JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
(Reading time: 2 - 4 minutes)
Lahan Gambut Indonesia   Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari hasil-hasil penelitian tentang lahan gambut di Indonesia. Buku ini tediri atas sepuluh bab yaitu (1) Pembentukan dan Karakterisik Gambut Tropika Indonesia, (2) Perkembangan Pemetaan dan Distribusi Lahan Gambut Indonesia, (3) Kesesuaian Lahan Gambut untuk Pertanian, (4) Dinamika Penggunaan Lahan Gambut, (5) Isu Lingkungan Gambut Tropika Indonesia, (6) Pengelolaan dan Produktivitas Lahan Gambut untuk Berbagai Komoditas Tanaman, (7) Kearifan Lokal untuk Peningkatan dan Keberlanjutan Produksi Pertanian di Lahan Gambut, (8) Sumbangan Lahan Gambut untuk Ketahanan Pangan, Ekonomi Rumah Tangga, dan Devisa Negara, (9) Memecahkan Dilema Pemanfaatan Lahan Gambut Melalui Pengelolaan Berkelanjutan. Pada edisi revisi ini ditambahkan Bab 10 yang berjudul “Strategi Pengelolaan Lahan Gambut Terdegradasi untuk Pertanian Berkelanjutan: Landasan Ilmiah”. Cakupan sepuluh bab dalam buku ini membahas aspek teknis, sosial ekonomi dan lingkungan.
Bab 1 sampai Bab 7 mengupas dengan detil aspek teknis dan aspek lingkungan. Pertimbangan aspek sosial ekonomi yang dibahas pada Bab 8 dan aspek lingkungan pada Bab 5 dijadikan sebagai dasar usulan kebijakan yang dibahas di dalam Bab 9. Dengan struktur bahasan tersebut, buku ini ditujukan sebagai referensi bagi ilmuwan, mahasiswa, dan pemerhati Sektor Pertanian, kususnya yang menekuni potensi dan masalah lahan gambut. Buku ini juga penting bagi pemerhati lingkungan serta agronomis agar terjadi keseimbangan pemahaman antara aspek ekonomi dengan aspek lingkungan. Bab 9 selain ditujukan untuk pemerhati dan ilmuwan lahan gambut, juga ditujukkan untuk pengambil kebijakan dalam pemanfaatan dan tata kelola lahan gambut.

Sumberdaya Lahan Pertanian   Indonesia sebagai negara agraris sangat bergantung pada potensi sumber daya lahan sebagai media tumbuh komoditas pertanian yang diusahakan. Diyakini bahwa, pemenuhan kebutuhan terhadap produk pertanian, terutama pangan, tidak bisa hanya mengandalkan upaya peningkatan produktivitas saja, tetapi harus diimbangi oleh perluasan areal baru. Oleh sebab itu, data yang dimuat dalam buku ini akan sangat bermanfaat untuk merancang dan menyiapkan kebijakan dalam upaya perluasan areal baru di masa yang akan datang. Data luas, penyebaran dan potensi sumber daya lahan untuk pertanian sangat berperan penting dalam mempertahankan dan mendukung pembangunan pertanian ke depan secara terarah, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

andosol   Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di bidang pertanian. Letak Indonesia yang berada di daerah tropis membuat Indonesia memiliki dua musim utama, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Sebagian besar wilayah Indonesia mempunyai musim hujan yang lebih lama dibandingkan dengan musim kemarau, sehingga waktu untuk bertani dapat dilakukan dalam periode waktu yang cukup lama. Kondisi tanah pertanian yang subur karena dilewati banyak gunung berapi, membuat pertanian Indonesia menjadi salah satu pilihan pekerjaaan utama. Jika kita mengunjungi tempat wisata di daerah pegunungan dengan udara sejuk dan panorama yang indah, akan tampak hamparan tanam-tanaman subur menghijau seperti tanaman teh atau tanaman sayur-sayuran dan tanaman hortikultura lainnya. Suburnya tanaman di daerah pegunungan tidak terlepas dari kondisi iklim dan tanah yang cocok untuk tanamtanaman tersebut. Udara sejuk dengan tanah subur yang berasal dari erupsi gunung berapi sangat mendukung tanaman yang tumbuh di atasnya dan dapat berkembang dengan baik. Tanah di daerah pegunungan vulkanik dicirikan oleh warna tanah hitam atau gelap karena tingginya kandungan bahan organik, gembur, ringan dan licin jika dipirid dengan jari tangan. Tanah dengan sifat-sifat demikian disebut tanah Andosol. Gambar 1 dan 2 memperlihatkan kondisi panorama perkebunan teh di Puncak, Bogor dan kebun sayuran di Lembang, Bandung yang tanahnya tergolong Andosol.

lahan rawa   Lahan rawa seluas 33,43 juta hektar yang tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi, adalah tabungan masa depan bagi pertanian Indonesia. Coba bayangkan, dari angka tersebut, yang dimanfaatkan untuk lahan pertanian baru mencapai 5 juta ha atau kurang dari 15 persen. Jika saja kita mampu mengembangkan pertanian di lahan rawa yang masih terbentang luas dengan basis inovasi dan teknologi, kemandirian pangan secara nasional dapat terwujud. Bahkan, Indonesia mampu menjadi produsen berbagai komoditas pangan untuk memenuhi kebutuhan penduduk dunia.Berdasarkan model simulasi dinamik yang dikembangkan Badan Litbang Pertanian, dengan menambah indeks pertanaman dari satu kali tanam menjadi dua kali tanam dalam setahun misalnya, kita akan mendapat tambahan produksi beras dari lahan rawa sekitar 10 juta ton per tahun. Kita akan mendapatkan tambahan produksi padi sebesar 25 % dari sebelumnya jika diberi pupuk hayati (Biotara dan Biosure) hasil inovasi Badan Litbang Pertanian. Riset juga membukti kan, penggunaan varietas padi unggul, penerapan sistem tanam jajar legowo, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dan pemakaian pupuk kandang, dapat meningkatkan produksi padi di lahan rawa. Singkat kata, dengan sentuhan berbagai teknologi tersebut, niscaya rawa tidak lagi termasuk lahan sub marjinal. Lebih dari itu, rawa menjadi lahan produktif yang menghasilkan komoditas pangan berdaya saing tinggi. Di buku inilah, Anda disodori berbagai kisah sukses para petani yang telah berhasil mengembangkan lahan rawa sebagai lumbung pangan masa depan Indonesia