (biochar) pada tanah-tanah pertanian dapat berfungsi untuk meningkatkan: ketersedian hara, retensi hara, dan retensi air.Hasil penelitian pada tanah Ultisol Lampung Timur menunjukkan bahwa penggunaan biochar limbah pertanian sekam padi dengan dosis 2,5-7,5 t ha-1 mampu memperbaiki kualitas tanah. Kemasaman tanah, KTK, dan pori air tersedia meningkat setelah aplikasi biochar selama satu musim tanam. Selain itu, pemberian biochar juga mampu meningkatkan produksi tanaman jagung.

Selain dalam bentuk biochar, bahan organik dapat pula dimanfaatkan setelah diekstrak menjadi senyawa humat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan organik dengan C/N ratio tinggi dan kandungan hara rendah lebih baik jika diberikan dalam bentuk senyawa humat. Menurut Ai, pengaruh pembenah tanah dengan bahan aktif senyawa humat menghasilkan bobot tanaman paling tinggi dan sekaligus mampu mengurangi pemberian pupuk NPK sebesar 25%

Penelitian pembenah tanah di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 1970-an. Bitumen (emulsi aspal) telah digunakan untuk mempercepat pembentukan agregat dan meningkatkan stabilitas agregat pada tanah pasir Merapi dan Andisol. Pembenah tanah mineral alami lainnya yang telah banyak diteliti dan dikembangkan adalah zeolit. Penggunaan zeolit sebagai bahan pembenah tanah telah banyak dilakukan di Jepang, Amerika, dan negara-negara Eropa. Pembenah tanah mineral lainnya seperti kapur pertanian (kaptan) juga telah digunakan untuk meningkatkan produktivitas tanah-tanah masam di Indonesia.

Meskipun peranan pembenah tanah dalam memperbaiki kualitas tanah sudah banyak dibuktikan, namun aplikasinya pada tingkat petani masih rendah. Pemilihan bahan pembenah tanah dalam upaya pemeliharaan dan pemulihan produktivitas lahan terdegradasi, sebaiknya diprioritaskan pada bahan-bahan yang murah, bersifat insitu, dan terbarukan. Bahan organik merupakan bahan pembenah tanah yang dapat memenuhi persyaratan tersebut. Selain itu sebagian besar lahan pertanian di Indonesia mempunyai permasalahan yang berhubungan dengan kadar bahan organik tanah. Penggunaan bahan organik sebagai pembenah tanah juga dapat mendukung konservasi karbon tanah, sehingga dapat mendukung mitigasi perubahan iklim dengan memperbesar simpanan karbon dalam tanah dan menekan pelepasan kabon dalam bentuk gas rumah kaca.

Sumber-sumber bahan pembenah tanah mineral juga dapat dimanfaatkan untuk peningkatan produktivitas lahan pertanian. Namun demikian, penggunaan bahan organik yang sudah relatif membudaya jangan dilupakan. Zeolit dan kapur pertanian merupakan bahan pembenah tanah mineral yang sudah banyak dibuktikan manfaatnya, yang tidak boleh dilupakan adalah pengawasan mutu dari bahan pembenah tersebut. Masalah harga bahan pembenah tanah tersebut juga perlu diperhatikan mengingat daya beli petani yang rata-rata rendah.

Penggunaan pembenah tanah mineral tetap harus disertai penggunaan pembenah tanah organik, selain untuk menanggulangi efek negatif penggunaan jangka panjang, juga untuk menjaga ketersediaan sumber energi organisme tanah dan pemeliharaan struktur tanah. (Saefoel Bachri/20/3/2017)