JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
(Reading time: 2 - 3 minutes)

Sinar matahari ternyata dapat digunakan untuk mengundang air. Caranya energi sinar matahari dikumpulkan melalui panel, diubah menjadi energi listrik, lalu disimpan pada baterai. Tenaga listrik itu digunakan menggerakkan pompa untuk menyedot air dalam tanah atau sungai lalu dialirkan ke lahan pertanian.

Teknologi yang dikembangkan Dr. Popi Rejekiningrum dari Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Bogor, itu menjadi jawaban atas mahalnya biaya listrik yang dikeluhkan petani bila disarankan menggunakan pompa untuk menyedot air. “Dengan energi matahari, kita terbebas dari biaya listrik atau solar yang sering dipakai untuk menggerakkan pompa,” kata Popi.

Popi mengungkap hasil risetnya pada Seminar rutin di Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) yang digelar pada Selasa, 21 Maret 2017, kemarin. Dengan riset temuannya Popi menawarkan teknologi Aplikasi Sistem Irigasi Pompa Tenaga Surya yang Hemat Energi dan Air untuk Pengembangan Hortikultura. Seminar tersebut juga menampilkan riset lain yaitu Pemanfaatan Hasil Downscaling Prediksi Musim untuk Mendukung Perencanaan Pertanian 1 -2 Musim ke Depan oleh Dr. Elza Surmaini yang juga berasal dari Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.

Pada seminar tersebut Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Bogor, Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr sangat mengapresiasi kedua topik tersebut. “Saya berharap teknologi ini segera diterima masyarakat di nusantara,” kata Dedi.  Menurut Dedi, Bumi Nusantara diuntungkan karena terletak di garis khatulistiwa sehinggat jarak Indonesia lebih dekat dengan matahari dibanding negara maju di Benua Amerika atau Eropa.

Kondisi tersebut, menurut Dedi, membuat matahari bersinar lebih terik dengan lama penyinaran lebih panjang dibanding negara subtropis seperti Jepang atau Belanda. “Energi besar dari matahari terbuang percuma tanpa dimanfaatkan,” kata Dedi. Pemanfaatan energi matahari di negara kita memang masih relatif rendah sehingga harus ditingkatkan karena di masa depan negara tropis harus menjadi lumbung pangan dunia.

Menurut Popi, sebagian besar wilayah pertanian di Indonesia—terutama lahan kering—membutuhkan pasokan air yang dapat dipenuhi dengan pompa. Namun, pompa yang digerakkan listrik dan BBM berbiaya tinggi sehingga usaha pertanian menjadi merugi. “Mana mau petani  kalau rugi,” kata Popi.

Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi telah melirik potensi energi surya karena intensitas radiasi rata – rata di negara kita adalah 4,8 kWh/m2/hr yang memadai untuk menyediakan listrik penggerak pompa. Energi matahari juga mampu mengurangi emisi CO2  sebesar 705,00 g Carbon/petani/MT yang dihasilkan dari jumlah BBM yang digunakan petani. “Bila panel surya dirawat apik, maka ini penghematan luar biasa,” kata Popi.

Sementara pembicara kedua Dr. Elza Surmaini menjelaskan kajian pemanfaatan downscaling iklim untuk memprediksi musim ke depan untuk budidaya pertanian. Menurut Elza, data statistik downscaling dapat dimanfaatkan untuk menentukan awal musim, karakteristik iklim selama 1 – 2 musim tanam ke depan, dan prediksi kekeringan pertanian.

Ketersediaan data tersebut nantinya dapat menentukan waktu tanam yang tepat untuk produksi yang optimal. Apabila teknologi tersebut dapat diterapkan, maka kemungkinan gagal panen yang selama ini dialami petani tidak akan terjadi lagi. Saat ini data statistik downscaling telah dimanfaatkan untuk program upaya khusus peningkatan luas tanam padi, jagung , dan kedelai di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Selatan. (Laela Rahmi)