WhatsApp Image 2021 10 28 at 9.31.06 AMBertempat di Hotel Santika Bogor (27/10), Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Badan Litbang Pertanian melakukan acara Focus Group Discussion Pemanfaatan Citra Satelit Sentinel-1 untuk Estimasi Produksi Padi (SISCrop 2.0).  FGD tersebut merupakan kegiatan lanjutan atas dirilisnya teknologi inovatif Sistem Informasi Standing Crop 2.0 (SISCrop2.0) pada 18 Oktober 2021. Acara yang dilakukan secara offline dan online tersebut dihadiri oleh peserta yang terdiri dari pejabat struktural dari Badan Pusat Statistik, Kemenko Marves, Kemenko Perekonomian, Kementerian ATR-BPN, Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan,  Biro Perencanaan Kementan, Kepala Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik BIG, LAPAN BRIN, IPB University, Univ. Gajah Mada, Univ Andalas,  Ketua Umum HITI, Ketua Umum HGI, Ketua Umum PERAGI, Ketua Umum PERHIMPI,  FKPR Kementan, Tim Gugus Tugas Standing Crop, dan Peneliti di lingkup Badan Litbang Pertanian.  

Kepala Balitbangtan, Dr. Fadjry Djufry, mendukung terciptanya kelengkapan data-data yang dihasilkan dari SISCrop2.0 dan BPS (Badan Pusat Statistik). Dengan akurasi sekitar 80% dan penggunaan satelit berbasir radar, diperlukan beberapa sampel data untuk mengecek kembali hasil prediksinya di lapangan. “Kami mengajak para stakeholder (Kementerian, Lembaga dan Perguruan Tinggi) untuk memperbaiki data ini ke depannya.”ajak Kepala Balitbangtan. Sementara itu, Kepala BBSDLP dalam sambutannya menyampaikan “FGD ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut untuk mendapatkan feedback guna mendukung kebutuhan data dan mendukung BPS secara realtime. Diharapkan SISCrop 2.0 ini dapat membantu prediksi lahan pertanian menjadi lebih baik.”

Berbagai poin pembahasan dipaparkan dalam FGD ini. Diantaranya adalah bahasan Moch.Soleh Nugrahadi, Asisten Deputi Pengelolaan DAS dan Konservasi Sumberdaya Alam MARVES, mengenai hal yang perlu diperhatikan pada data yang bersifat sangat dinamis. “Tidak semua sektor dapat terbuka terhadap data dan standarisasinya. Karena itu, perlu adanya prinsip keterbukaan dan data sharing, sistem data, dan machine learning/artificial intelligence yang bisa mempermudah pengerjaan terkait perbedaan sumber data.”

Dr. Haryono, sebagai moderator, menambahkan perlunya pemahaman terkait provactive maintenance, preventive maintenance, dan adaptive maintenance bagi para pengembang sistem demi kesuksesan Sistem Informasi Standing Crop atau SISCrop 2.0 ini.

Akses, keakurasian dan validasi data yang dihasilkan juga menjadi sorotan dalam FGD ini. Prof. Dian Fiantis, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Andalas, mengharapkan keterlibatan penyuluh dan perluasan FGD dengan Perguruan Tinggi dari Sabang hingga Merauke demi terciptanya data yang lengkap.

Dalam diskusi selama FGD tersebut juga mengemuka agar SISCrop ini dapat diakui secara nasional, maka perlu dibentuk sebuah komisi untuk mengangkat SISCrop sebagai produk nasional. Data produksi maupun provitas tanaman pangan yang diperlukan tidak hanya padi, tetapi ada tanaman lainnnya, seperti jagung.  Oleh karena itu, SISCrop ini perlu juga dikembangkan untuk estimasi tanaman lain seperti jagung dan tebu. (MM/AS)

bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling