WhatsApp Image 2022 04 08 at 12.32.32 PMKepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) berkesempatan menjadi narasumber terkait “Peran Pemupukan dalam Meningkatkan Produktivitas Pertanian” pada acara MSPP (Mentan Sapa Petani dan Penyuluh Pertanian) yang diselenggarakan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) (08/04). Dihadiri oleh Kepala BPPSDMP dan Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (yang juga sebagai narasumber), acara ini dicermati oleh lebih dari 500 peserta secara online.

Kepala BPPSDMP, Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr, membuka acara dengan menekankan bahwa kondisi sektor pertanian sedang tidak biasa-biasa saja. Berbagai permasalahan datang dan menghambat proses produksi - distribusi produk serta sarana pertanian.

“Kita berada di kondisi yang luar biasa repotnya. COVID-19 telah menghancurkan distribusi produksi. Selain itu, adanya fenomena restriction dan perubahan iklim telah meluluh-lantakkan sendi pertanian. Belum lagi El Nino dan La Nina yang dapat menyebabkan gagal panen. Ditambah dengan produk pangan dan sarana pertanian, seperti pupuk, yang sedang mahal. Karena itu, perlu adanya efisiensi dalam pemupukan.” Ujar beliau.

Membahas salah satu solusi dari permasalahan tersebut, Kepala BBSDLP Dr. Husnain, M.P., M.Sc. menyampaikan bagaimana pemupukan berimbang dapat meningkatkan produktivitas tanaman, terutama untuk komoditas pangan, seperti padi, yang menjadi fokus lebih pada acara ini.

“Pemupukan berimbang ini didasarkan pada kondisi status hara tanah dan kebutuhan tanaman. Sehingga, tidak hanya meningkatkan produktivitas, prinsip ini dapat menghindari pencemaran lingkungan karena pemupukan yang lebih efisien.” jelasnya.

Dr. Husnain juga menyebutkan bahwa pupuk berkontribusi 25-40% terhadap target produksi. Namun sayangnya, masih terdapat kendala dalam implementasi pemupukan berimbang ini, seperti kebanyakan petani yang hanya mengandalkan pupuk subsidi, tidak menerapkan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi, dan usaha tani yang belum sepenuhnya berskala ekonomi.

“Ketersediaan pupuk bersubsidi lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan petani, sehingga perlu pengalokasian yang tepat dan akurat. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan evaluasi dan reformulasi pupuk NPK, yang semula 15-15-15 menjadi 15-10-12. Sehingga meminimalkan P dan K yang bahan bakunya masih diimpor.” Papar Dr. Husnain.

Tak hanya dari segi teknis, updating data spasial berupa Peta Status Hara Tanah Sawah (skala 1:50.000) juga dilakukan untuk mencapai pengalokasian pupuk subsidi yang lebih tepat.

“Kondisi tidak biasa, yang disebutkan Kepala BPPSDMP, telah memaksa kita untuk meyakini bahwa pupuk itu wajib ada. Namun tentu harus bijak dalam penggunaannya dan perlu mencari solusi-solusi terkait bagaimana menerapkan pemupukan berimbang ini.” Ujar Kepala BBSDLP, Dr. Husnain, dalam closing statement-nya pada acara tersebut. (MM)

bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling