JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Terkini

Duet Sawit-Sapi Masa Depan Industri Perkebunan

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Masa depan pertanian Indonesia terletak pada duet budidaya tanaman dengan ternak. Demikian diungkapkan oleh Husnain, peneliti dari Balai Penelitian Tanah, Bogor, dalam Jurnal Sumberdaya Lahan Vo. 9 No.1 Tahun 2015. Pada sektor perkebunan duet tersebut dapat diterapkan pada integrasi sawit dengan sapi. Hal tersebut karena Indonesia berada di puncak bersama Malaysia menguasai pasar sawit dunia.

Sistem integrasi tanaman ternak ini dinilai sangat adaptif terhadap perubahan iklim karena dapat meningkatkan efisiensi faktor produksi yang semakin langka. Wahyuni et al (2012) mengatakan, integrasi tanaman ternak juga bersifat mitigatif terhadap emisi gas rumah kaca karena kompos dari sistem ini terbukti menghasilkan emisi gas metan yang rendah.

Limbah dari setiap tahapan produksi ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan bahan organik. Limbah ternak sapi berupa urin dan kotoran padat dapat digunakan sebagai sumber amelioran tanah sebagai sumber karbon (C), nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Hasil penelitian menunjukkan kandungan hara 1 ton kompos setara dengan 19,2 kg Urea, 10,86 TSP, dan 92,52 KCL dan dapat mensubstitusi pupuk anorganik setara lima pokok pohon kelapa sawit.

Petani kecil memanfaatkan pelepah sawit dan daun sawit sebagai pakan sapi yang sebagian sisanya kemudian dikembalikan sebagai bahan organik untuk tanah. Limbah padat dari sapi juga dapat dimanfaatkan untuk biogas guna memenuhi kebutuhan rumah tangga dan kelompok kecil. “Kompos yang berasal dari limbah biogas juga dapat kembali dibenamkan ke dalam tanah dan menjadi sumber amelioran tanah,” ungkap Husnain.

Sistem integrasi sawit-sapi dapat membuka peluang usaha dan lapangan kerja untuk pengelolaan limbah industri perkebunan kelapa sawit dan biogas dari kotoran ternak. Selain itu apabila sistem ini berjalan dengan baik maka diyakini dapat memperbaiki kondisi lingkungan sebagai penyumbang bahan organik dan mengurangi pencemaran lingkungan.

Pengembangan sektor pertanian melalui biodiversitas usaha tani diyakini dapat menjadi peluang membangkitkan perekonomian nasional. Kementerian Pertanian merekomendasikan konsep pertanian bioindustri di mana lahan pertanian tidak hanya dapat menghasilkan pangan tetapi juga produk turunan lainnya dengan prinsip reduce, reuse, dan recycle.

Sementara di sisi lain kebutuhan konsumsi sapi nasional yang terus meningkat dan industri kelapa sawit yang telah mapan sudah menjadi modal yang kuat untuk mengembangkan skema ini baik oleh petani kecil maupun perusahaan swasta,” ungkap Husnain. Selain itu, Direktorat Jenderal Produksi dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah merancang percepatan peningkatan populasi sapi potong melalui sistem ini. (Nunik Rachmadianti)

Teknik CT Scan untuk Diagnosa Tanah

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Kini teknologi CT Scan tak hanya digunakan untuk memeriksa otak manusia atau mengecek keamanan barang, tetapi juga digunakan untuk meneliti tanah. CT Scan dapat digunakan untuk menentukan sifat fisik tanah seperti jumlah ruang pori, ukuran pori, hingga tingkat kerapatannya. CT Scan juga dapat dipakai untuk memonitor pola pergerakan akar di dalam tanah.

Tanah sebagai media tumbuh tanaman memiliki peran penting untuk meningkatkan produktivitas tanaman, khususnya tanaman pangan yang saat ini gencar ditingkatkan produksinya agar mampu berswasembada.

Menurut Dr. Achmad Rachman, peneliti dari Balai Penelitian Tanah, BBSDLP, salah satu sifat tanah yang berhubungan erat sebagai dasar pertimbangan untuk pengelolaan lahan adalah jumlah pori tanah dan ukuran pori tanah. Parameter keduanya berperan penting untuk menduga pola perkembangan akar dan pola pergerakan air.

Sayang, menurut Rachman, teknologi yang ada saat ini untuk mengukurnya sering merusak objek tanah. “Dibutuhkan tekinologi yang cepat dan akurat untuk mengukur variabilitas pori tanah yang tinggi pada skala keruangan (spatial) maupun waktu (temporal) tanpa merusak obyek” ujar Rachman.

Menurut Jury et al (1991) metode yang umum digunakan dalam mengukur porositas tanah adalah dengan memprediksi dari kurva karakteristik air tanah, tensiometer, dan bobot isi tanah. “Namun metode tersebut hanya dapat menentukan distribusi ukuran pori dan volume total pori saja, tetapi tidak dapat menentukan secara spesifik lokasi, ukuran dan pola keruangan pori di dalam tanahnya” ujar Rachman.

Beruntung saat ini metode X-ray computed tomography (CT) scan yang digunakan dalam dunia kedokteran untuk mendiagnosa penyakit pasien dapat menjawab tantangan tersebut. “Kini teknik CT scan untuk penelitian tanah telah banyak dilakukan dan menujukkan hasil yang sangat baik.”

Ternyata metode CT scan ini dapat secara tepat mendeteksi pori tanah dan kerapatannya serta mampu mengkuantifikasikan diameter pori sampai ukuran sekecil 0.15 mm. Mekanisme kerjanya yaitu dengan menerapkan pemanfaatan sinar X (X-rays) yang dikembangkan sebagai alat bantu kedokteran untuk mendiagnosa penyakit pasien pada tanah.

Dengan metode tersebut bagian dalam tanah dapat terlihat dari bayangan yang terekam pada film. Pada teknik ini, tabung X-ray berputar mengelilingi obyek yang discan sehingga penampakan tanah semakin jelas tanpa memegang struktur tanah yang dapat menimbulkan kerusakan fisik.

Sebagai informasi teknologi X-rays ini pertama kali ditemukan oleh Wilhelm Conrad Roentgen pada tahun 1895. (Laela Rahmi)

Dua Langkah Optimalisasi Lahan Rawa Pasang Surut

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan beras karena pola konsumsi nasional menunjukkan beras merupakan konsumsi utama masyarakat Indonesia. “Bila kita sudah mampu swasembada beras, dapat dikatakan kita sudah berswasembada pangan karena pangan utama rakyat Indonesia beras,” kata Ani Susilawati, SP, MSi, peneliti dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa.

Lahan rawa pasang surut dapat digunakan menambah areal sawah untuk mendukung swasembada pangan nasional. Berbagai teknologi hasil penelitian dapat menjadi langkah optimasi lahan rawa pasang surut seperti diungkap Ani Susilawati, dkk dalam Jurnal Sumberdaya Lahan Vol.10 No.1 Tahun 2016.

Menurut Ani, lahan rawa di Indonesia umumnya berupa hamparan yang luas dengan jumlah air yang berlimpah serta memiliki topografi datar. “Ini sangat cocok dikembangkan untuk areal pertanian bila didukung dengan teknologi yang tepat,” ungkap Ani.

Penelusuran Ani, potensi lahan pasang surut yang sesuai untuk pertanian mencapai 14,94 juta ha yang dapat dibuka dan dimanfaatkan. Sebagian lahan tersebut telah diusahakan oleh masyarakat lokal maupun warga transmigrasi yang umumnya ditanami padi lokal berumur panjang sehingga hanya ditanam sekali setahun.

Meskipun demikian, banyak yang belum paham bahwa lahan rawa pasang surut pun dapat mengalami kekeringan terutama saat musim kemarau. Dengan demikian teknologi pengelolaan air wajib diterapkan bila ingin meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) pada lahan pasang surut sehingga air tetap tersedia saat kemarau.

“Teknologi yang tergolong baru berupa pengelolaan air dengan irigasi fero cement dan penggunaan varietas unggul umur pendek yang produktivitasnya tinggi,” kata Ani. Fero cement adalah teknologi beton tipis yang diisi dengan anyaman kawat berukuran kecil. Jaringan irigasi yang dibangung dengan teknologi tersebut bersifat kokoh tetapi lentur menahan volume air yang kadang berdebit kecil, rendah, dan tinggi.

Pengelolaan air diperlukan untuk mengatur kondisi ketinggian air, mengurangi kemasaman tanah, mencegah oksidasi pirit, mencegah banjir, dan mengatasi senyawa racun pada zona perakaran. Hitung-hitungan Ani, bila kombinasi kedua teknologi itu diterapkan maka Indonesia dapat memperoleh tambahan produksi sekitar 2,44 juta ton gabah per tahun.

Namun demikian, besarnya potensi pengembangan lahan rawa pasang surut harus dipahami komprehensif. Pengembangan teknologi dan teknis yang diterapkan harus terjangkau secara ekonomis oleh masyarakat lokal. Pencapaian optimalisasi tersebut dapat dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan dengan memperkuat keterlibatan setiap sektor pertanian. (Nunik Rachmadianti)

9 Inovasi Teknologi Lahan Kering Masam

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Lahan yang banyak dimanfaatkan di Indonesia untuk pertanian adalah lahan kering masam. Maksudnya lahan kering dengan pH tanah kurang dari 7. Secara nasional sebaran lahan kering masam tersebut sangat dominan untuk pengembangan tanaman pangan dan tanaman tahunan.

