Info Terkini

WhatsApp Image 2022 01 26 at 3.47.57 PM 1The Indonesian Center for Agricultural Land Resources Research and Development (ICALRRD) organized a virtual seminar on the progress of collaborative research results granted by ACIAR (the Australian Centre for International Agricultural Research) to the partner institutions in Indonesia (ICALRRD, UGM University, IPB University, IVEGRI, and ICATAD). The seminar was conducted on 26 January 2022. The theme of research collaboration is Nutrient Management and Plant Health in Shallot, Chili, And Rice Cropping Systems In Indonesia. Dr. Stephen Harper (ACIAR), Dr. Husnain (Director ICALRRD), Prof. Sri Hendrastuti Hidayat (IPB), Prof. Siti Subandiyah (UGM), Dr. Witono (IVEGRI), and Dr. Arlyna Budi Pastika (AIAT of Yogyakarta) and team members participated in this one-day seminar. Prof Fahmuddin Agus and Dr. Prama Yufdy, senior researchers from IAARD, acted as panelists/discussants.

On the opening remarks, Dr. Husnain appreciated the research collaboration, and it would be great if ICALRRD and ACIAR can have another collaboration in the future. Meanwhile, Dr. Stephen Harper gave highest appreciation on the progress of sharing research activity results. Furthermore, Stephen mentioned that, nowadays, Indonesia is known well as a high reputation research in soil and land resources as well as the research skill compared to the decades ago. Dr. Edi Husen, ICALRRD-ACIAR Research Coordinator, said that the one-day seminar is not only to review the progress of research results, but also to get any feedback for next research activities.

The seminar itself divided into four sessions with nine sub-themes. In every session, there were some comments and suggestions from the panelists to improve and enrich the substance. In the first session, there were three sub-themes. The first sub-theme is long term Monitoring Nitrogen Fluxes and Potassium Balance in Costal Shallot – Chili – Rice System presented by Dr. Ibrahim Adami Sipahutar, the 2nd is Nitrogen Loss Through NH3 Volatilization and N2O Emission from Raised Bed of Shallot Cultivation conferred by Dr. Setiari Marwanto, and the 3rd is Sampling and Measuring Leachates in Soils Using Ion-Exchange Resins talked by Dr. Linca Anggria.

The seminar continues with the second session which were contains two sub themes. The first sub-theme was Assess Nitrogen and Phosphorous Response on Shallot Crops presented by Dr. Edi Husen and the second sub-theme is Benchmarking Practice Change – A Baseline Survey of the Use of Fertilization on Shallot Farming in Brebes Regency, Central Java talked by Dr. Irawan.

The third session consists of two sub themes i.e., Mitigate the Impact of Soil Pathogens and Improve Soil Biology in Coastal Vegetable Production as the first sub-theme that presented by Prof. Siti Subandiyah and 2 team members. The second sub-theme is The Management of Pepper Yellow Leaf Curl Virus (PYLCV) Diseases presented by Prof. Sri Hendrastuti Hidayat.

The last session of this seminar deal with pesticides application in the vegetable and agronomic practices. The first sub-theme is Strategies to Reduce Excessive Pesticide Use and Improve Control Efficacy in Vegetable Systems which consists of two activities: (i) Assessing Farmer’s Pest/Disease Control Methods and Behavioral Aspects of Pesticide-Use, and (ii) Evaluation of Softer Option Approaches for Shallot Pest Controls that presented by Dr. Witono Adiyoga and Team. The second sub-theme is The Impact of Improved Agronomic Practices on Shallot Productivity and Seed Production that presented by Dr. Arlyna Budi Pastika.

In the closing remark, Dr. Asmarhansyah, on behalf of ICALRRD, gave appreciation to all participants and stated that the feedbacks, comments, and suggestion from the panelist and other participants will be an important note to improve the results and answer the objective and goal of the research project.

training 2 minBogor- BBSDLP mengikuti GSOCseq – AFACI (The Asian Food and Agriculture Cooperation Initiative) Training secara online yang dilaksanakan oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) pada tanggal 17 -21 Januari 2022. Pada hari pertama, kegiatan training yang mengusung tema Preparation of the Soil Atlas of Asia through The Update of National Soil Maps and National Soil Information Systems for AFACI Countries” tersebut, diikuti 75 peserta dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Philipina, Kamboja, Thailand, Vietnam, Laos, Kysgyztan, Nepal dan Bangladesh.

Acara di buka dengan sambutan dari Dr. Park Joungyoon, dari AFACI selaku Senior Deputy Secretary General, AFACI Secretariat. Kemudian dilanjutkan dengan pendahuluan mengenai The Global Soil Organic Carbon Sequestration (GSOCseq) Initiative terkait pentingnya, prosesnya, manfaat serta timeline. Disampaikan pula materi mengenai General framework (Business as Usual, SSM1-SSM2-SSM3, Meta-Analysis) serta Product specifications. Materi disampaikan oleh Dr. Luciano Di Paolo dan Dr. Gullermo Peralta. Acara dilanjutkan dengan diskusi dan umpan balik dari partisipan dari tiap perwakilan negara.

GSOCseq - AFACI Training merupakan bagian dari Soil Global Partnership dengan AFACI. Project ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas negara-negara AFACI dalam pengelolaan dan pemrosesan data tanah untuk meningkatkan interoperabilitas data tanah, pengembangan peta tanah dan pembentukan serta penguatan sistem informasi tanah nasional di bawah GloSIS.

Penyelenggaraan training ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan para peserta dalam pemetaan tanah. Selain itu, kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk harmonisasi terkait prosedur dan metodologi serta integrasi para ahli antar negara, khususnya negara-negara yang hadir. (LQ/MM/AH/AS)

urban6Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) menyelenggarakan bimbingan teknis online dengan tema Urban Farming (13/01). Pada bimbingan teknis kali ini menghadirkan narasumber Dr. Asep Nugraha Adiwinata sebagai peneliti madya di BBSDLP dengan moderator Prof. Sukarman. Bimtek dibuka oleh Dr. Asmarhansyah selaku Koordinator Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian. 

Dalam paparan Dr. Asep Nugraha sebelumnya telah dijelaskan mengenai beberapa teknologi urban farming diantara jenis – jenis teknologi urban farming yaitu Vertikultur, Aquaponik, Wall Gardening dan Hidroponik. Dalam system hidroponik sendiri ada berbagai tipe yaitu: Sistem sumbu (wick system), Rakit apung, NFT - Nutrient Film Technique, DFT - Deep Flow Technique, Dutch Bucket.

Beberapa contoh tanaman hidroponik yang cocok untuk pengembangan urban farming yang sederhana diantaranya adalah pockcoy, bayam merah, selada dan kangkung. Berbagai perawatan diperlukan untuk mendapatkan hasil panen yang optimal, misalnya rutin dalam mengecek kondisi air larutan nutrisi, intensitas cahaya, dan kondisi tanaman. Selain itu, media tanam, kotak penampungan dan sanitasi lingkungan perlu selalu dijaga dalam kondisi bersih. (AH/MM/AS)

urban1Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) menyelenggarakan bimbingan teknis online dengan tema Urban Farming pada hari Kamis 13 Januari 2022. Pada bimbingan teknis kali ini menghadirkan narasumber Dr. Asep Nugraha Adiwinata sebagai peneliti madya di BBSDLP dengan moderator Profesor Sukarman. Bimtek dibuka oleh Dr. Asmarhansyah selaku Koordinator Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian. 

Paparan Dr. Asep Nugraha menjelaskan tentang sistem urban farming yang merupakan suatu sistem pertanian di perkotaan atau kota-kota besar untuk mensiasati keterbatasan lahan dengan memanfaatkan lahan-lahan sempit, lahan terlantar sehingga produktif dan enak dipandang. Adapun jenis – jenis teknologi urban farming yaitu Vertikultur, Aquaponik, Wall Gardening dan Hidroponik.

Vertikultur merupakan teknik budidaya secara vertikal, sangat sesuai untuk sayuran seperti bayam, kangkung, kucai, sawi, selada, kenikir, seledri, dan sayuran daun lainnya. Aquaponik adalah sistem produksi pangan, khususnya sayuran yang diintegrasikan dengan budidaya ikan, udang, dan siput, dalam suatu lingkungan symbiosis. Wall Gardening termasuk dalam jenis budidaya tanaman vertical, namun memanfaatkan tembok atau dinding sebagai tempat untuk menempatkan modul pertanaman

Sementara itu, dalam sistem hidroponik sendiri ada berbagai tipe yaitu: Sistem sumbu (wick system), Rakit apung, NFT - Nutrient Film Technique, DFT - Deep Flow Technique, Dutch Bucket.

