JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Terkini

International Conference on Organic Agriculture in The tropic, UGM 2017 (Orgatrop 2017)

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Balai Penelitian Tanah (Balittanah), Badan Litbang Pertanian, Kementan menjadi salah satu institusi sebagai Panitia Penyelenggara kegiatan Orgatrop 2017 bersama-sama dengan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (UGM), Universitas Sebelas Maret, Solo (UNS), Universitas Pembangunan Nasional, Yogyakarta (UPN), dan Ghent University, Belgia  (UGent). Penyelenggaraan Orgatrop 2107 juga didukung oleh oleh the International Society of Organic Agriculture Research , Jerman (ISOFAR). Orgatrop 2017 diselenggarakan di Fakultas Pertanian, UGM selama 4 hari, mulai tanggal 21 Agustus 2017.

 

Konferensi dihadiri oleh 101 orang peserta nasional dan 71 orang peserta luar negeri dari 21 negara, baik dari Benua Asia, Eropa, Amerika, Afrika dan Australia. Peserta konferensi tersebut mencakup para peneliti dan ilmuwan, praktisi, akademisi, pejabat pemerintah dan LSM/NGO terkait dengan pertanian organik. Selama Orgatrop 2017 berlangsung dipresentasikan dan dibahas sebanyak 146 buah makaah yang dipresentasikan secara oral dan poster.

Presentasi makalah oral dibagi dalam bentuk Sesi Panel dan Sesi Paralel ( 3 ruang komisi) selama tiga hari, Senin – Rabu (21-23 Agustus 2017), sedangkan makalah poster disajikan pada hari pertama dan kedua masing-masing dalam dua sesi paralel (3 ruang komisi).

 

Pada konferensi tersebut Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi sebagai Kepala BBSDLP menyampaikan keynote speech dengan judul : Research and Policy on Organic Agriculture in Indonesia. Selain itu ada 4 buah makalah peneliti Balittanah yang juga dipresentasikan pada  konferensi tersebut, yakni:

Financial Analysis of Rice Organic Farming : A Case Study in Sragen Regency, Central Java (Irawan and Sri Rochayati), Social Economic and Biophysical Indicators of Vegetable Organic Farming: Lesson Learnt from Bangkit Merbabu Farmer’s Group in Semarang, Central Java (Irawan, Sri Rochayati, and Selly Salma), Application of Organic Fertilizer and Biofertilizer on Soil Bioat and Organic Vegetables Production (Wiwik Hartatik and Dia Setyorini), dan Nutrient Balance under Rice Organic Farming System Affected by Different Sources Organic Fertilizer (D. Setyorini dan Wiwik Hartatik). (Irawan dan Moch. Iskandar, 23 Agustus 2017).

 

Sumber : balittanah.litbang.pertanian.go.id

Data Lahan untuk Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

(Reading time: 2 - 3 minutes)

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah, Ir. Trie Iriany Lamakampali, MM, meminta 4 kepala dinas kabupaten di lingkup Provinsi Sulawesi Tengah segera menetapkan lahan yang termasuk dalam area Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B). Keempatnya adalah Kabupaten Poso, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, dan Kota Palu. “Dinas setempat harus segera mengusulkan agar areal PLP2B masuk ke dalam RTRW daerah,” kata Trie pada Pertemuan Teknis PLP2B awal Agustus lalu di Palu.

Menurut Trie, saat ini laju penurunan luas baku sawah di Sulawesi Tengah secara keseluruhan mencapai 3.544 ha per tahun. Data tersebut mengacu pada luas baku sawah pada 2013 yang masih mencapai 159.391 ha dan pada 2015 hanya 148.759 ha. Laju penurunan tertinggi adalah Sigi diikuti Poso dan Tolitoli. “Bila ini terus terjadi, maka krisis pangan akibat berkurangnya lahan sawah tinggal menghitung waktu. Kita tidak bisa mengelak bahwa ini adalah tanggung jawab pemerintah daerah yang ujung-ujungnya dinas pertanian,” kata Trie.

Pada tingkat provinsi upaya perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan tersebut telah dituangkan dalam Perda No.1 tahun 2015. Pada pasal 20 perda tersebut tertuang strategi pengendalian alih fungsi lahan dengan pembersian insentif di Sulawesi Tengah berupa: pembangunan infrastruktur pertanian; pembiayaan penelitian dan pengembangan benih dan   varietas unggul; kemudahan mengakses informasi dan teknologi; penyediaan sarana produksi pertanian; bantuan dana penerbitan sertifikat hak atas tanah pada lahan pertanian pangan berkelanjutan; dan/atau penghargaan bagi petani berprestasi tinggi.

“Kita meyakini bahwa lahan pertanian tersebut hak milik pribadi, tetapi pemerintah membutuhkan keberadaan lahan tersebut. Perda tersebut mengatur kontribusi yang dapat pemerintah berikan kepada pemilik lahan,” kata Trie. Berikutnya menurut Trie, pemerintah daerah kabupaten dimungkinkan untuk merevisi Perda RTRW sekaligus menyesuaikan dengan Perda yang dikeluarkan oleh provinsi. Dari 13 kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah, umumnya perda RTRW dikeluarkan pada periode 2011—2012 sehingga data luasan lahan pertanian masih yang lama.

Terkait upaya memperbarui data lahan pertanian pangan berkelanjutan tersebut, Dinas Provinsi Sulawesi Tengah meminta Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Kementerian Pertanian, untuk membantu menyediakan data tanah dan kesesuaian lahan di setiap kabupaten di Sulawesi Tengah. Menurut Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr, kepala BBSDLP, ketigabelas kabupaten di Sulawesi Tengah telah rampung dipetakan tanah dan kesesuaian lahannya sehingga dapat menjadi panduan pemerintah daerah menentukan lahan pertanian berkelanjutan.

“Dari peta tanah dan kesesuaian lahan tersebut, pemerintah daerah dapat menentukan lokasi lahan yang akan dipertahankan dengan tepat dan akurat,” kata Dedi. Menurut Dedi, peta-peta tersebut juga terbukti handal untuk mendukung program pemerintah pusat lain seperti pencapaian swasembada pangan, lumbung pangan berbasis ekspor di wilayah perbatasan, dan penyangga pangan kota besar. Pada acara temu teknis tersebut Dedi menyerahkan peta-peta tersebut kepada semua dinas pertanian di Provinsi Sulawesi Tengah. (Destika Cahyana

Peneliti di Kementan Menyelami Cara Berpikir Supra Rasional

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA sekaligus penulis buku Supra Rasional, Raden Ridwan Hasan Saputra memberikan pelatihan tentang konsep cara berpikir supra rasional. Pelatihan dihadiri sekitar 200 peserta, sebagian besar merupakan para peneliti di bidang pertanian, Selasa (15/8). Pelatihan ini dalam rangka meningkatkan kinerja di lingkup Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Balitbang Kementerian Pertanian.

Kepala BBSDLP Dedi Nursyamsi mengatakan secara umum, pelatihan ini merupakan salah satu program pembinaan mental yang bertujuan meningkatkan kinerja dengan pendekatan cara berpikir supra rasional. “Setelah menyimak sajian materi dari narasumber, menurut saya, gagasan ini sangat efektif untuk mengubah kerangka  berpikir para pegawai, ikhwal makna keikhlasan dalam bekerja dan berkarya," ujar Dedi Nursyamsi. 


Kesan mendalam dirasakan oleh salah satu peserta pelatihan. Subarja mengatakan empat puluh tahun saya bergabung di lembaga pemerintahan, baru kali ini dia mendapatkan bekal motivasi hidup yang sangat luar biasa. "Saya pun menjadi termotivasi untuk segera menerapkan konsep tersebut, karena betul sekali yang telah diungkapkan Bapak Ridwan HS, bahwa tabungan jiwa merupakan sesuatu yang esensial dan bermanfaat untuk kehidupan dunia bahkan akhirat," kata dia.

Ridwan Hasan Saputra mengatakan bahwa pelatihan di BBSDLP untuk memotivasi para peserta, khususnya para peneliti untuk   meningkatkan kinerja melalui cara berpikir supra rasional. 
"Selama ini kita selalu berpikir rasional sehingga inovasi cenderung berjalan linear, dengan kita berpikir supra rasional akan terjadi lompatan dalam inovasi khususnya di bidang pertanian. Sehingga akan terjadi percepatan  dalam memenuhi target-target yang ditentukan di Kementerian Pertanian. In sha Allah Swasembada pangan di Indonesia akan segera tercapai," kata  Ridwan HS.

 

Mentan Beri Tantangan kepada Tiga Profesor Riset

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan tantangan kepada tiga profesor riset yang baru saja dikukuhkan Senin (14/8).  Tiga profesor itu yaitu Prof Riset Dr Ir Didik Harnowo, MS; Prof Riset Dr Ir Dedi Nursyamsi, M Agr, dan Prof Riset Dr Ir I Nyoman Widiarta, M Agr.

Kepada Prof Didik Harnowo dan tim, tantangannya berupa memetakan upaya pengembangan industri hilir perbenihan kedelai, yang dapat menjamin ketersediaan dan keberlanjutan benih kedelai bermutu di tingkat petani. “Sekaligus membangun kelembagaan yang dapat menjaga upaya stablitas produksi di tingkat petani dan ke depan apa yang dihasilkan menjadi acuan ditjen tanaman pangan untuk upaya swasembada kedelai,” kata Amran melalui siaran pers yang diterima HARIAN NASIONAL, Senin. 

Pada pengukuhan itu, Didik memang menyuguhkan topik orasi dengan judul “Inovasi Teknologi Benih Kedelai untuk Memacu Pengembangan Industri Hilir Perbenihan”. Sementara kepada Dedi Nursyamsi yang menyuguhkan topik “Refomulasi Paket Pengendalian Penyakit Tungro Terpadu pada Tanaman Padi dalam Era Revolusi Hijau Lestari”,  Mentan memberikan tantangan berupa penerapan pengawalan teknologi yang Dedi buat. 

“Berikan pengawalan penerapan teknologi yang saudara hasilkan dalam paket Jarwo Super pada skala luas,” kata Amran. Tak hanya itu, mentan juga meminta dengan teknologi itu dapat memacu peningkatan produksi minimal 50 persen dari teknologi eksisting pada 75 persen luasan areal uji coba. “Serta merancang pengembangan atau replikasi di berbagai agro ekosistem sebagai basis pengembangan massal pada sentra produksi padi.”

Sementara untuk Nyoman Widiarta yang mengakat topik “Refomulasi Paket Pengendalian Penyakit Tungro Terpadu pada Tanaman Padi dalam Era Revolusi Hijau Lestari”, Mentan meminta penerapan P2T2RL skala luas diberi pengawalan terutama pada areal yang akhir - akhir ini mengalami outbreak seperti penyakit kerdil, rumput/kerdil hampa yang ditularkan wereng coklat.

“Selain itu saya minta juga menyusun road map  bagi penerapan P2T2RL dalam pengembangan Desa Mandiri Benih Padi, agar petani mampu memproduksi benih bermutu yang tahan virus,” ujar Amran. 

Mentan mengatakan, mendukung konsep Science Based Policy Making. Oleh karena itu dirinya  mendukung dan mendorong kegiatan penelitian yang hasilnya harus siap implementasi seperti Paket Teknologi Jarwo Super. “Saya minta setiap hasil penelitian dapat dikembangkan dalam bentuk kaji tindak dengan skala ribuan hektar,” ujarnya. 

 

Ramuan Baru Hara Hidroponik

(Reading time: 2 - 4 minutes)

Rumah tanam berbahan plastik dengan rangka bambu itu sekilas tampak sederhana. Namun, pemandangan di dalam rumah tanam seluas 500 m² sangat elok. Di sana berbaris seribu tanaman paprika yang sedang berbuah. Buah paprika samson dan solanor itu ranum berwarna merah dan kuning menyembul di antara dedaunan yang lebat. Usai panen buah berbobot 300 gram itu mampu bertahan hingga 14 hari.

Saat panen setiap tanaman menghasilkan hingga 920 gram buah. Kesuksesan itu berkat penggunaan larutan nutrisi racikan Balai Penelitian Tanah di Bogor, Provinsi Jawa Barat. Sudah setahun belakangan lembaga itu mengebunkan paprika secara hidroponik di lahan milik pekebun di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Tahan cendawan

Nutrisi hidroponik racikan Balittanah terbukti mampu memberikan hasil memuaskan. Balittanah membudidayakan hidroponik paprika menggunakan irigasi tetes. Media tanam berupa arang sekam. Air maupun nutrisi mengalir lewat instalasi berupa pompa, pipa polivinil klorida (PVC) standar beserta konektornya, tabung, serta konektor irigasi taman standar, dan tabung vinil biru maupun hitam.