Namun demikian, menurut Dr. Irawan, peneliti Balai Penelitian Tanah, BBSDLP, produktivitas lahan kering masam masih rendah dibandingkan dengan potensinya. “Butuh optimalisasi lahan agar dapat menjadi penopang utama dan prioritas pembangunan pertanian ke depan,” katanya.

Menurut Irawan, optimalisasi dapat dilakukan dengan program intensifikasi yang didukung penerapan inovasi teknologi sehingga tercapai peningkatan produktivitas dan indeks pertanaman (IP).

Saat ini inovasi teknologi pengelolaan lahan kering masam telah banyak dihasilkan. Sebut saja teknologi pengayaan unsur P dan K, teknik pemberian kapur untuk mengatasi kemasaman tanah dan keracunan alumunium, teknologi konservasi tanah berupa sistem olah tanah konservasi, pemanfaatan mulsa, konservasi secara vegetates. Sementara untuk pengelolaan air di lahan kering terdapat teknik panen hujan dan aliran permukaan, teknologi irigasi dam parit, serta teknologi konservasi air.

Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) melalui Balai Penelitian Tanah juga sudah menghasilkan teknologi yang mendukung pemanfaatan lahan kering berupa Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK). Yaitu seperangkat alat yang dirancang untuk mengukur kadar P, K, C-Organik, pH dan kebutuhan kapur di lahan kering yang dapat dibawa ke lapangan dengan mudah.

Dengan alat tersebut para petani dan penyuluh dapat dengan mudah mengetahui status hara tanah dan dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman dengan cepat, sehingga produktivitas tanaman di lahan kering masam dapat ditingkatkan. (Laela Rahmi)

Posko Bersama TNI Pastikan Percepatan Luas Tanam

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Ada yang berbeda pada hamparan sawah di 13 kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah pada awal Juni 2017 ini. Kini di setiap titik kecamatan terdapat posko dengan spanduk atau baliho bertuliskan: ‘Posko Percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) Koramil A/Kec. A.’ Di belakang posko terlihat hamparan sawah yang baru ditanam, masa vegetative, generative, atau siap panen.

“Itu tenda-tenda posko bersama TNI,” kata Staf Ahli Menteri Pertanian, Dr. Ir. Mat Syukur, MS menjelaskan menjamurnya posko-posko TNI di setiap kecamatan yang menjadi dampingan Koramil setempat. Menurut Syukur, posko tersebut didirikan agar masyarakat memahami di lapangan sedang terjadi akselerasi luas tambah tanam yang dilakukan Pemerintah Kabinet Kerja Joko Widodo dengan pelaksana petani yang didampingi Kementerian & Dinas Pertanian serta TNI.

Kini di musim tanam April—September 2017 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah mentargetkan setiap hari terjadi penanaman minimal 1.000 ha per hari. “Ini untuk memastikan Sulawesi Tengah mampu mencapai target LTT tahun ini,” kata Syukur pada Pertemuan Teknis dalam Rangka Pencapaian Sasaran Luas Tambah Tanam (LTT) di Palu, Sulteng, kemarin (13/6).

Menurut Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr di posko-posko khusus tersebut juga ditempatkan satgas air dan juga pelayanan konsultasi OPT bagi petani. “Intinya kita ingin memastikan negara benar-benar hadir mendampingi petani mencukupi kebutuhan pangan di wilayahnya masing-masing,” kata Dedi.

Petani, terutama di wilayah yang rawan, memang membutuhkan peran para petugas di lapangan untuk membantu memecahkan persoalan di lahan. Sebut saja para petani di wilayah Tolitoli dan Buol yang baru-baru ini baru saja terkena musibah banjir. Sebut saja di Tolitoli banjir merendam sawah di 4 kecamatan sementara di Buol merendam sawah di 2 kecamatan.

Untuk merespon hal tersebut kini Badan Ketahanan Pangan tengah menyediakan anggaran cadangan dalam bentuk beras bagi petani yang sawahnya terbukti terkena dampak banjir.

Pada pertemuan teknis tersebut juga Mat Syukur mengapresiasi kinerja TNI yang serius melakukan penyerapan gabah dari lahan, pemukiman, maupun penggilingan. “Dari data yang masuk serapan gabah telah mencapai 30% dari target,” kata Syukur. Jumlah itu setara 13.028 ton dari target 42.160 ton. (Destika Cahyana)