JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Terkini

Jagung, Pesantren, dan Upsus

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Percepatan luas tambah tanam jagung terus dilakukan di Kabupaten Sigi yang menjadi salah satu lumbung pangan Provinsi Sulawesi Tengah. Target luas tanam jagung di Kab. Sigi pada MT ASEP 2017  seluas 6.862 ha dengan realisasi tanam saat ini 3,475 ha yang setara 50,64 %. “Kita terus genjot untuk mencapainya karena Sigi telah ditetapkan menjadi salah satu kawasan jagung nasional,” kata Dr. Andi Baso Lompengeng Ishak, S.Pt. MP, kepala BPTP Balitbangtan, Sulawesi Tengah.

Menurut Andi, pemerintah telah menjalankan program Quick-Win Kabinet Kerja Pembangunan Pertanian 2015-2019 melalui penyediaan benih dengan Program UPSUS Pajale. Untuk jagung Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian ditugaskan menyediakan benih sumber varietas unggul baru (VUB) dengan preferensi tinggi di tingkat petani. “Untuk tahap awal kita lakukan penanaman dengan benih jagung Bima Uri,” kata Andi.

Pada tahun 2017 Badan Litbang Pertanian (BPTP Balitbangtan Sulawesi Tengah-Balit Sereal Maros) bekerjasama dengan Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Akhairat, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah, BPSB, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kab. Sigi dan didukung TNI melakukan pendampingan dan pengawalan sistem produksi benih jagung hibrida kepada petani di sekitar pondok pesantren di Kec. Dolo Kab. Sigi.

Awal pekan ini dilaksanakan gerakan tanam perbenihan jagung Bima Uri yang dihadiri Kepala Balitsereal Maros, Dr. Muhammad Azrai, SP.MP; Kepala BPTP Balitbangtan, Dr. Andi Baso Lompengeng Ishak, S.Pt. MP; Pimpinan Pondok Pesantren; Universitas Akhairat; Mahasiswa Universitas Tadulako; dan para santri. Menurut kepala Balitsereal salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai swasembada jagung adalah perbaikan mutu benih. “Kita telah produksi benih hibrida untuk mensuport pengembangan jagung hibrida di Sulawesi Tengah,” kata Muhammad Azrai.

Pada kesempatan tersebut Kepala BPTP Balitbangtan Sulawesi Tengah juga menyampaikan benih jagung Varietas Unggul Baru (VUB) Bima Uri merupakan produk anak bangsa yang perlu dikembangkan di seluruh Indonesia. “Generasi muda petani perlu mempelajari tata cara memproduksi benih yang baik  sehingga ke depan benih hibrida dapat selalu tersedia,” kata Andi. Acara ditutup dengan penanaman perbenihan jagung bima bri dengan terlebih dahulu menanam benih jantan, kemudian akan dilanjutkan dengan baris betina. Penanaman dilakukan sistem silang Tiga Jalur(STJ). (Risna, SP)

 

Padi di Tanah Tua Lebih Rentan Terserang Wereng Batang Cokelat

(Reading time: 2 - 3 minutes)

Riset para peneliti di Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat), Balitbang Pertanian, mengungkap setiap peningkatan suhu udara di atas rata-rata pada musim kemarau berpeluang memicu membludaknya serangan hama wereng batang cokelat alias (WBC). “Pada musim kemarau 2017 terjadi peningkatan kelembapan dan suhu di dalam tanah sehingga serangan WBC meningkat di sebagian besar lahan sawah yang tertanami padi,” kata Dr. Aris Pramudia, peneliti Balitklimat.

Demikian keterangan Aris menjawab berbagai laporan serangan WBC di berbagai daerah seperti di Subang, Cirebon, dan Indramayu, Jawa Barat; Cilacap, Jawa Tengah; Jombang, Jawa Timur; Gianyar, Bali.

Menurut Agus, petugas penyuluh lapangan (PPL) di Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, ada kecenderungan padi yang tumbuh di tanah masam (pH kurang dari 4) dan miskin bahan organik kondisinya lebih rusak terkena serangan WBC dibandingkan padi yang tumbuh di lahan mendekati netral (pH di atas 6) dan kaya bahan organik. “Ini baru pengamatan saya di lapangan, tetapi belum bisa dikonfirmasi kebenarannya,” kata Agus.

Fakta yang ditemukan Agus menarik karena sejauh ini belum ada data riset hubungan langsung pH tanah dengan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti WBC. Namun demikian, menurut Dr. Husnain, M.Sc, kepala Balai Penelitian Tanah, Bogor, pada tanah masam dan sangat masam ketersediaan unsur hara tidak optimal yang membuat pertumbuhan tanaman tidak optimal sehingga mudah terserang OPT. Tanah masam alias tanah tua juga cenderung telah mengalami desilikasi alias tercucinya silica dari sawah. Padahal, serapan silica padi 2 kali lebih tinggi dari serapan nitrogen.

