JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
(Reading time: 1 - 2 minutes)

Perubahan iklim yang dinamis sangat berdampak pada sektor pertanian di Indonesia, hal tersebut ditandai dengan kejadian iklim ekstrim yang sering terjadi. Kejadian iklim ekstrim mengakibatkan petani kesulitan dalam melaksanakan usaha taninya, misalnya dalam penentuan waktu dan pola tanam, pemilihan varietas, serta penanganan hama penyakit (OPT). Iklim ekstrim yang paling terlihat yaitu adanya kejadian kekeringan yang berkepanjangan diakibatkan curah hujan yang rendah atau hujan yang terus menerus yang mengakibatkan banjir di banyak tempat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang antara lain melibatkan staff dan peneliti Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitan Hidrologi dan Agroklimat (Balitklimat).  Sekolah Lapang Iklim (SLI) tersebut merupakan program yang digagas oleh BMKG, sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi dampak iklim ekstrim. SLI adalah sekolah lapang yang dilaksanakan di alam terbuka dengan memberdayakan petani agar mampu membaca kondisi iklim serta kearifan lokal untuk melaksanakan budidaya pertanian spesifik lokasi agar dapat meminimalisir penurunan produksi sebagai dampak fenomena iklim ekstrim seperti banjir atau kekeringan.

Melalui SLI para petani maupun penyuluh diharapkan mampu mengaplikasikan informasi prakiraan iklim dan mampu melakukan adaptasi dalam pengelolaan usaha tani apabila terjadi perubahan iklim ekstrim.

SLI adalah sosialisasi pemahaman informasi iklim pada tingkat petani, penyuluh atau pemangku kepentingan terkait. Tujuan SLI adalah meningkatkan pengetahuan petani tentang iklim, membantu petani mengamati unsur iklim dan menggunakannya dalam rangka mendukung usaha tani,  dan membantu petani menerjemahkan informasi prakiraan iklim untuk strategi budidaya yang lebih tepat.

Kurikulum SLI disusun sedemikian rupa dan dilaksanakan dalam satu musim tanam. Kurikulum SLI menurut Pedoman Umum Sekolah Lapang Iklim Direktorat Pengelolaan Air, Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan Dan Air, Kementerian Pertanian 2010,  antara lain berisi materi: evaluasi hasil pengamatan lapangan,  dinamika kelompok , pengenalan unsur cuaca dan iklim, pengenalan ekosistem, pengenalan istilah dalam prakiraan musim, konsep peluang, pengaruh cuara dan iklim terhadap OPT.

Dalam kegiatan SLI juga dilakukan kunjungan lapang (field trip), pengenalan alat pengukur cuaca dan iklim, proses pembentukan hujan, cara memanfaatkan informasi prakiraan musim dan kearifan lokal, neraca air untuk kebutuhan irigasi dan menilai potensi banjir, faktor penyebab banjir dan kekeringan, serta pengendalian masalah banjir dan kekeringan.

Dari aspek sosial ekonomi diajarkan pula tentang: analisa usahatani sederhana, penilaian ekonomi informasi prakiraan musim/iklim. 

SLI bersifat spesifik lokasi karena berkaitan dengan kondisi spesifik di masing-masing daerah serta disesuaikan dengan kebutuhan petani setempat (Catur Nengsusmoyo/5/4/2017)