JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение
(Reading time: 2 - 3 minutes)

 

 

Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 membagi wilayah nasional ke dalam 6 koridor ekonomi, dimana setiap koridor mempunyai komoditas pertanian utama untuk dikembangkan. Implementasi master plan ini dapat diharmoniskan dengan upaya-upaya untuk mencapai 4 sukses Kementerian Pertanian. Berkaitan dengan inisiatif tersebut, informasi spasial sumberdaya lahan dan rekomendasi pemupukan khususnya padi sawah dan tebu perlu terus diperbarui dan ditingkatkan kehandalannya. Kegiatan ini bertujuan untuk: (i) menyusun modul/petunjuk teknik penyusunan peta pewilayahan komoditas berbasis AEZ skala 1:50.000 dan peta status hara P dan K lahan sawah skala 1:50.000, (ii) melakukan pendampingan penyusunan peta pewilayahan komoditas berbasis AEZ dan peta status hara P dan K lahan sawah skala 1:50.000 bagai tenaga BPTP, perguruan tinggi, dan pemda (Bappeda atau Dinas terkait), (iii) menyusun Peta status hara P dan K tanah sawah skala 1:250.000, (iv) memvalidasi rekomendasi pemupukan dari perangkat uji cepat hara tanaman tebu (PUHT), dan (v) membuat peta digital sifat-sifat tanah menggunakan metodologi pemetaan tanah digital berdasarkan data tanah warisan.

Pj : Dr. Yiyi Sulaeman, SP, M.Sc


 


Target pencapaian dan pemantapan swasembada dan ketahanan pangan nasional menghadapi ancaman dan kendala antara lain perubahan iklim dan konversi lahan. Ancaman dan kendala tersebut dapat menurunkan kapasitas produksi lahan-lahan pertanian, mengancam keberlanjutan swasembada pangan. Alternatif pemanfaatan lahan sub optimal seperti lahan kering dan lahan tedegradasi/terlantar bisa menjadi solusi. Oleh karena itu, masalah kerentanan perubahan iklim dan peningkatan kapasitas adaptasi dan mitigasi menjadi isu stategis dalam hubungannya dengan pembangunan, pangan, energi, kesejahteraan dan lingkungan. Pada tahun 2013, Bappenas akan menebitkan RAN-API sebagai acuan bagi kementerian/lembaga dalam mengimplementasikan aksi adaptasi perubahan iklim. Selain perlu diadvokasi dan disosialisasikan, RAN-API tersebut perlu dijabarkan dan diperkuat dengan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan secara terpadu dan sinergi, terutama dalam mengindentifikasi dan mengembangkan teknologi. Implementasi RAN-API tersebut juga perlu didukung dengan bebagai perangkat kebijakan yang disusun harus berdasarkan kajian/sintesa kebijakan. Konsorsium Litbang Perubahan Iklim telah dilaksanakan sejak tahun 2008 dan menghasilkan berbagai output unggulan, baik yang bersifat teknis maupun rekomendasi kebijakan. Secara spesifik kegiatan Konsorsium Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Mendukung Pengembangan Kapasitas Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim di tahun 2014, bertujuan untuk: (1) melakukan koordinasi dan komunikasi (Workshop & FGD) serta membangun sinergitas program/kegiatan litbang perubahan iklim sektor pertanian, baik di lingkup Badan Litbang Pertanian maupun secara eksternal, (2) menyusun metodologi dan studi kasus penetapan indeks kerentanan dan sistem analisis dampak perubahan iklim wilayah sentra produksi pangan, (3) melakukan tinjauan pedum sistem pemantauan, evaluasi dan pelaporan (PEP/MRV) Sektor Pertanian, (4) mengembangkan model dan menguji berbagai inovasi teknologi mendukung sistem pertanian terpadu lahan kering iklim kering (SPTLKIK) dan foods smart villages (FSV), (5) menyusun rekomendasi kebijakan berupa policy brief dan bahan advokasi/presentasi kebijakan perubahan iklim serta pengembangan SPTLKIK/FSV.

Pj : Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr.

 


   


Dalam TA 2014 Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian telah melakukan penelitian “Identifikasi dan Evaluasi Potensi SDL untuk Pengembangan Pertanian di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku” di 24 kabupaten. Penelitian terdiri atas kegiatan: (1) Penyusunan peta-peta potensi SDL skala 1:50.000 di 24 kabupaten (+ 15 juta ha), dan (2) Kompilasi peta tanah tinjau Provinsi Papua skala 1:250.000 (31,4 juta ha).

Pj : Ir. Hikmatullah, MSc