“Silica telah diketahui sebagai unsur yang bertanggung jawab pada ketahanan padi terhadap serangan OPT,” kata Husnain. Silica memperkuat tubuh tanaman karena dinding sel padi yang mengandung silica menyebabkannya lebih keras. Daun padi menjadi lebih keras sehingga tidak mudah ditembus oleh tusukan mulut serangga. Dinding sel yang kaya silica juga mengandung HIPVs yang menarik musuh alami hama, dan mampu mengeluarkan enzim pertahanan seperti CAT, POD, SOD, dan ROS.

Menurut kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Bogor, Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr, perubahan iklim yang memicu ledakan hama seperti WBC harus segera diantisipasi dengan memperkuat daya tahan tanaman secara utuh.

Sebut saja dengan memperbaiki kesuburan tanah agar pertumbuhan tanaman optimal seperti pemberian bahan organik dan pupuk silica; menggunakan varietas tahan wereng batang cokelat seperti Inpari 18, Inpari 13, dan Inpari 33; pemasangan lampu perangkap serangga di sekitar pertanaman untuk memonitor keberadaan serangga; menanam bunga-bunga penghasil madu di sekitar sawah untuk menyediakan pakan musuh alami wereng.

Sementara menurut kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP), Dr. Haris Syahbuddin, DEA, temuan PPL di lapangan yang mengungkap tanah masam lebih rentan terkena serang WBC tersebut perlu diklarifikasi lagi di lokasi-lokasi lain di luar Cirebon yang terkena serangan WBC agar jumlah sampling dan potret masalahnya menjadi utuh. (Destika Cahyana)

Paradigma Baru: Sedikit Data Banyak Informasi

(Reading time: 1 - 2 minutes)

 

Data dan informasi sumberdaya lahan hasil penelitian kini semakin diburu oleh banyak pihak. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan (BBSDLP) sebagai penyedia data perlu menyusun strategi tepat untuk menjawab tantangan tersebut.

Strategi yang diambil BBSDLP berupa integrasi data arsip hasil penelitian seperti data tanah, iklim, dan pertanian lainnya yang dikelola pada suatu basisdata agar dapat terus digunakan dan dimanfaatkan untuk pembangunan nasional. Kunci integrasi tersebut adalah pemanfaatan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) yang mampu melakukan automatisasi proses pengumpulan data dan penyajian informasi dengan lebih maksimal.

Menurut Dr. Yiyi Sulaeman, peneliti dari Balai Besar Sumberdaya Lahan, karakteristik data sumberdaya lahan pertanian dirancang dengan mengadopsi konsep basisdata spasial atau geodatabase. Saat ini BBSDLP telah mengembangkan beberapa aplikasi yang memiliki fasilitas dan fungsi khusus yang berkaitan dengan pengelolaan, penelusuran, pemrosesan, dan diseminasi data dan informasi

Program, tersebut antara lain: 1) SIMADAS (Sistem Informasi Manajemen Data Sumberdaya Lahan) yang secara khusus dibuat untuk keperluan pengelolaan sumberdaya lahan meliputi data horizon tanah dan data hasil analisis kimia, 2) IndoSoilObs, merupakan program yang mengintegrasikan data lokasi titik pengamatan tanah yang disusun dalam suatu geodata-base berbasis ArcGSI, dan 3) IndoSoilMap, merupakan program untuk mengumpulkan data hasil pemetaan yang telah diharmonisasikan berdasarkan tema dari peta tersebut.

Pemrosesan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPKL (Sistem Penilaian Kesesuaian Lahan) yang secara khusus digunakan untuk membantu dalam evaluasi sumberdaya lahan untuk pengembangan komoditas pertanian. Aplikasi ini dibuat user friendly dan fleksibel agar memudahkan pengguna dalam memproses data. Pemanfaatan webGIS untuk mengembangkan informasi spasial ke masyarakat agar dapat diakses dimana saja dan kapan saja dikembangkan dalam SISULTAN. Sistem informasi ini kemudian dirancang agar data sumberdaya lahan pertanian di geovisualisasi.

Keberlanjutan ketersediaan data, kemudahan penelusuran, dan penyajian informasi yang mudah dipahami pengguna akan semakin menjadi isu dalam pengembangan data dan informasi. “Paradigma data geospasial untuk masyarakat dan paradigma yang harus dikembangkan adalah sedikit data, tetapi banyak informasi harus menjadi dasar dalam upaya pendayagunaan data. Selain itu pengembangan ini harus selalu disesuaikan dengan kondisi dan kemajuan teknologi,”ujar Yiyi. (Nunik)

Perhitungan Baru Produksi Padi Diuji di Seluruh Jawa

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Pemerintah terus berupaya memperbaiki metode perhitungan produksi padi di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) tengah menguji metode Kerangka Sampling Area (KSA) di seluruh Pulau Jawa kecuali DKI Jakarta dari Mei hingga Agustus 2017 mendatang. Ini untuk mengoptimalkan pengujian yang dilakukan sebelumnya di Indramayu dan Garut sejak 2015 lalu.

“Pengujian di 2 kabupaten tersebut belum optimal sehingga kami perluas di seluruh Jawa untuk menyempurnakan metode,” kata Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Adi Lumaksono mengatakan, BPS sudah melakukan uji coba metode penghitungan dengan kerangka sampling area (KSA) sejak tahun 2015.

Menurut Adi, akurasi KSA dinilai lebih baik dibandingkan dengan metode lama. Sebelumnya produksi padi dihitung berdasarkan perkalian luas panen—yang ditetapkan melalui pengamatan--dengan produktivitas ubinan. Sementara metode KSA memanfaatkan citra satelit, mensyaratkan pengecekan lapangan oleh petugas, dan menerapkan teknologi untuk verifikasi kondisi tanaman serta akurasi lokasi.

Adi berharap pengujian metode ini dapat diselesaikan tahun ini sehingga dapat dipakai untuk menghitung produktivitas padi pada 2018. Metode baru ini mesyaratkan pengecekan lapang oleh petugas. Sebab, citra hasil penginderaan jarak jauh dengan satelit belum memuat informasi jenis, usia, dan kondisi tanaman. Hamparan tanaman padi, misalnya, identik dengan tebu dan ilalang pada foto udara.

Menurut Dr. Rizatus Shofiyati, peneliti dari Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, metode KSA memang banyak berguna untuk penelitian pertanian berbasis GIS. Sasa—panggilan akrab Rizatus—juga menggunakan metode KSA untuk melakukan verifikasi standing crop dari citra MODIS. “Metode KSA adalah metode yang cepat, murah dan akurat” ujarnya.

Sementara itu, BPS juga menggelar survei untuk menghitung jumlah stok beras yang beredar di lapangan dan survei konsumsi masyarakat serta menemukan rata–rata konsumsi beras 114,8 kilogram per kapita per tahun. Perkalian rata–rata konsumsi per kapita dan jumlah penduduk akan menghasilkan angka konsumsi beras nasional. (Laela Rahmi/Sumber Kompas)

 

 

BBSDLP Siap Verifikasi Gambut

(Reading time: 2 - 3 minutes)

“Kalau kita jadi pejabat atau pegawai goblok, maka akan hancur Indonesia dikerjain para mafia nakal,” kata menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc.

Itu ungkapan kegeraman Siti saat bertemu Kepala Balai Besar Penelitian Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr, di hotel Fairmont, Jakarta (14/7) pekan lalu. Menurut Siti banyak mafia pengusaha nakal yang merusak hutan di lahan gambut dan berkelit bahwa mereka tak merusak gambut. Mereka berargumen bahwa ketebalan gambut di lahan milik mereka kurang dari 50 cm sehingga bukan dikategorikan sebagai lahan gambut.

Siti mengundang khusus Dedi sebagai ahli tanah. “Dulu waktu saya kuliah di IPB mengenal kantor Bapak Puslitanah, jadi saya ingin tahu bagaimana itu duduk perkaranya tentang tanah gambut dan bukan gambut agar mafia tak bisa lagi berkelit saat diminta pertanggungjawaban oleh pemerintah,” kata Siti.

Menurut Dedi, secara sederhana gambut dikategorikan sebagai lahan gambut dalam klasifikasi tanah bila ketebalannya di atas 50 cm. Bila ketebalan gambut kurang dari 50 cm, maka lahan tersebut tergolong tanah mineral bergambut. Tanah mineral di bawah lapisan gambut tipis tersebut dapat berupa liat atau pasir.

Namun demikian, pengklasifikasian—untuk menentukan lahan tersebut sebagai gambut atau bukan gambut—tidak bisa hanya dengan merujuk pada satu titik pengamatan. “Jangan langsung percaya bila mereka berkelit, karena yang harus diamati adalah kawasan agroekosistemnya sehingga butuh banyak titik observasi,” kata Dedi.

Apalagi menurut Dedi, banyak perusahaan—tambang, perkebunan, developer—yang membuka kawasan gambut dengan membuat kanal terbuka. Tujuannya untuk mendrainase air di kawasan gambut sehingga gambut mengering. “Bila sudah kering, terjadi subsidence alias amblas sehingga ketebalan gambut berkurang.

Di saat itulah mereka mengklaim lahan mereka yang semula gambut menjadi bukan gambut,” kata Dedi. Padahal, pembuatan kanal yang aman adalah kanal tertutup sehingga air tidak keluar dari kawasan agroekosistem gambut.

Melihat kompleksnya persoalan gambut yang sering diakali oleh mafia nakal, maka pada kesempatan itu Menteri LHK meminta bantuan BBSDLP untuk melakukan verifikasi lahan gambut bila mendapat keterangan dari perusahaan-perusahaan yang diduga nakal. “Tentu kita jangan percaya begitu saja laporan dari mereka. Bapak saya minta menerjunkan tim untuk memverifikasi langsung di lapangan,” kata Siti.

Di pihak lain BBSDLP bersedia membantu KLHK agar lahan gambut Indonesia dapat terjaga. “Kita siap menerjunkan tim survei ke lapangan untuk mengambil titik-titik pengamatan,” kata Dedi. Dari banyak titik pengamatan tersebut kemudian dapat ditentukan klasifikasi tanah tersebut sebagai gambut atau bukan gambut. Bila tergolong lahan gambut pun, sebetulnya lahan dapat dibagi zonasi seperti zona konservasi dan zona pemanfaatan. (Destika Cahyana)