Mentan 1Bogor – Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, kunjungi Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP)  pada Rapat koordinasi Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan)  mengenai Dampak Perubahan Iklim (20/12). Turut hadir secara langsung Sekretaris Jenderal Kementan, Kepala Balitbangtan, dan Pejabat Eselon 1 serta Eselon 2 lainnya. Tak hanya terkait dampak perubahan iklim, pada kesempatan ini dipaparkan juga berbagai Sistem Informasi yang dikembangkan oleh Balitbangtan melalui BBSDLP.

Kepala Balitbangtan, Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si, menjelaskan pentingnya upaya mitigasi terhadap dampak perubahan iklim dan sumber emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari sektor Pertanian  yang diantaranya adalah kotoran ternak, padi sawah , pupuk N dan lainnya.  “Tidak hanya mitigasi, adaptasi sudah menjadi prioritas untuk menghadapi dampak perubahan iklim, misalnya penyediaan bangunan penampung air, penerapan teknologi modifikasi cuaca, aplikasi teknologi hemat air, pemanfaatan kalender tanam, pemupukan berimbang dan lainnya.” ujar Fadjry.

Mendukung penjelasan tersebut, Kepala BBSDLP Dr.Husnain memaparkan berbagai Sistem Informasi yang dikembangkan oleh BBSSDLP, seperti SISCrop 2.0 yang menyediakan data standing crop padi dan produktivitasnya serta Sistem Kalender Tanam Terpadu (KATAM) yang juga memuat informasi jadwal tanam, tingkat kerawanan banjir, varietas eksisting, pemupukan, dan lainnya. SISCrop 2.0 dan KATAM ini dapat diakses melalui Sistem Informasi INA SOIL  AGRO (Indonesian Soil and Agro-climate  Information System). “INA SOIL AGRO ini memuat berbagai sistem informasi yang berkaitan dengan tanah dan iklim, termasuk SISCrop 2.0 dan KATAM. Tidak hanya itu, sistem ini juga memuat peta tanah dan peta tematik lainnya yang akan terus dilengkapi untuk seluruh Indonesia.” ujar Husnain.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengapresiasi adanya sistem informasi yang dapat membantu ketersediaan data pertanian, baik itu produktivitas, luas lahan, dan iklim. Mengingat permasalahan perubahan iklim telah menjadi fokus setiap negara. “Diseminasi terkait perubahan iklim harus kuat. Mindset terhadap climate change dan planet yang rusak harus muncul dari setiap individu. Kita harus pasang target, berapa persen emisi GRK yang bisa kita turunkan. Namun tentu, semua itu harus tetap menjaga produktivitas pertanian kita.” jelas Mentan dalam arahannya.

Terkait urgensi tersebut, Mentan merasa pentingnya pembentukan gugus tugas untuk setiap wilayah. Wilayah ini dapat dibagi dalam provinsi atau pembagian barat-tengah-timur Indonesia. Diperlukan kerjasama dari berbagai pihak dan sektor yang ada untuk menghadapi permasalahan perubahan iklim yang ada. (MM/AS/WA)

bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling