JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Terkini

Dua Langkah Optimalisasi Lahan Rawa Pasang Surut

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan beras karena pola konsumsi nasional menunjukkan beras merupakan konsumsi utama masyarakat Indonesia. “Bila kita sudah mampu swasembada beras, dapat dikatakan kita sudah berswasembada pangan karena pangan utama rakyat Indonesia beras,” kata Ani Susilawati, SP, MSi, peneliti dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa.

Lahan rawa pasang surut dapat digunakan menambah areal sawah untuk mendukung swasembada pangan nasional. Berbagai teknologi hasil penelitian dapat menjadi langkah optimasi lahan rawa pasang surut seperti diungkap Ani Susilawati, dkk dalam Jurnal Sumberdaya Lahan Vol.10 No.1 Tahun 2016.

Menurut Ani, lahan rawa di Indonesia umumnya berupa hamparan yang luas dengan jumlah air yang berlimpah serta memiliki topografi datar. “Ini sangat cocok dikembangkan untuk areal pertanian bila didukung dengan teknologi yang tepat,” ungkap Ani.

Penelusuran Ani, potensi lahan pasang surut yang sesuai untuk pertanian mencapai 14,94 juta ha yang dapat dibuka dan dimanfaatkan. Sebagian lahan tersebut telah diusahakan oleh masyarakat lokal maupun warga transmigrasi yang umumnya ditanami padi lokal berumur panjang sehingga hanya ditanam sekali setahun.

Meskipun demikian, banyak yang belum paham bahwa lahan rawa pasang surut pun dapat mengalami kekeringan terutama saat musim kemarau. Dengan demikian teknologi pengelolaan air wajib diterapkan bila ingin meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) pada lahan pasang surut sehingga air tetap tersedia saat kemarau.

“Teknologi yang tergolong baru berupa pengelolaan air dengan irigasi fero cement dan penggunaan varietas unggul umur pendek yang produktivitasnya tinggi,” kata Ani. Fero cement adalah teknologi beton tipis yang diisi dengan anyaman kawat berukuran kecil. Jaringan irigasi yang dibangung dengan teknologi tersebut bersifat kokoh tetapi lentur menahan volume air yang kadang berdebit kecil, rendah, dan tinggi.

Pengelolaan air diperlukan untuk mengatur kondisi ketinggian air, mengurangi kemasaman tanah, mencegah oksidasi pirit, mencegah banjir, dan mengatasi senyawa racun pada zona perakaran. Hitung-hitungan Ani, bila kombinasi kedua teknologi itu diterapkan maka Indonesia dapat memperoleh tambahan produksi sekitar 2,44 juta ton gabah per tahun.

Namun demikian, besarnya potensi pengembangan lahan rawa pasang surut harus dipahami komprehensif. Pengembangan teknologi dan teknis yang diterapkan harus terjangkau secara ekonomis oleh masyarakat lokal. Pencapaian optimalisasi tersebut dapat dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan dengan memperkuat keterlibatan setiap sektor pertanian. (Nunik Rachmadianti)

9 Inovasi Teknologi Lahan Kering Masam

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Lahan yang banyak dimanfaatkan di Indonesia untuk pertanian adalah lahan kering masam. Maksudnya lahan kering dengan pH tanah kurang dari 7. Secara nasional sebaran lahan kering masam tersebut sangat dominan untuk pengembangan tanaman pangan dan tanaman tahunan.

Namun demikian, menurut Dr. Irawan, peneliti Balai Penelitian Tanah, BBSDLP, produktivitas lahan kering masam masih rendah dibandingkan dengan potensinya. “Butuh optimalisasi lahan agar dapat menjadi penopang utama dan prioritas pembangunan pertanian ke depan,” katanya.

Menurut Irawan, optimalisasi dapat dilakukan dengan program intensifikasi yang didukung penerapan inovasi teknologi sehingga tercapai peningkatan produktivitas dan indeks pertanaman (IP).

Saat ini inovasi teknologi pengelolaan lahan kering masam telah banyak dihasilkan. Sebut saja teknologi pengayaan unsur P dan K, teknik pemberian kapur untuk mengatasi kemasaman tanah dan keracunan alumunium, teknologi konservasi tanah berupa sistem olah tanah konservasi, pemanfaatan mulsa, konservasi secara vegetates. Sementara untuk pengelolaan air di lahan kering terdapat teknik panen hujan dan aliran permukaan, teknologi irigasi dam parit, serta teknologi konservasi air.

Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) melalui Balai Penelitian Tanah juga sudah menghasilkan teknologi yang mendukung pemanfaatan lahan kering berupa Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK). Yaitu seperangkat alat yang dirancang untuk mengukur kadar P, K, C-Organik, pH dan kebutuhan kapur di lahan kering yang dapat dibawa ke lapangan dengan mudah.

Dengan alat tersebut para petani dan penyuluh dapat dengan mudah mengetahui status hara tanah dan dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman dengan cepat, sehingga produktivitas tanaman di lahan kering masam dapat ditingkatkan. (Laela Rahmi)

Posko Bersama TNI Pastikan Percepatan Luas Tanam

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Ada yang berbeda pada hamparan sawah di 13 kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah pada awal Juni 2017 ini. Kini di setiap titik kecamatan terdapat posko dengan spanduk atau baliho bertuliskan: ‘Posko Percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) Koramil A/Kec. A.’ Di belakang posko terlihat hamparan sawah yang baru ditanam, masa vegetative, generative, atau siap panen.

“Itu tenda-tenda posko bersama TNI,” kata Staf Ahli Menteri Pertanian, Dr. Ir. Mat Syukur, MS menjelaskan menjamurnya posko-posko TNI di setiap kecamatan yang menjadi dampingan Koramil setempat. Menurut Syukur, posko tersebut didirikan agar masyarakat memahami di lapangan sedang terjadi akselerasi luas tambah tanam yang dilakukan Pemerintah Kabinet Kerja Joko Widodo dengan pelaksana petani yang didampingi Kementerian & Dinas Pertanian serta TNI.

Kini di musim tanam April—September 2017 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah mentargetkan setiap hari terjadi penanaman minimal 1.000 ha per hari. “Ini untuk memastikan Sulawesi Tengah mampu mencapai target LTT tahun ini,” kata Syukur pada Pertemuan Teknis dalam Rangka Pencapaian Sasaran Luas Tambah Tanam (LTT) di Palu, Sulteng, kemarin (13/6).

Menurut Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr di posko-posko khusus tersebut juga ditempatkan satgas air dan juga pelayanan konsultasi OPT bagi petani. “Intinya kita ingin memastikan negara benar-benar hadir mendampingi petani mencukupi kebutuhan pangan di wilayahnya masing-masing,” kata Dedi.

Petani, terutama di wilayah yang rawan, memang membutuhkan peran para petugas di lapangan untuk membantu memecahkan persoalan di lahan. Sebut saja para petani di wilayah Tolitoli dan Buol yang baru-baru ini baru saja terkena musibah banjir. Sebut saja di Tolitoli banjir merendam sawah di 4 kecamatan sementara di Buol merendam sawah di 2 kecamatan.

Untuk merespon hal tersebut kini Badan Ketahanan Pangan tengah menyediakan anggaran cadangan dalam bentuk beras bagi petani yang sawahnya terbukti terkena dampak banjir.

Pada pertemuan teknis tersebut juga Mat Syukur mengapresiasi kinerja TNI yang serius melakukan penyerapan gabah dari lahan, pemukiman, maupun penggilingan. “Dari data yang masuk serapan gabah telah mencapai 30% dari target,” kata Syukur. Jumlah itu setara 13.028 ton dari target 42.160 ton. (Destika Cahyana)

Cerdas Gunakan Jerami dan Varietas Unggul Agar Emisi GRK Rendah

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Program intensifikasi dilakukan untuk menjamin ketersdiaan pangan secara berkelanjutan. Namun demikian, intensifikasi harus dilakukan dengan tepat agar ramah lingkungan. Sebut saja pemberian bahan organik yang tidak tepat dan pemilihan varietas unggul yang sembarangan dapat meningkatkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sehingga mengganggu lingkungan.

Kajian pengaruh jerami padi dan varietas unggul baru terhadap emisi GRK sangat perlu dan penting dilakukan. Hal ini diungkapkan Nana Sutrisna, dkk dalam Jurnal Tanah dan Iklim Vol. 40 No.2 Tahun 2016. Penelitian ini dilakukan untuk mempertimbangkan kondisi spesifik lokasi di wilayah Jawa Barat.

