JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Terkini

Siaran Pedesaan RRI Bogor

(Reading time: 1 minute)

Siaran Pedesaan di RRI Bogor dilaksanakan pada tanggal 13 April 2015, dengan nara sumber Dr. Chendy Tafakresnanto. Tema siaran yang diangkat adalah Kawasan Pertanian, yang menjelaskan mengenai pengertian, alasan digunakannya pendekatan kawasan, dan langkah kedepannya. Pendekatan kawasan adalah gabungan dari sentra-sentra pertanian yang terkait secara fungsional baik dalam faktor sumber daya alam, sosial budaya, maupun infrastruktur sedemikian rupa sehingga memenuhi batasan luasan minimal skala ekonomi dan efektivitas manajemen pembangunan wilayah. Pendekatan wilayah digunakan dalam membangun dan mengembangkan komoditas pertanian andalan daerah, dimana pemerintah pusat dan daerah harus fokus. Sebelumnya Kementan pernah menyelenggarakan berbagai pola pengembangan komoditas pertanian, seperti Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan (SPAKU), Kawasan Agribisnis Hortikultura, Kawasan Industri Peternakan (KINAK), Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK), Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN), Agropolitan, PRIMA TANI. Untuk mendukung pengembangan kawasan pertanian yang telah ditetapkan maka disusun peta kawasan pertanian berbasis kecamatan yang didasarkan pada kondisi sumberdaya lahan dan kondisi sosial ekonomi serta infrastruktur setempat, agar kawasan yang telah ditetapkan berkembang sesuai dengan yang diharapkan.

Seminar Dua Mingguan #3

(Reading time: 1 minute)











Pada Seminar Dua Mingguan BBSDLP tanggal 25 Maret 2015 dipresentasikan 2 makalah yang masing-masing disampaikan oleh Dr. I.G.M Subiksa dan Dr. Etty Pratiwi.

Seminar Dua Mingguan dilaksanakan pada tanggal 8 April 2015, dihadiri oleh para peneliti dan litkayasa lingkup BBSDLP dengan pembicara Dr. Aris Pramudia dan Dr. Budi Kartiwa.

Dr. Aris Pramudia dalam presentasinya yang berjudul “Pemantauan Dinamika Iklim Indonesia untuk Verifikasi Katam Terpadu Tanaman Pangan”, mengemukakan bahwa pemantauan dinamika iklim dilakukan terhadap kondisi iklim yang sudah terjadi, maupun terhadap prediksi iklim yang akan datang, serta terhadap output kalender tanam (Katam) yang merupakan alat bantu berisi informasi tentang prediksi iklim, waktu tanam, bencana, dan rekomendasi sarana produksi pertanian.

Presentasi kedua yang disampaikan oleh Dr. Budi Kartiwa berjudul “Proyek Pilot Pengembangan Padi Indonesia di Sudan”. Dr. Budi menuturkan bahwa kegiatan dalam proyek ini meliputi demonstrasi teknologi budidaya padi Indonesia, penyusunan teknologi budidaya padi terbaik pada tipologi lahan di Sudan, dan memfasilitasi pelatihan budidaya padi untuk petani, penyuluh, dan mahasiswa. Selanjutnya, beliau menyatakan bahwa Sudan memiliki potensi pengembangan padi lahan kering (padi gogo beririgasi) yang sangat besar. Padi sawah memungkinkan dikembangkan pada ekosistem terbatas di sepanjang aliran sungai Nil dan sungai lainnya di Sudan.

Rapat Kerja BBSDLP 2015

(Reading time: 1 - 2 minutes)





















Rapat Kerja (Raker) BBSDLP yang diselenggarakan pada tanggal 31 Maret - 2 April 2015 bertempat di Balittra, Banjarbaru, dengan tema "Tata Kelola Litbang dan Inovasi SDLP untuk Optimalisasi Lahan Mendukung Swasembada Pajale".

Tujuan Raker antara lain untuk menghimpun masukan dan pemikiran untuk penyempurnaan program litbang SDLP 2015-2019; meningkatkan kerja SDM; menajamkan dan meningkatkan mutu penelitian litbang SDLP; dan percepatan diseminasi hasil-hasil litbang SDLP serta pelayanan publik. Raker dihadiri oleh 125 orang peserta, terdiri atas pejabat struktural lingkup Balitbangtan, peneliti, teknisi, dan staf administrasi lingkup BBSDLP.

Bapak Kepala Badan Litbang Pertanian dalam arahannya menekankan pada isu terkini seperti Upsus Pajale dan pemanfaatan lahan sub optimal. Selain itu, terkait perlunya kesiapan dalam peningkatan daya saing dan teknologi dalam memasuki kompetisi pasar bebas.

Dalam sidang pleno, dipresentasikan materi dengan narasumber Sekretaris Balitbangtan, Inspektorat Jenderal Kementan, Institut Pertanian Bogor, dan pihak swasta (pengelola Taman Buah Mekarsari) Selain sidang pleno, juga dilaksanakan sidang komisi yang dibagi dalam 3 kelompok dengan bahasan terkait: 1 Manajemen; 2 Diseminasi, komunikasi, dan publikasi; dan 3 Program.

Selain sidang, agenda Raker lainnya adalah field trip ke beberapa lokasi lahan penambangan, baik yang masih digunakan maupun yang sudah terlantar. Di lokasi bekas penambangan diadakan diskusi terkait berbagai teknologi rehabilitasi lahan yang dapat diaplikasikan pada lokasi tambang.

Rapat kerja BBSDLP ditutup dengan presentasi hasil sidang kelompok dan pembacaan rumusan yang merupakan formulasi hasil-hasil pemikiran dan masukan untuk menyusun dan menyempurnakan program litbang SDLP; efisiensi kinerja SDM, pengelolaan asset dan keuangan; peningkatan mutu kualitas program dan penelitian litbang SDLP; serta rakselerasi diseminasi hasil-hasil litbang SDLP dan pelayanan publik melalui UPSUS, ASP, dan ATP dalam mendukung swasembada Pajale.

Seminar Dua Mingguan BBSDLP #1

(Reading time: 1 - 2 minutes)











Seminar dilaksanakan tanggal 18 Maret 2015 di Ruang Rapat Lt. 2 BBSDLP, dibuka oleh Ir. Sofyan Ritung, M.Sc, dengan pembicara Dr. D. Subardja dan Dr. Chendy Tafakresnanto. Seminar dihadiri oleh sekitar 30 peneliti dan litkayasa lingkup BBSDLP.

Presentasi pertama oleh Dr. Chendy dengan judul “Penyusunan Peta Kawasan Pertanian”. Pendekatan kawasan adalah implementasi pendekatan teknokratik yang merupakan salah satu pendekatan dalam sistem perencanaan nasional. Kawasan pertanian nasional tersebut meliputi sektor pangan, peternakan, hortikultura, dan perkebunan. Program PJKU (Padi, Jagung, Kedelai, dan Ubikayu) diharapkan dapat meningkatkan produksi PJKU itu sendiri dan mensukseskan Swasembada PAJALE. Lokasi yang masuk dalam program pendekatan kawasan ini terdiri atas 88 kabupaten dari 25 provinsi di Indonesia. Namun dalam pelaksanaannya, masih ada beberapa masalah seperti data di lokasi yang belum lengkap dan SDM yang kurang.

Presentasi kedua dengan judul “Sosialisasi Klasifikasi Tanah Nasional 2014” disampaikan oleh Dr. Subardja. Klasifikasi tanah digunakan untuk mengenali, memahami, serta mengetahui ciri dan potensi dari tanah. Sistem klasifikasi tanah yang digunakan di Indonesia untuk tujuan survey dan pemetaan adalah Soil Taxonomy. Dengan adanya Sistem Klasifikasi Tanah Indonesia 2014, diharapkan masyarakat Indonesia dapat menggunakan sistem ini sebagai acuan untuk keperluan survey maupun pemetaan tanah. Sistem ini disusun dengan mengacu pada sistem yang ada (PPT, 1981/1983) dengan sedikit modifikasi. Sedangkan Soil Taxonomy System (USDA) dan atau FAO/UNESCO masih dapat digunakan namun dijadikan sebagai padanan atau referensi. Diharapkan kedepannya, sistem ini dapat disosialisasikan, digunakan, dan dikembangkan untuk mendukung pengembangan wilayah dan pembangunan pertanian berkelanjutan.

Seminar Dua Mingguan BBSDLP #2

(Reading time: 1 - 2 minutes)











Pada Seminar Dua Mingguan BBSDLP tanggal 25 Maret 2015 dipresentasikan 2 makalah yang masing-masing disampaikan oleh Dr. I.G.M Subiksa dan Dr. Etty Pratiwi.

Presentasi pertama oleh Dr. Subiksa dengan tema Pupuk Gambut (PUGAM). Dalam bahasannya beliau menekankan penggunaan pupuk PUGAM yang sangat baik digunakan pada lahan gambut. Lahan gambut mengandung asam organik beracun yang dapat menghambat perkembangan akar, maka dari itu perlu dinetralisir agar tanaman tidak terganggu. PUGAM dapat difungsikan sebagai ameliorant untuk mengurangi pengaruh buruk asam organik beracun.

Selain itu, bentuk granule dari PUGAM juga membantu karena pupuk ini termasuk yang slow release yang berperan untuk mesuplai hara tanaman secara kontinyu selama masa pertumbuhan tanaman. Namun masalah yang menghambat dalam memproduksi PUGAM ini adalah salah satu bahan didalamnya yang masih digolongkan sebagai bahan limbah B3, bahan tersebut adalah terak baja. Diharapkan, Dr. Subiksa dan Tim dapat mengurus perijinan ke KLH agar PUGAM ini dapat didistribusikan ke berbagai stakeholder.

Presentasi kedua oleh Dr. Etty dengan tema Pupuk Agrimeth. Pupuk Agrimeth merupakan pupuk berbasis mikroba yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan, dan kesehatan tanah. Pupuk ini sendiri sudah di uji dalam dua sistem pengujian yaitu uji keefektifan dan pengujian Konsorsium Pengembangan Inovasi Pupuk Hayati. Dalam 2 kali pengujian di beberapa daerah di Indonesia, Pupuk Agrimeth dinyatakan efektif meningkatkan produksi cabai, kedelai, dan padi. Kedepannya, Dr. Etty dan Tim berharap dapat mengikutsertakan Pupuk Agrimeth dalam program Swasembada PAJALE.