JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
(Reading time: 2 - 4 minutes)

Rumah tanam berbahan plastik dengan rangka bambu itu sekilas tampak sederhana. Namun, pemandangan di dalam rumah tanam seluas 500 m² sangat elok. Di sana berbaris seribu tanaman paprika yang sedang berbuah. Buah paprika samson dan solanor itu ranum berwarna merah dan kuning menyembul di antara dedaunan yang lebat. Usai panen buah berbobot 300 gram itu mampu bertahan hingga 14 hari.

Saat panen setiap tanaman menghasilkan hingga 920 gram buah. Kesuksesan itu berkat penggunaan larutan nutrisi racikan Balai Penelitian Tanah di Bogor, Provinsi Jawa Barat. Sudah setahun belakangan lembaga itu mengebunkan paprika secara hidroponik di lahan milik pekebun di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Tahan cendawan

Nutrisi hidroponik racikan Balittanah terbukti mampu memberikan hasil memuaskan. Balittanah membudidayakan hidroponik paprika menggunakan irigasi tetes. Media tanam berupa arang sekam. Air maupun nutrisi mengalir lewat instalasi berupa pompa, pipa polivinil klorida (PVC) standar beserta konektornya, tabung, serta konektor irigasi taman standar, dan tabung vinil biru maupun hitam.

Tanaman memperoleh pasokan nutrisi yang mencukupi setiap hari. Lantaran tanpa tanah tentu saja kandungan nutrisi harus terjamin. Itu sebabnya inovasi budidaya sangat dibutuhkan dalam berhidroponik. Sebelum menyemai petugas Balittanah menyiram benih dengan larutan AB mix—lazim sebagai sumber nutrisi. Penyemaian benih dalam tray kecil. Setelah 2 pekan bibit yang muncul dipindahkan ke polibag semai.

Selang satu bulan tanaman ditanam ke polibag berdiameter 12 cm. Satu polibag berisi 2 tanaman. Tanaman ditata rapi dalam rumah plastik dengan jarak 120 cm x 35 cm. Pupuk produksi Balittanah terdiri atas pupuk A dan pupuk B. Pupuk A mengandung unsur hara seperti NH4+, H2PO4-, K+, Ca²+, Mg²+, dan SO4²-. Adapun pupuk B mengandung Fe²+, Cu²+, Mn²+, Zn²+, MoO4²-, B4O7²-, dan Cl-. Kedua pupuk dilarutkan ke dalam 100 liter air.

Setiap tanaman memperoleh larutan itu melalui pipa sebanyak 1 liter per hari. Frekuensi penyiraman dibagi menjadi 5 kali, masing-masing 200 cc sekali siram. Apabila cuaca tidak terlalu panas penyiraman hanya 2—3 kali setiap hari. Bila cuaca terik penyiraman dilakukan 4—5 kali setiap hari. Lama penyiraman 4—5 menit. Saat tanaman berumur kurang dari 1 bulan pemberian larutan cukup 500—700 cc setiap hari jika cuaca panas. Jika hujan pemberian nutrisi bertambah hingga 1 liter setiap hari.

Berkat pupuk itu tanaman tahan terhadap serangan cendawan. Pekebun pun tidak terbebani sebab harga pupuk lebih murah. Lewat penyiraman tanaman memperoleh pasokan nutrisi setiap hari. Khusus untuk hidroponik formulasi nutrisi cair dipilih lantaran sesuai dengan prinsip dasar budidaya tanpa tanah.

Ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan petani sayuran hidroponik. Ketiganya adalah alkalinitas, electrical conductivity (EC), dan konsentrasi unsur tertentu. Dalam sistem hidroponik paprika yang dikembangkan oleh Balittanah nilai EC mencapai 3,5 MV. Adapun pH berkisar 6—7

Solusi

Hidroponik menjadi solusi jitu untuk memenuhi kebutuhan sayuran yang semakin tinggi. Teknik budidaya nirtanah itu memungkinkan pekebun untuk menanam sayuran tanpa khawatir ketersediaan lahan. Kini hidroponik juga menjadi pilihan pekebun untuk membudidayakan sayuran bernilai ekonomi tinggi seperti tomat, cabai, dan paprika. Sayuran premium itu menjadi primadona sejumlah restoran maupun hotel.

Budidaya sayuran hidroponik sudah umum dikenal oleh pekebun di Indonesia, terutama di Garut. Sayang kadang-kadang pekebun mengalami kendala. Contoh harga larutan hara yang relatif mahal, bahkan terkadang sulit untuk memperolehnya. Oleh karena itu, Balittanah mencari solusi dengan meracik formulasi nutrisi, khususnya paprika. Yang istimewa kualitas nutrisi lebih bagus dan jauh lebih murah.

Balittanah gencar mengembangkan inovasi teknologi hidroponik untuk peningkatan produktivitas pertanian. Jika diproduksi di rumah kaca dengan suhu yang terkontrol, pekebun dapat memasok sayuran di luar musim. Selain itu keuntungan budidaya hidroponik antara lain produk berkualitas, persiapan tanam dan penyiangan berkurang, nutrisi tersedia setiap saat, tidak membutuhkan tanah, dan penggunaan air lebih efisien.

Adapun kekurangan teknologi hidroponik antara lain membutuhkan modal cukup besar, menggunakan formulasi nutrisi cukup, ancaman hama dan penyakit, serta pangsa pasar terbatas. Namun, jika beragam aral itu teratasi, petani hidroponik berpeluang meraup laba. (Dr. Husnain, M.P., M.Sc. dan Dr. Linca Anggria, M.Sc., peneliti di Balai Penelitian Tanah).

 

Sumber : Trubus Agustus 2017