JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
(Reading time: 1 - 2 minutes)

“Pemutakhiran data harus dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan banyak pihak,” kata Dr. Kusumo Nugroho, pada acara seminar rutin yang dilaksanakan Rabu (12/7), di Sinematografi di Balai Besar Penelitian Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP).

Menurut Kusumo, untuk data sumberdaya lahan yang ditunjuk menjadi wali data tanah--termasuk lahan gambut—adalah BBSDLP yang juga selalu melakukan pemutakhiran data. Proses pemutakhiran data lahan gambut dari data lama tersebut telah dimulai sejak 2011 dan masih berlangsung hingga kini.

Kusumo mengungkapkan hasil pemutakhiran data spasial lahan gambut tahun 2011 oleh para peneliti di BBSDLP telah di terbitkan oleh Wetland International yang saat ini digunakan untuk mendukung penyusunan peta PIPIB (Peta Indikatif Penundaan Ijin Baru di hutan alam primer dan lahan gambut). “Saat ini peta PIPIB sudah terbit yang ke-11. Proses tersebut terus berlanjut hingga yang ke-12 masih proses penyusunan” ujarnya.

Pemutakhiran peta dilakukan karena banyaknya lembaga lain di luar Kementerian Pertanian yang memanfaatkan peta tersebut. Data sebaran dan luasan lahan gambut menjadi bahasan krusial karena menyangkut investasi dan perundang–undangan sehingga pemutakhiran harus dilakukan hati – hati. “Dengan begitu (pemutakhiran) kedetilan dan keakuratan data dapat lebih ditingkatkan serta dipertanggung jawabkan” ujar Kusumo.

Dalam seminar tersebut juga dihadirkan Dr. Rizatus Shofiati sebagai narasumber. Beliau adalah peneliti di bidang remote sensing di BBSDLP. Rizatus membahas mengenai Standing Crop (SC) yaitu sistem yang memanfaatkan teknologi remote sensing untuk melihat sebaran luas sawah dan fase pertumbuhan tanaman.

“Awalnya standing crop ini hanya digunakan untuk menganalisis tanaman padi, namun sekarang sudah dikembangkan juga untuk menganalisis sebaran serta fase pertumbuhan tanaman jagung dan tebu” ujar Rizatus.

Rizatus mengatakan “awal pemanfaatan standing crop tersebut karena dulu data BPS yang tersedia masih berupa data tabular, sehingga kita tidak bisa tahu spesifik lokasinya dimana dan fase pertumbuhan tanamannya sudah sampai fase mana, dengan adanya standing crop ini kita dapat memperoleh informasi data yang lebih detail, real time, cepat dan akurat”.

Sampai saat ini sistem standing crop sudah menghasilkan peta sawah baku, peta kekeringan, dan peta standing crop itu sendiri.

 

Dengan pemanfaatan tersebut diharapkan informasi fase pertumbuhan yang dihasilkan dapat memudahkan estimasi waktu tanam, panen, dan produksi. Sehingga perencanaan kebijakan pertanian lebih mudah di implementasikan di masyarakat (Laela Rahmi dan Nunik Rachmadianti)