Tanaman memperoleh pasokan nutrisi yang mencukupi setiap hari. Lantaran tanpa tanah tentu saja kandungan nutrisi harus terjamin. Itu sebabnya inovasi budidaya sangat dibutuhkan dalam berhidroponik. Sebelum menyemai petugas Balittanah menyiram benih dengan larutan AB mix—lazim sebagai sumber nutrisi. Penyemaian benih dalam tray kecil. Setelah 2 pekan bibit yang muncul dipindahkan ke polibag semai.

Selang satu bulan tanaman ditanam ke polibag berdiameter 12 cm. Satu polibag berisi 2 tanaman. Tanaman ditata rapi dalam rumah plastik dengan jarak 120 cm x 35 cm. Pupuk produksi Balittanah terdiri atas pupuk A dan pupuk B. Pupuk A mengandung unsur hara seperti NH4+, H2PO4-, K+, Ca²+, Mg²+, dan SO4²-. Adapun pupuk B mengandung Fe²+, Cu²+, Mn²+, Zn²+, MoO4²-, B4O7²-, dan Cl-. Kedua pupuk dilarutkan ke dalam 100 liter air.

Setiap tanaman memperoleh larutan itu melalui pipa sebanyak 1 liter per hari. Frekuensi penyiraman dibagi menjadi 5 kali, masing-masing 200 cc sekali siram. Apabila cuaca tidak terlalu panas penyiraman hanya 2—3 kali setiap hari. Bila cuaca terik penyiraman dilakukan 4—5 kali setiap hari. Lama penyiraman 4—5 menit. Saat tanaman berumur kurang dari 1 bulan pemberian larutan cukup 500—700 cc setiap hari jika cuaca panas. Jika hujan pemberian nutrisi bertambah hingga 1 liter setiap hari.

Berkat pupuk itu tanaman tahan terhadap serangan cendawan. Pekebun pun tidak terbebani sebab harga pupuk lebih murah. Lewat penyiraman tanaman memperoleh pasokan nutrisi setiap hari. Khusus untuk hidroponik formulasi nutrisi cair dipilih lantaran sesuai dengan prinsip dasar budidaya tanpa tanah.

Ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan petani sayuran hidroponik. Ketiganya adalah alkalinitas, electrical conductivity (EC), dan konsentrasi unsur tertentu. Dalam sistem hidroponik paprika yang dikembangkan oleh Balittanah nilai EC mencapai 3,5 MV. Adapun pH berkisar 6—7

Solusi

Hidroponik menjadi solusi jitu untuk memenuhi kebutuhan sayuran yang semakin tinggi. Teknik budidaya nirtanah itu memungkinkan pekebun untuk menanam sayuran tanpa khawatir ketersediaan lahan. Kini hidroponik juga menjadi pilihan pekebun untuk membudidayakan sayuran bernilai ekonomi tinggi seperti tomat, cabai, dan paprika. Sayuran premium itu menjadi primadona sejumlah restoran maupun hotel.

Budidaya sayuran hidroponik sudah umum dikenal oleh pekebun di Indonesia, terutama di Garut. Sayang kadang-kadang pekebun mengalami kendala. Contoh harga larutan hara yang relatif mahal, bahkan terkadang sulit untuk memperolehnya. Oleh karena itu, Balittanah mencari solusi dengan meracik formulasi nutrisi, khususnya paprika. Yang istimewa kualitas nutrisi lebih bagus dan jauh lebih murah.

Balittanah gencar mengembangkan inovasi teknologi hidroponik untuk peningkatan produktivitas pertanian. Jika diproduksi di rumah kaca dengan suhu yang terkontrol, pekebun dapat memasok sayuran di luar musim. Selain itu keuntungan budidaya hidroponik antara lain produk berkualitas, persiapan tanam dan penyiangan berkurang, nutrisi tersedia setiap saat, tidak membutuhkan tanah, dan penggunaan air lebih efisien.

Adapun kekurangan teknologi hidroponik antara lain membutuhkan modal cukup besar, menggunakan formulasi nutrisi cukup, ancaman hama dan penyakit, serta pangsa pasar terbatas. Namun, jika beragam aral itu teratasi, petani hidroponik berpeluang meraup laba. (Dr. Husnain, M.P., M.Sc. dan Dr. Linca Anggria, M.Sc., peneliti di Balai Penelitian Tanah).

 

Sumber : Trubus Agustus 2017