Hidroponik sistem sumbu (wick system) merupakan sistem hidroponik yang paling sederhana, karena sistem ini tidak perlu menggunakan instalasi dan listrik, namun memanfaatkan gaya kapilaritas untuk membantu nutrisi diserap ke akar tanaman. Sedangkan pada sistem rakit apung,  memerlukan alat dan bahan yang mudah diperoleh (stereofoam, tandon nutrisi dan netpot) dan tidak akan mengganggu sistem pertumbuhan tanaman jika listrik padam.

Hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) adalah sistem hidroponik yang menggunakan sistem sirkulasi nutrisi dengan aliran nutrisi yang tipis atau serupa dengan film. Sedangkan, hidroponik DFT (Deep Flow Technique) mensirkulasi air dan nutrisi dengan menggunakan metode genangan (ketinggian air 4-5 cm).

Jenis sistem hidroponik yang terakhir adalah Sistem Dutch Bucket yang menggunakan tetesan air nutrisi yang menetes secara terus menerus ke dalam bak/ember tanaman dan sisa air nutrisi dialirkan kembali melalui selang/pipa yang menuju ke penampungan air nutrisi. Sistem ini lebih sering digunakan untuk budidaya dengan jenis tanaman yang memiliki akar tunggang seperti melon, cabai, paprika, tomat dan lain-lain. (AH/MM/AS)   

 

 urban2 urban4   urban3
 Gambar Urban Farming Vertikultur      Gambar Hidroponik Sistem Rakit Apung    Gambar Urban Farming Aquaponik

 

 

 

 

 

 

                                  

Mentan 1Bogor – Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, kunjungi Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP)  pada Rapat koordinasi Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan)  mengenai Dampak Perubahan Iklim (20/12). Turut hadir secara langsung Sekretaris Jenderal Kementan, Kepala Balitbangtan, dan Pejabat Eselon 1 serta Eselon 2 lainnya. Tak hanya terkait dampak perubahan iklim, pada kesempatan ini dipaparkan juga berbagai Sistem Informasi yang dikembangkan oleh Balitbangtan melalui BBSDLP.

Kepala Balitbangtan, Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si, menjelaskan pentingnya upaya mitigasi terhadap dampak perubahan iklim dan sumber emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari sektor Pertanian  yang diantaranya adalah kotoran ternak, padi sawah , pupuk N dan lainnya.  “Tidak hanya mitigasi, adaptasi sudah menjadi prioritas untuk menghadapi dampak perubahan iklim, misalnya penyediaan bangunan penampung air, penerapan teknologi modifikasi cuaca, aplikasi teknologi hemat air, pemanfaatan kalender tanam, pemupukan berimbang dan lainnya.” ujar Fadjry.

Mendukung penjelasan tersebut, Kepala BBSDLP Dr.Husnain memaparkan berbagai Sistem Informasi yang dikembangkan oleh BBSSDLP, seperti SISCrop 2.0 yang menyediakan data standing crop padi dan produktivitasnya serta Sistem Kalender Tanam Terpadu (KATAM) yang juga memuat informasi jadwal tanam, tingkat kerawanan banjir, varietas eksisting, pemupukan, dan lainnya. SISCrop 2.0 dan KATAM ini dapat diakses melalui Sistem Informasi INA SOIL  AGRO (Indonesian Soil and Agro-climate  Information System). “INA SOIL AGRO ini memuat berbagai sistem informasi yang berkaitan dengan tanah dan iklim, termasuk SISCrop 2.0 dan KATAM. Tidak hanya itu, sistem ini juga memuat peta tanah dan peta tematik lainnya yang akan terus dilengkapi untuk seluruh Indonesia.” ujar Husnain.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengapresiasi adanya sistem informasi yang dapat membantu ketersediaan data pertanian, baik itu produktivitas, luas lahan, dan iklim. Mengingat permasalahan perubahan iklim telah menjadi fokus setiap negara. “Diseminasi terkait perubahan iklim harus kuat. Mindset terhadap climate change dan planet yang rusak harus muncul dari setiap individu. Kita harus pasang target, berapa persen emisi GRK yang bisa kita turunkan. Namun tentu, semua itu harus tetap menjaga produktivitas pertanian kita.” jelas Mentan dalam arahannya.

Terkait urgensi tersebut, Mentan merasa pentingnya pembentukan gugus tugas untuk setiap wilayah. Wilayah ini dapat dibagi dalam provinsi atau pembagian barat-tengah-timur Indonesia. Diperlukan kerjasama dari berbagai pihak dan sektor yang ada untuk menghadapi permasalahan perubahan iklim yang ada. (MM/AS/WA)

bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling