JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
(Reading time: 3 - 6 minutes)

Penyemprotan pestisida nabati di lahan 1 hektare hanya 30 menit. 

Pesawat tanpa awak atau drone itu terbang rendah di area persawahan nan hijau. Baling-balingnya berputar cepat menyibak malai padi yang mulai bernas. Dengan arahan remot kontrol pesawat berukuran mini itu melaju sembari menyemprotkan pestisida. Cairan pestisida menyembur otomatis dari dua tangkai penyemprot. Dalam waktu kurang dari setengah jam pesawat sanggup menyelesaikan penyemprotan di lahan 1 hektare.

Peranti itu merupakan inovasi terbaru milik Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) di Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. Balingtan sengaja merancang drone khusus untuk menyemprotkan pestisida.

Teknologi mutakhir yang lahir pada 2015 itu memiliki kemampuan menyemprot 6 kali lebih cepat dibandingkan dengan penyemprotan manual.

Hemat tenaga

Dalam sekali terbang drone mampu mengudara selama 3 menit dengan membawa cairan pestisida sebanyak 5 liter. Sumber tenaga drone berasal dari baterai berkekuatan 2.200 mA. Dengan tenaga sebanyak itu drone mampu beroperasi selama 15 menit. Daya jelajahnya sejauh 500 meter. Drone berbobot 10 kg itu memiliki 8 baling-baling untuk menjaga keseimbangan selama terbang.

Di bagian bawah pesawat terdapai tangki penampung pestisida. Dua tangkai penyemprot yang dilengkapi nozel dan pompa terpasang di sisi kanan dan kiri. Sebuah kamera video terpasang untuk memantau kestabilan drone. Peranti itu beroperasi dengan bantuan dua operator. Operator pertama mengendalikan laju dan arah terbang drone. Adapun operator kedua bertugas menghidupkan sprayer.

Yang mengesankan saat drone diarahkan kembali menuju operator untuk pengisian ulang tangki pestisida maupun baterai maka drone akan terbang ke posisi terakhir penyemprotan. Dari titik akhir itu drone akan melanjutkan kembali penyemprotan. Kemampuan “mengingat” lokasi penyemprotan itu lantaran drone memiliki sistem navigasi berdasarkan global positioning system (GPS). Dengan begitu drone mampu menentukan akurasi titik awal, rute penerbangan, dan titik kembali.

Hanya dalam waktu 29 menit drone mampu menyemprot pestisida di lahan 1 hektare. Bandingkan dengan penyemprotan manual menggunakan sprayer pompa dan sprayer aki yang membutuhkan waktu hingga 175 menit atau 2,9 jam. Petani masih terbebani pula dengan biaya tenaga kerja semprot Rp70.000 per orang setiap hari—harga tenaga kerja saat ini di Kecamatan Jakenan.

Selain itu jumlah pestisida yang terpakai saat penyemprotan manual pun lebih banyak. Menurut peneliti muda di Balingtan, Rina Kartikawati, S.P., M.Agr., berdasarkan hasil pengamatan di Balingtan penyemprotan sehektare sawah dengan sprayer aki menghabiskan pestisida sebanyak 142,86 liter. Adapun penyemprotan dengan pompa menghabiskan pestisida 99,05 liter per hektare.

Ramah lingkungan

Menurut Kartikawati kebutuhan pestisida penyemprotan manual lebih besar. Sebab, kerap kali tercecer dan tidak tepat sasaran sehingga banyak pestisida yang terbuang. “Penyemprotan manual dengan tenaga manusia juga kurang memperhatikan kecepatan jalan,” katanya. Yang menarik drone penyemprot pestisida milik Balingtan berprinsip ramah lingkungan.

Ketua kelompok peneliti penanggulangan dan pencemaran lingkungan, Balingtan, Dr Elisabeth Sri Hayu Harsanti, S.P., M.Sc., menuturkan bahwa drone tidak disarankan untuk aplikasi pestisida kimia. Bila hal itu dilakukan maka peristiwa yang terjadi pada 1960 di Eropa akan kembali terulang. “Saat itu mereka menyemprot pestisida dalam jumlah sangat besar dari udara,” kata Harsanti.

Akibatnya musuh alami tanaman berkurang dan tanaman menjadi rentan terserang penyakit. Oleh karena itu, penggunaan drone pestisida milik Balingtan hanya untuk penyemprotan pestisida nabati. Cara itu ditempuh sebagai upaya pencegahan serangan hama dan penyakit. Namun, bila serangan semakin sering dan besar maka tidak menutup kemungkinan penyemprotan pestisida kimia menggunakan drone.

Tentu saja dengan mematuhi dosis anjuran dan aturan penyemprotan. Harsanti menuturkan, drone membutuhkan kecakapan operator agar beroperasi optimal. “Lantaran penyemprotan dilakukan di udara maka operator harus memperhatikan kondisi cuaca,” kata Harsanti. Penyemprotan sebaiknya dilakukan saat cuaca cerah dan kecepatan angin rendah. Idealnya penyemprotan dilaksanakan pada pagi hari sebelum pukul 09.00.

Biasanya operator akan menerbangkan drone setinggi 1 meter dari tajuk agar cairan pestisida jatuh tepat mengenai tanaman. Posisi operator dengan drone cukup jauh sehingga paparan pestisida bisa dikurangi. Bandingkan dengan penyemprotan manual, posisi penyemprot dengan pestisida sangat dekat. Boleh dibilang Balingtan merupakan instansi pertama yang menginisiasi drone pestisida. 

Kepala Balingtan, Dr. Asep Nugraha Ardiwinata menuturkan, drone penyemprot pestisida merupakan teknologi baru yang sangat berguna bagi pertanian di masa mendatang.

“Penggunaan drone sebagai alat semprot pestisida masih sangat baru di Indonesia,” katanya. Banyak petani yang belum mengenal teknologi itu. Masyarakat lebih mengenal drone kamera yang lazim digunakan untuk keperluan foto dan video. Selain memiliki kecepatan dan efektivitas penyemprotan yang tinggi, drone pestisida juga bisa menjadi solusi peningkatan hasil pertanian. Asep menuturkan drone bisa digunakan untuk semua jenis lahan. Khusus untuk lahan landai atau berbukit butuh kecakapan yang tinggi untuk menerbangkan drone.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BB SDLP) Dr. Ir. Dedi Nursyamsi M. Agr menuturkan kehadiran drone untuk pertanian sangat berguna. “Drone dapat digunakan untuk pemantauan serangan hama dan penyakit tanaman, penyemprotan pestisida, dan pupuk,” kata Dedi

Baru-baru ini drone digunakan untuk mengidentifikasi luas serangan wereng cokelat yang mewabah di beberapa sentra pertanian. “Dari pantauan tersebut kita bisa menentukan tindakan penanganan yang tepat,” tutur Dedi. BB SDLP membawahi 4 balai, termasuk Balingtan. Manfaat lain drone yakni untuk verifikasi data luasan tanaman.

Tenaga kerja

Bila penyemprotan selesai maka drone bisa dilipat sehingga mudah dibawa dan disimpan. Kemunculan drone juga memberikan warna baru di dunia pertanian. Pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor pekerjaan yang ketinggalan zaman. “Dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih kami berharap generasi muda tertarik pada sektor pertanian,” kata Asep, doktor Toksikologi Lingkungan alumnus Universitas Indonesia.

Kini sedikit sekali generasi muda yang berkeinginan bekerja di sektor pretanian. Fenomena itu juga terjadi di Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Warga setempat lebih tertarik untuk bekerja di industri pengolahan makanan. Oleh karena itu, menjelang musim tanam maupun panen perebutan tenaga kerja kerap terjadi. Dengan alasan itu pula Balingtan mendatangkan drone.

Apalagi mengingat luas lahan sawah Balingtan yang mencapai 13,8 hektare. Badan Pusat Statistik mencatat pada 2010 jumlah tenaga kerja yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian sebanyak 38,69 juta jiwa atau sekitar 35,76% dari total penyerapan tenaga kerja. Dari jumlah itu terdapat 11,5% tenaga kerja berumur 40—44 tahun.

Pada 2012 tenaga kerja yang tidak sekolah dan tamat sekolah dasar mencapai 74,5%. Kondisi itu sangat timpang jika dibandingkan dengan tenaga kerja yang bekerja di sektor industri dan jasa. Akibatnya pada 2014 hanya tersisa 35,76-juta jiwa atau 30,27% tenaga kerja yang masih bertahan di sektor pertanian. Penurunan pertumbuhan tenaga kerja paling besar tampak pada kelompok umur 15—29 tahun. Persentase penurunannya hingga 3,41% setiap tahun. Kehadiran teknologi seperti drone diharapkan mampu menarik tenaga kerja muda untuk menggeluti dunia pertanian. (Andari Titisari)