Pemberian bahan organik termasuk jerami mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara dan mempertahankan kesuburan tanah. Selain itu penggunaan varietas unggul padi sangat menentukan kesuksesan budidaya padi. “Kontribusi varietas unggul terhadap produktivitas mencapai lebih 26%,” ungkap Nana.

Pengukuran emisi GRK difokuskan pada gas CH4 dan N2O pada umur 21, 42, dan 87 hst dengan menggunakan metode sungkup. Pada umur 21 dan 42 hst dekomposisi jerami masih berlangsung dan menghasilkan asam organik. Sedangkan pada umur 87 hst saat kondisi jerami telah melapuk dan tidak menghasilkan asam-asam organik sehingga fluks emisi gas CH4 rendah. Gas N2O dipengaruhi kondisi kematangan bahan organik yang diberikan. Apabila jerami semakin matang maka semakin rendah emisi N2O yang dihasilkan.

Perlakuan pada varietas menunjukkan emisi gas metan pada budidaya varietas Cisadane lebih tinggi dari IP 64 karena umur varietas Cisadane lebih panjang. Sementara varietas unggul Inpari 4 menghasilkan emisi N2O lebih tinggi dibanding varietas Inpari 14 dan Mekongga. “Jumlah biomassa daun kering Inpari 4 lebih banyak dari varietas unggul lainnya sehingga mengasilkan fluks gas N2O”, kata Nana.

Pengaruh pemberian jerami juga dapat mempengaruhi tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah produktif, dan hasil padi. Sedangkan pengaruh VUB menunjukkan varietas Inpari 4 menghasilkan padi tertinggi daripada Mekongga. (Nunik Rachmadianti)

Asuransi Pertanian Benteng Pelindung Petani

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Petani menerima dampak dan resiko paling besar akibar perubahan Iklim yang mendera sektor pertanian. Demikian hasil penelitian Dr. Woro Estiningtyas, dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Menurut Woro, untuk mensiasatinya petani harus mengalihkan resiko tersebut kepada perusahaan asuransi.

Hampir setiap tahun petani—terutama petani padi—menerima ancaman kerugian karena padi sangat rentan pada perubahan iklim yang mengakibatkan banjir, kekeringan, serta serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Padahal padi menjadi komoditas paling penting di Indonesia karena pemerintah menetapkan swasembada beras sebagai target utama. “Padi masih menjadi tanaman utama dan sumber pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Pemerintah khususnya Kementerian Pertanian yang menjadi tulang punggung untuk mencapainya,” kata Woro.

Lantaran itu Kementerian Pertanian mendorong petani untuk menggunakan asuransi pertanian agar target pemerintah tercapai, tetapi petani tidak menjadi pihak paling dirugikan. Petani dapat memilih perusahaan asuransi dengan biaya premi yang relatif kecil sehingga terjangkau. Salah satu perusahaan yang telah digandeng Kementan untuk asuransi pertanian adalah PT. Jasindo.

Saat ini telah berkembang beberapa tipe asuransi. Sebut saja asuransi berbasis gagal panen (failure), berbasis hasil (yield), berbasis keuntungan (revenue), dan yang terbaru saat ini berbasis indeks iklim (weather index insurance).

Petani pun telah mulai melirik program asuransi berbasis Indeks Iklim. Terlihat dari kesediaan petani membayar premi yang cukup tinggi (76%). “Ini awal yang baik bagi pengembangan Asuransi Indeks Iklim di Indonesia,” kata Woro.

Mekanisme asuransi tersebut sudah berjalan di beberapa daerah Indonesia seperti di wilayah kerja UPSUS BBSDLP di Tolitoli, Sulawesi Tengah. Dinas Pertanian Kabupaten Tolitoli membantu petani khususnya petani Padi mengatasi resiko akibat perubahan iklim, banjir, maupun OPT dengan asuransi.

Diharapkan asuransi pertanian tersebut menjadi opsi dan strategi perlindungan bagi para petani untuk menghadapi resiko akibat dampak perubahan iklim saat ini. (Laela Rahmi)