JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Terkini

Babinsa Kalahkan Danrem

(Reading time: 2 - 3 minutes)

“Tugas Babinsa jauh lebih berat dari Danrem atau Dandim,” kata Kolonel Inf M. Saleh Mustafa, Komandan Korem 132 Tadulako, di hadapan para Babinsa se-Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pekan lalu. Babinsa, menurut Saleh, berinteraksi langsung dengan masyarakat bawah sehingga harus menguasai ilmu sosiologi praksis. Bahkan, Babinsa juga harus paham luas sawah, luas tanam, dan luas panen di wilayahnya.

Di masa kini Babinsa benar-benar sosok yang multitalenta dan multidisiplin. “Kemampuan Danrem dan Dandim kalah oleh Babinsa. Danrem dan Dandim paling hanya jalan-jalan ngecek sana, ngecek sini memastikan semuanya berjalan lancar,” kata Saleh.  

Menurut Saleh, Babinsa di Sulawesi Tengah wajib paham sektor pertanian karena pertanian yang memberikan peringkat pertama perekonomian desa. “Bila ingin desa aman, maka pertanian di desa harus maju,” kata Saleh. Musababnya, keamanan hakiki bukan berarti tidak ada pencurian, tidak ada perampokan, dan tidak ada pemberontakan. Keamanan hakiki ialah ketika ada kedamaian di hati tanpa iri hati dan prasangka pada warga desa dan warga negara.

“Kedamaian di hati baru terwujud bila pangan warganya tercukupi. Itu dulu yang pertama,” kata Saleh. Dengan demikian, TNI di wilayah Sulawesi Tengah wajib mendukung semua program Kementerian Pertanian agar lumbung pangan daerah bertumpu pada desa yang berdaulat pangan. Saat ini 3 program utama yang harus dilakukan adalah serap gabah (Sergab); monitoring dan pelaporan luas tambah tanam (LTT) padi, jagung, dan kedelai; dan cetak sawah.

“Dengan kata lain, ketahanan pangan adalah pondasi dasar dari ketahanan bangsa yang menjadi tugas TNI,” kata Saleh. Menurut Saleh, beruntung saat ini Provinsi Sulawesi Tengah berada pada kondisi surplus beras sehingga dapat menjual hasil panen pangan hingga ke provinsi tetangga. Namun demikian, kondisi tersebut jangan membuat terlena karena setiap saat bencana alam atau paceklik dapat terjadi secara tiba-tiba.

“Di sinilah peran Bulog untuk menyimpan cadangan beras. Bila terjadi bencana, paceklik, atau operasi pasar, maka beras Bulog inilah yang dikucurkan ke masyarakat,” kata Saleh. Kini TNI dan Bulog ditargetkan untuk menyerap gabah 100.000 ton sepanjang 2017. Saleh meminta kerelaan pedagang atau petani untuk menjual 15% volume ke Bulog meskipun harga yang ditawarkan Bulog lebih rendah ketimbang harga pasar.

Contohnya tahun lalu harga beras di pasaran mencapai Rp7.500—Rp7.800 per kg, sementara saat panen raya Rp7.400. Namun, Bulog hanya mengambil dengan harga Rp7.200 per kg. “Anggap saja membayar zakat, tetapi zakatnya tetap kita beli,” kata Saleh. Kerelaan tesebut dibutuhkan karena memang sebenarnya pemerintah telah membantu petani melalui subsidi pupuk dan perbaikan jaringan irigasi sehingga sawah dapat terairi. 

Menurut Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor, tekad TNI untuk turut membantu mewujudkan kedaulatan pangan di Sulawesi Tengah, patut diapresiasi oleh segenap insan pertanian di setiap level hirarki. “Seringkali saya telpon anggota TNI untuk urusan pangan di tengah malam, mereka selalu respon meskipun sudah tertidur lelap. Bila tidak terangkat, mereka yang segera telpon begitu mengetahui ada yang menghubungi,” kata Dedi.

