JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Info Terkini

Adaptasi Dampak Perubahan Iklim melalui Sedekah Bumi

(Reading time: 1 - 2 minutes)

BBSDLP bersama Balitklimat (Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi), PSEKP (Pusat Studi Ekonomi dan Sosial Pertanian) serta BMKG melakukan penelitian bersama yang di dukung oleh lembaga dunia FAO untuk melakukan antisipasi berupa mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim pada sektor pertanian dengan skala nasional.

Kegiatan yang di beri judul Analysis And Mapping Of Impacts Under Climate Change For Adaptation Food Security Through South-South Cooperation (AMICAF-SSC) ini dilakukan guna memproyeksikan iklim melalui curah hujan dan suhu udara, menyusun model produksi hasil pertanian dan model hidrologi, serta melakukan kajian melalui sekolah lapang iklim bagi para petani dan penyuluh. Selain itu analisis ekonomi dan sosial para petani juga turut dilakukan untuk melihat sejauh mana kesejahteraan petani saat ini.

Salah satunya kegiatan AMICAF dilaksanakan pada tanggal 1 hingga 3 November 2017 kemarin, yaitu pengumpulan data sosial ekonomi para petani melalui pengisian kuesioner dan wawancara petani yang ada di Kabupaten Indramayu yang terdiri dari kecamatan Kertasemaya, Krangkeng, Karang Ampel, dan Sukra.

Kegiatan pengumpulan data tersebut juga turut didampingi oleh para penyuluh dari kabupaten hingga kecamatan. Dengan adanya penyuluh tersebut tim AMICAF dapat melakukan diskusi terkait mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang sudah di laksanakan di lokasi pengambilan data.

Menurut H. M.Hidayat Kepala BPP Kecamatan Kertasemaya, “kendala adaptasi perubahan iklim yang dilakukan disini yaitu sulitnya mengajak petani untuk menentukan waktu tanam sesuai dengan yang dianjurkan oleh BMKG maupun Balitklimat (Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi), hal ini ini karena petani masih memegang teguh adat budaya mereka, jadi para petani belum akan tanam padi sebelum di lakukan upacara sedekah bumi”, yaitu upacara permohonan agar hasil tani yang akan mereka laksanakan dapat melimpah.

“untuk mengatasi hal tersebut maka para penyuluh harus sedapat mungkin berdialog dengan para sesepuh agar upacara sedekah bumi dapat di sesuaikan dengan jadwal tanam yang telah ditentukan oleh pemerintah dalam hal ini BMKG dan Balitklimat” ujan Pak Nandang Koordinator Penyuluh Kabupaten Indramayu. Tidak jarang dialog berjalan alot sehingga membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk meyakinkan para sesepuh desa maupun kampung yang ada di kecamatan masing – masing.

Dengan adanya kegiatan ini para penyuluh berharap agar para petani dapat lebih diberikan pemahaman yang lebih banyak terkait mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim tersebut sehingga produksi yang di hasilkan petani lebih tinggi dan kendala produksi menjadi lebih rendah. (lr)

Dam Parit, Memanen Air dari Perbukitan

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Panen air atau water harvesting merupakan istilah untuk menyimpan air hujan untuk disimpan di musim kemarau. Dam parit merupakan salah satu teknologi penampungan dan pendistribusian air hujan.

Pada wilayah iklim basah, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Papua dan Maluku suplai air cukup tinggi. Iklim basah mempunyai curah hujan lebih dari 2000 mm per tahun. Tergantung daerahnya, wilayah ini mempunyai dua puncak hujan atau satu puncak yang sudah barang tentu mempengaruhi suplai hujan ke wilayahnya.

Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan masuk dan berkumpul ke parit selanjurnya anak sungai dan sungai.

Dam parit adalah salah satu infrastruktur panen air yang di buat dengan membendung aliran parit sungai kecil serta mendistribusikan air untuk mengairi lahan pertanian disekitarnya.

Kondisi ideal untuk membuat dam parit yaitu: dibangun pada aliran sungai berorde 1 sampai 3 atau yang mengalir sepanjang tahun dengan debit minimal 15 liter/detik, jarak lahan yang akan diairi <10 kilometer dan memiliki ketinggian yang lebih rendah dibandingkan dam paritnya.

Pembuatan dam parit memiliki keuntungan untuk mengurangi aliran, meningkatkan cadangan air tanah sehingga dapat menjaga kestabilan aliran dasar pada musim kemarau, dapat menampung volume air dalam jumlah besar dan mengairi areal yang relatif luas, dan dalam pembuatannya tidak mengurangi lahan produktif karena dam parit dibuat dengan memanfaatkan badan saluran atau sungai.

Dam parit ini memiliki dua keunggulan utama, yaitu: pasokan air akan kontinyu serta biaya operasional menjadi lebih rendah. (*Yy)

Data Sumberdaya Lahan, Kunci Pembangunan Daerah

(Reading time: 2 - 3 minutes)

Cilegon, 26 Oktober 2017. Data sumberdaya lahan berperan penting dalam pembangunan pertanian, dari skala nasional hingga kecamatan bahkan skala desa. Berbagai produk data sumberdaya lahan telah dihasilkan oleh BBSDLP, salah satunya berupa peta tanah yang kemudian diturunkan menjadi peta kesesuaian lahan, peta arahan komoditas, dan rekomendasi pengelolaan lahan. Sebanyak 8 kabupaten dan kota di Provinsi Banten telah selesai dipetakan.

Kepala BBSDLP menyampaikan bahwa iInformasi ini juga dapat digunakan sebagai dasar untuk memperkuat implementasi UU 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). “Pembangunan pertanian tanpa data sumberdaya lahan diibaratkan seperti orang yang berjalan di kegelapan malam, artinya tidak ada petunjuk sehingga semaunya tanpa aturan dan target yang jelas. Maka harus disadari bahwa kelengkapan data ini sangatlah penting untuk pegangan atau referensi pemerintah dalam membuat perencanaan,” ungkapnya.

Agenda serah terima peta telah dilaksanakan oleh Kepala BBSDLP, Prof. Dedi Nursyamsi, kepada perwakilan dari 8 Dinas Pertanian Kabupaten dan Kota se-Provinsi Banten. Data yang diserahkan berupa peta-peta dan CD yang berisi data digital hasil pemetaan. Pada acara tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari Biro Perencanaan, Kepala BPTP Provinsi Banten, staff Dinas Provinsi dan Kabupaten, serta pengusaha agribisnis.

Penyerahan peta-peta tersebut disambut baik oleh Kepala Dinas Provinsi Banten, Ir. H. Agus M. Tauchid S. “Data lahan sangat penting dalam pembuatan Renstra,  karena data yang digunakan harus berbasis riset. Jadi data ini menambah keyakinan kita dalam  membuat rencana pembangunan bukan hanya didasari semangat dan kepuasan saja tapi juga hasil riset yang terpercaya,” ungkap Agus.

Sosialisasi mengenai tatacara membaca peta rekomendasi pengelolaan lahan juga disampaikan pada acara ini oleh Ir. Anny Mulyani, peneliti senior BBSDLP. Para perwakilan dinas kabupaten dan kota yang hadir mendapatkan kesempatan untuk secara langsung mendiskusikan cara menggunakan peta yang telah dibagikan. Pelatihan ini mendapat sambutan baik dari seluruh perwakilan yang hadir, diharapkan juga dapat diimplementasikan secara tepat di lapangan.

Provinsi Banten memiliki potensi lahan yang sangat luas dan memiliki potensi agrowisata yang perlu dikembangkan. Banten juga didaulat sebagai penyangga dan penyuplai pangan untuk ibu kota (Jakarta) karena jarak yang terdekat, maka prospek pasar sangat tinggi. Padi, jagung, dan kedelai sebagai komoditas utama didukung dengan program perluasan areal (cetak sawah). Permasalahan yang muncul adalah luas kepemilihan lahan yang sempit dan didominasi petani dengan status petani penggarap. Selain itu, alih fungsi lahan pertanian di Banten sangatlah tinggi.

Prof Dedi menyampaikan penyusunan renstra junstru memerlukan data sumberdaya lahan untuk menunjukkan wilayah mana yang cocok untuk pengembangan komoditas tertentu. Terutama Banten, potensial untuk pengembangan aren dan kelapa, apabila dikerjakan secara serius maka bisa memenuhi kebutuhan yang besar. Tantangan pembangunan pertanian ke depan terutama dalam upaya kedaulatan pangan adalah ancaman degradasi dan kelangkaan lahan subur potensial, maka informasi sumberdaya lahan sangat diperlukan. (NK)

PLAGIARISME, No Way !

(Reading time: 2 - 4 minutes)

Bogor, 23 Okt 2017. Plagiarisme menjadi isu hangat di kalangan para peneliti dan para penggiat hak cipta. Menurut kamus online Merriam-Webster, "plagiarize” diartikan sebagai mencuri dan mewariskan (ide atau kata-kata yang lain) sebagai milik sendiri dan menggunakannya tanpa menyebutkan sumbernya. Plagiarisme adalah tindakan kecurangan.

Para peneliti memiliki kepentingan terhadap isu plagiarisme, baik terhadap perlindungan karya cipta sendiri untuk tidak diplagiasi, maupun pada aspek kecermatan agar tidak terjebak pada plagiarisme.

Guna memahami plagiarisme, terutama dalam penulisan karya tulis ilmiah (KTI), BBSDLP telah menghadirkan Kepala Pusat Pendidikan Pembinaan dan Pelatihan LIPI, Prof. Dwi Eny Djoko Setyono untuk menyampaikan paparan tentang plagirisme dan bagaimana tidak pencegahannya.

Dalam paparan Dwi Eny menyampaikan tiga pilar kode etik peneliti yang harus diketahui secara benar. Pemahaman terhadap ketiga rambu tersebut akan menghindarkan setiap insan peneliti terhadap perilaku plagiat.

Tiga pilar kode etik tersebut adalah a) Kode Etika Peneliti berisi “Rambu-rambu Etika”, b) Klirens Etik Penelitian dan Publikasi berisi Pengecekan Mandiri Kepatuhan Etika”, dan c) Kode Etika Publikasi Ilmiah, merupakan rambu “Upaya Menjamin Mutu Publikasi Ilmiah”. Masing-masing tertuang dalam Perka LIPI No.5/2013, Perka LIPI No. 8/2013, dan Perka LIPI No. 5/2014.

Dwi Eny menjabarkan pula definisi ‘plagirisme’ yakni perbuatan: a) menggunakan atau mengambil sesuatu (objek) yang bukan miliknya. b) mencuri kata-kata, kalimat, idea/konsep milik orang lain, mengambil/mencuri hak intelektual orang lain, d) Menggunakan hak intelektual orang lain tanpa ijin dan tanpa apresiasi. Adapun objek yang dicuri dapat berupa ide, konsep, gambar, foto dan karya-karya lainnya.

Mengacu pada Megan Lowe (http://www.ulm.edu/~lowe/plagiarism.ppt) ada empat jenis plagiarisme yakni copying plagiarsm, patchwork plagiarism, paraphrasing plagiarism, unintentional plagiarism.

Copying plagiarsm: menyalin karya orang lain dan menempelkan/menaruh nama kita pada karya tersebut. Atau mengcopy kata-kata/ kalimat orang lain sebagai karya sendiri

Patchwork plagiarism: meminjam/mengambil/ meniru kalimat dan/atau paragraph dari sumber asli dan menyisipkannya kedalam karya sebagai karya sendiri.

Paraphrasing plagiarism: Membuat paragraph/ kesimpulan hasil karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Atau mengganti/mengubah kata-kata dalam suatu kalimat/paragraf hasil pemikiran/karya orang lain sebagai karya sendiri.

Unintentional plagiarism: Mensitasi secara tidak benar dan/atau mensitasi pada sumber yang salah. Pada kasus ini penulis (author) tidak bermaksud melakukan plagiarism.

Dwi Eny menekankan sikap kehatian-hatian dalam menulis karya ilmiah, terutama bila mengungkapkan data berupa angka numerik, bila angka tersebut berasal dari temuan orang lain, maka harus langsung disebutkan.

Demikian pula dalam hal mensitasi sumber tulisan, saat mensitasi langsung tuliskan sumbernya. “Bila tidak, maka akan menumpuk dan bisa lupa, kita akan bingung atau kehilangan jejak sumber referensi kita.” tandas Dwi Eny.

Ada beberapa hal yang dapat mencegah perilaku plagiarisme, yakni: (a) jujur, (b) usahakan selalu menggunakan hasil karya sendiri, (c) pastikan dan jelaskan bahwa ide/konsep Anda berbeda dari konsep orang lain, (d) perlu kehati-hatian jika menghasilkan karya bersama, (e) menjaga tract record dari sumber (referensi, data, ideas) secara baik, (f) sebutkan author dari karya orisinal yang digunakan, dan (g) lakukan sitasi secara benar.

Dari segi publikasi juga terdapat kode etik yang mesti dipatuhi yakni: netral, adil, dan jujur. Netral diartikan sebagai bebas dari pertentangan kepentingan dalam pengelolaan publikasi; Adil yakni memberikan hak kepengarangan kepada yang berhak sebagai pengarang; dan Jujur yakni bebas dari duplikasi, fabrikasi, falsifikasi, dan plagiarism.

Beberapa kasus plagiarisme diungkapkan pula Dwi Eny. Pelanggaran plagiarisme berujung pada sanksi, mulai dari sanksi sosial, pencabutan karya ilmiah, pencabutan jabatan fungsional peneliti, hingga berakhir pada pemberhentian sebagai PNS.

Pada bagian penutup Dwi Eny menekankan dua sikap untuk menghindari plagiarisme yakni: 1) Kepatuhan pada Kode Etika Publikasi Ilmiah yang akan menghasilkan: Publikasi Ilmiah Bermutu; Kinerja Hasil Riset Ilmiah; Kredibilitas Peneliti. 2) Komitmen pada Kode Etika Publikasi Ilmiah Penting dalam Memajukan Iptek Bangsa.

Sesi diskusi berlangsung hangat, beberapa peneliti memberikan pertanyaan secara interaktif. Pertanyaan tentang karya ilmiah berupa peta/atlas menjadi bagian yang paling banyak diungkap. Terutama menyangkut persoalan naskah, yakni terdapat pengulangan pada kata pengantar, pendahuluan dan metode.

“Karya ilmiah kita sebetulnya adalah peta. Namun yang sering banyak dipersoalkan malahan naskah” ungkap Dr. Sukarman salah satu peneliti seniar BBSDLP.

Menjawab pertanyaan di atas, Dwi Eny menguraikan, bila sudah ada standard pemetaan yang diacu maka sebaiknya standard tersebut dicetak sebagai Petunjuk Teknis yang diacu oleh semua peneliti. Bila peta merupakan karya ilmiah utama, maka peta ditampilkan di bagian depan sedangkan naskah dan penjelasan tentang peta diletakkan di bagian belakang. (SB, 23/20/2017)

Sumber gambar: http://www.plagiarismchecker.net/plagiarism-pictures.php

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Petani dan Metoda Analisis Kebijakan

(Reading time: 1 - 2 minutes)

Palu, 19 Okt 2017. Kegiatan Pengembangan Pertanian Lahan Kering Iklim Kering dilaksanakan di Kab. SIGI Sulteng melalui kegiatan KP4S. 

"Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Ka. Balitbangtan, SAM Bidang Infrastruktur dan Ka. BBBSDLP melihat fakta ada ratusan ribu hektar lahan kering yg belum optimal diusahakan di Prov. Sulteng" demikian dipaparkan Kepala BPTP Sulteng, Dr. Andi Baso Lampengeng.

Di Provinsi Sulawesi Tengah terdapat ratusan ribu hektar lahan kering yang belum dimanfaatkan secara optimal, sementara dijumpai air melimpah di sekitar lahan pertanian yang belum termanfaatkan secara efisien.

“Melihat kondisi tersebut Kepala BBSDLP, Prof. Dr. Dedi Nusyamsi mendorong adanya kegiatan penelitian di lahan kering yang memanfaatkan inovasi pengelolaan lahan kering yang dimiliki Balitbangtan.”, papar Baso.

Dusun Buluponto, Kabupaten Sigi terpilih menjadi contoh pengembangan pertanian lahan kering iklim kering.

Dalam kesempatan pembukaan acara, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional, Dr. Mat Syukur, MS. menekankan tiga hal dalam pembukaan latihan ini yakni: kelembagaan yang aktif, manajemen tata kelola air, dan manajemen pascapanen. 

Syukur juga menekankan bahwa lahan kering mesti mendapatkan perhatian yang sama seperti lahan sawah.  Disebutkan pula pengembangan pertanian (di lahan kering) tidak bisa dilakukan oleh Kementan sendiri, diperlukan kerjasama dengan pihak swasta.

Dalam teknik pemanfaatan air efisien, BBSDLP menerapkan sistem irigasi tetes dan sprinkler. Sedangkan dari aspek pengelolaan lahan diterapkan sistem pemupukan berimbang, pemanfaatan biodekomposer, amilioran (biochar), dan penerapan kelembagaan petani.

Dalam kesempatan pelatihan kali ini dititikberatkan pada materi tentang peningkatan kapasitas kelembagaan petani yang disampaikan oleh Peneliti BBP2TP Ir. Rachmat Hendayana, MS.

Secara umum dijabarkan kelembagaan di tingkat petani, syarat sebuah lembaga, dan ciri-ciri keberhasilan sebuah lembaga. Rachmat menuturkan keberhasilan sebuah lembaga tidak hanya pada teknologi semata, namun pada pelaku utama (petani) maupun pelaku antara (PPL). Ciri lain adalah tingkat kekompakan anggota, komunikasi antar anggota, kemandirian kelompok, respon positif terhadap teknolog, dan kemauan bekerjasama. Dari aspek budidaya antara lain meningkatnya produksi, meningkatnay pendapatkan anggota kelompok, distribusi pendapatan, dan pendidikan yang meningkat.

Dari hasil wawancara dengan beberapa orang petani, umumnya petani menyambut baik kegiatan di atas.

Penerapan panca kelola lahan juga dinilai sangat membantu meningkatkan performa vegetatif tanaman. Ketua Poktan Natural Tani Blupounto Jaya, Twinarto menyambut hangat kegiatan tersebut. Aplikasi teknologi Balitbangtan dirasakan akan meningkatkan produktivitas pertanian berbasis organik pada usahataninya (SB/Okt/2017)