JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Peringatan Dini Kekeringan Pertanian

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Kekeringan menjadi bencana alam yang sangat kompleks, sulit dipantau, dan diprediksi. Pada sektor pertanian kekeringan berdampak pada penurunan produksi pertanian yang signifikan. Menurut Dr. Elza Surmaini dari Balai Penelitian dan Pengembangan Agroklimat dan Hidrologi, Bogor, sistem peringatan dini kekeringan menjadi penting karena dapat melacak, menguji, dan mengirim informasi kondisi iklim, hidrologi, dan kondisi sumberdaya air yang tersedia. “Dengan peringatan dini, potensi dampak dapat diminimalkan,” kata Elza.

Tanpa peringatan dini resiko kerugian sangat besar. Sebut saja seperti yang dicatat Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan yang menunjukkan pada El Niño kuat tahun 1997 dan 2015, padi yang terkena kekeringan seluas 513 ribu ha dan 597 ribu ha. Luasan tersebut setara dengan berkurangnya 4,2-juta ton padi pada 2015 dengan asumsi produksi rata – rata padi 7 ton/ha. Apabila kekeringan lebih dini terdeteksi mungkin kerugian petani akan jauh lebih sedikit.

Indonesia sudah memiliki data sistem peringatan dini dan prediksi kekeringan meteorologis. “Kita sudah mencontoh beberapa negara lain seperti United States Drought Monitor, the US Agency for International Development (USAID) Famine Early Warning System Network (FEWS Net), African Drought Monitor, dan the University of Washington Experimental Surface Water Monitor, atau GIDMaPS drought monitoring and prediction,” tutur Elza.

Kini Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui kerjasama Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) mulai mulai mengembangkan sistim prediksi kekeringan sejak 2016. Sistem tersebut menggunakan metode downscale prediksi keluaran NCEP v2 untuk seluruh wilayah Indonesia. “Memang agak terlambat, tetapi ini harus kita lakukan karena kebutuhan mendesak” kata Elza.

Menurut Elza, akurasi sistem peringatan dini tersebut perlu ditingkatkan dengan menambah kapasitas pemantauan, perluasaan jaringan stasiun iklim otomatis, pemanfaatan data satelit, dan peningkatan kapasitas jarngan internet. Diharapkan sistim peringatan dini tersebut akan memberikan kontribusi untuk mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan pada masa mendatang. (Laela Rahmi)