Spirit yang tak terbatas hanya pada jam kerja tersebut, menurut Dedi, harus dicontoh segenap insan pertanian dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten, hingga kecamatan. Bila spirit dan tanggung jawab untuk mewujudkan kedaulatan pangan tersebut dijaga terus menerus, maka tekad mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia di masa depan bukan mimpi di siang bolong. “Bila Babinsa dan penyuluh sudah berduet, maka lumbung pangan masa depan gampang dikejar,” kata Dedi. (Destika Cahyana)

Dua Strategi Babe

(Reading time: 1 - 2 minutes)


Gonjang-ganjing bawang merah dan cabe yang langka belakangan ini ternyata merupakan fenomena tahunan yang telah terjadi sejak 5 tahun silam. “Setiap tahun kita defisit 50.000 ha pada Februari hingga April. Itu setara dengan luas tanam 5.000 ha.”  papar Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Dr. Ir. Hardiyanto, M.Sc pada rapat koordinasi peningkatan produksi bawang merah dan cabe merah pada off season, pekan silam.

Sepanjang November dan Desember 2016 juga terjadi defisit bawang merah sebanyak 21.500 ton atau setara 2.150 ha.  Menurut Hardiyanto, angka-angka tersebut merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) selama 2012—2015. Sedangkan defisit produksi cabe merah terjadi pada Oktober hingga Desember sebesar 8.500 ton atau setara luas tanam 1.700 ha. “Fluktuasi produksi terjadi karena kebanyakan petani menanam tergantung musim,” kata Hardiyanto.

Rapat menyimpulkan upaya penanggulangan jangka pendek kekurangan produksi bawang merah dan cabe merah dapat diatasi melalui peningkatan luas tanam di lahan kering eksisting dan peningkatan provitas di luar sentra utama Brebes.



Sebut saja di Kabupaten Bima, Nganjuk, Bojonegoro, Solok, Garut, Majalengka, Cirebon, Enrekang, dan Luwu untuk peningkatan produksi bawang merah. Sementara Kabupaten Tuban, Batubara, Sukabumi, Temanggung, Karo, Tapanuli Utara, dan Brebes untuk peningkatan produksi cabe merah di luar sentra produksi Garut.

Sedangkan untuk jangka panjang perlu dilakukan pengembangan sentra-sentra produksi baru berdasarkan potensi kesesuaian lahan, aksesibilitas, dan mobilitas yang mudah dijangkau. “Data kesesuaian lahan yang dibuat oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) dapat menjadi acuan untuk menentukan wilayah baru,” kata Kepala BBSDLP, Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr. (Laela Rahmi)

Catatan: Babe: Bawang Merah dan Cabe

Tiga Kunci dari Presiden

(Reading time: 2 - 3 minutes)

Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo, menyodorkan 3 kunci untuk membangun pertanian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kedaulatan pangan. Kunci pertama dari 3 kunci tersebut berasal dari pemikiran para peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. “Yang pertama urusi air. Mulai dari irigasi dan waduk yang saat ini 52% rusak,” kata Presiden di hadapan pejabat di lingkungan kementerian pertanian dan dinas pertanian yang berasal dari seluruh Indonesia pada Rapat Kerja Nasional Pertanian, awal Januari 2017.

Kunci tersebut, menurut Joko Widodo, tak bisa digunakan oleh Menteri Pertanian seorang diri untuk mewujudkannya, tetapi harus digunakan secara berduet. “Ini tugas duet dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum. Bila duetnya gagal, maka kunci tersebut tak bisa digunakan,” kata Joko Widodo. Toh, Presiden yakin duet Menteri Pertanian akan berhasil karena pada duet-duet sebelumnya telah berhasil dilakukan kementerian pertanian.

Sebut saja duet Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan untuk menstabilkan harga dan menjamin pasokan beras. Duet lain juga dilakuan dengan baik oleh Menteri Pertanian dengan Panglima TNI dalam mendorong keberhasilan program upaya khusus (Upsus) terutama terkait penambahan luas tanam. “Kita jangan menuntut banyak dalam 2 tahun pertama ini, tapi saya yakin pada tahun ketiga dan keempat semua terobosan yang diupayakan Kementerian Pertanian akan berhasil dengan baik,” kata Presiden.

Menurut Presiden, Indonesia memiliki anugerah berupa air yang melimpah, tetapi belum bisa mengelola dengan baik. Padahal, air merupakan kunci utama untuk meningkatkan produksi pertanian Untuk mengelola air yang berlimpah tersebut Presiden menggunakan rekomendasi dari riset di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian berupa embung untuk memanen air hujan. “Data yang saya terima saat ini terdapat 3.000-4.000 embung berbagai ukuran di Indonesia. Jumlah ini harus diperbanyak,” kata alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada itu.

Presiden lantas menugaskan Kementerian Pertanian dan Kementerian PU untuk membangun 30.000 embung pada 2017. “Bila pembangunan embung dan perbaikan irigasi serta waduk selesai, maka air akan mengalir ke sawah-sawah untuk meningkatkan produksi pertanian,” kata Presiden. Terkait hal tersebut Menteri Pertanian telah menugaskan peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian untuk mensinergiskan hasil observasi dan identifikasi wilayah yang cocok untuk pembuatan embung dengan Kementerian PU sebagai eksekutor.

Menurut Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr, riset untuk memanen air hujan di saat air melimpah untuk digunakan di saat musim kemarau telah dikuasai. Para peneliti telah membuat desain embung dari yang paling sederhana hingga prototype modern. “Saat ini embung masih terbuka, tetapi di masa depan embung bisa saja tertutup sehingga area bagian atas dapat dimanfaatkan seperti di negara maju. Bisa saja di atas embung ada pertokoan sehingga kompetisi penggunaan lahan dapat dihindari,” kata Dedi.

Selain kunci yang disodorkan BBSDLP, Presiden menyebut 2 kunci lain untuk membangun pertanian Indonesia yaitu clustering sentra pertanian di sebuah wilayah agar pengelolaannya lebih mudah. “Satu wilayah cukup diberi mandat untuk mengembangkan 1 komoditas sehingga segala dukungan pemerintah dapat terarah,” kata Presiden. Kunci terakhir ialah mengkorporasikan beberapa petani dalam skala ekonomi yang layak sehingga petani dapat sejahtera. (Destika Cahyana)

Kunjungan Mentan ke Laboratorium BBSDLP

(Reading time: 1 minute)

Menteri Pertanian, Dr. Andi Amran Sulaiman, setelah membuka Raker Balitbangtan pada 5 Juni 2015, berkunjung ke Laboratorium Kimia Tanah, Balittanah. Dalam kunjungannya, beliau menyampaikan agar semua hasil inovasi teknologi Balitbangtan segera dilisensi dan disebarluaskan

pada masyarakat. Selain itu, beliau menyarankan agar mengundang media massa dalam mensosialisasikan teknologi inovasi agar dapat diterima masyarakat luas. Diharapkan produk hasil inovasi dan teknologi Balitbangtan dapat bersaing secara kualitas dan kuantitas di masyarakat.

 

Pekan Lingkungan dan Kehutanan Indonesia 2015

(Reading time: 1 minute)


Pekan Lingkungan dan Kehutanan Indonesia 2015 (PLKI 2015) diselenggarakan di Jakarta Convention Center, pada tanggal 18 s/d 21 Juni 2015. Acara yang dibuka oleh wakil presiden ini merupakan rangkaian dari acara Hari Lingkungan Hidup tanggal 5 Juni 2015 yang sebelumnya telah dilaksanakan di Istana Bogor. Dengan tema utama “Mimpi dan Aksi bersama Untuk Keberlanjutan Kehidupan di Bumi” acara ini diikuti oleh instansi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, Perusahaan Swasta Nasional dan Multinasional, Badan dan Organisasi Lingkungan Hidup serta pemerhati lingkungan.

Pada gelaran PLKI 2015 ini Kementerian Pertanian diwakili oleh Badan Litbang Pertanian, Dirjen Hortikultura, dan Sekretariat Kementerian yang mendiseminasikan berbagai inovasi tekonologi pertanian seperti perangkat uji, pakan ternak rendah emisi, serta berbagai macam publikasi yang terkait dengan perubahan iklim dan lingkungan. Mulai dari pengunjung umum, pelajar, hingga mahasiswa mengunjungi stand Balitbangtan untuk mendapatkan informasi mengenai inovasi teknologi yang dikembangkan oleh Balitbangtan.