Info Terkini

WhatsApp Image 2021 10 21 at 1.02.50 PMBimbingan Teknis (Bimtek) Online Sumberdaya Lahan Pertanian kembali dilaksanakan dengan topik "Mengurangi Dampak Negatif Pestisida untuk Pertanian yang Lebih Baik" yang disampaikan oleh Poniman, S.P, M.Ling, Peneliti Balai Penelitian Lingkungan Pertanian. Dimoderatori oleh Nourma Al Viandari, S.P, pemaparan materi dan diskusi pada Bimtek ke-10 ini dapat berjalan dengan lancar. Lebih dari 160 peserta hadir dari berbagai kalangan, seperti peneliti, penyuluh, akademisi dan lainnya. Dibuka oleh Dr. Asmarhansyah, diharapkan Bimtek ini juga dapat memberikan manfaat bagi para peserta, mengingat pentingnya dampak pestisida pada pertanaman dan kesehatan petani, serta lingkungan.

“Banyak petani yang bergantung pada penggunaan pestisida karena penggunaannya mudah, daya bunuh dan hasil kerjanya juga cepat. Padahal semua pestisida adalah racun. Oleh karena itu, pestisida tersebut harus digunakan secara hati-hati, sesuai anjuran dan peruntukkannya”, ujar Poniman.

Dijelaskan juga dampak-dampak negatif dari penggunaan pestisida, diantaranya seperti menurunnya kualitas produk pertanian, terganggunya keseimbangan alam, dan timbulnya berbagai pernyakit pada manusia. Poniman melanjutkan bahwa penggunaan pestisida yang baik itu harus sesuai anjuran, hanya sebagai cara atau opsi terakhir, menjauhkan dari jangkauan anak-anak dan menggunakan pelindung diri (APD) saat menyemprot.

“Menurunkan residu pestisida dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik itu preventif maupun kuratif. Cara preventif, yaitu dengan menggunakan pestisida secara tepat (jenis, dosis, cara, sasaran, waktu dan tempat), menggunakan biopestisida dan memaksimalkan fungsi musuh alami. Secara kuratif, dapat dilakukan dengan cara remediasi lahan, penggunaan urea berlapis biochar, dan perlakuan produk saat pra konsumsi, seperti mencuci produk dan mengonsumsi makanan yang telah matang.” papar Poniman.

Ditutup dengan pantun dari moderator, Nourma, sesi diskusi berakhir dengan kesimpulan beliau terkait perlunya memperhatikan penggunaan pestisida pada pertanaman. Diharapkan Bimtek Online selanjutnya dapat memberikan materi-materi yang bermanfaat pula. (MM/AS/WA)

siscrop

(18/10) Bertempat di Agrosinema, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), dilaksanakan Rilis SISCrop 2.0, yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari versi sebelumnya (SISCrop 1.0). Rilis dilakukan secara langsung oleh Kepala Badan Litbang Pertanian dan dihadiri Sekretaris Badan, Kepala PSEKP, Kepala Pusdatin Kepala Puslitbangtan, Kepala Puslitbangbun, Kepala BB Padi, Kepala BB Biogen, Kepala BB Pascapanen, Kepala BBSDLP, Kepala BPTP seluruh Indonesia, dan tamu undangan lainnya. Selain itu, acara diikuti secara online oleh lebih dari 130 peserta yang berasal dari beragam instansi, termasuk LAPAN, LAN, Tim Gugus Tugas BPTP berbagai provinsi.

Pada versi 2.0 ini, ditambahkan informasi yang menyajikan provitas padi dan perbaikan dari segi tampilan. "Produktivitas padi merupakan hal yang sensitif, datanya selalu diperlukan tiap tahunnya. Hasil yang didapat dari SISCrop 2.0 ini dapat menjadi pelengkap, komparasi dan kerjasama dengan BPS dalam menyiapkan data terkait komoditas padi." ujar Dr. Fadjry Djufry, Kepala Balitbangtan, dalam sambutannya.

Beliau melanjutkan bahwa ke depannya, SISCrop2.0 ini terbuka untuk diperbaiki, dikoreksi, dan dilengkapi oleh semua pihak untuk kepentingan merah putih, Indonesia.

ddsdsdBimbingan Teknis (Bimtek) Online Sumberdaya Lahan Pertanian kembali dilaksanakan (06/10). Pada seri ke-8 ini, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) mengangkat topik "Konservasi Tanah pada Budidaya Pertanian" yang disampaikan oleh Dr. Ir. Maswar, M.Agric.Sc dan dipandu oleh Dr. Rahmah Dewi Yustika. Dihadiri oleh sekitar 400 peserta dari berbagai kalangan, baik peneliti, petani, penyuluh dan mahasiswa, acara dibuka oleh Sub Koordinator Pendayagunaan Hasil Pertanian, Drs. Widhya Adhy yang berharap materi bimtek kali ini pun dapat memberikan manfaat bagi peserta.

“Tantangan global pertanian diantaranya adalah terkait perubahan iklim dan erosi yang terjadi. Penerapan konservasi tanah diperlukan tidak hanya ditujukan untuk mengendalikan erosi, tetapi juga untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas tanah yang terdegradasi.” ujar Dr. Maswar.

Peneliti dari Balai Penelitian Tanah ini juga menyebutkan ada beberapa hal yang mempengaruhi erosi, seperti perubahan tutupan lahan, pengolahan tanah yang kurang tepat, hujan, aliran permukaan (run off), pengaruh iklim dan lainnya. “Untuk menentukan alternatif teknik konservasi tanah dan air yang diterapkan dapat didasarkan pada kemiringan lahan, kedalaman solum, dan kepekaan tanah terhadap erosi.”

Dalam sesi pemaparan materi, Dr. Maswar menjelaskan berbagai metode aplikasi konservasi tanah dan air yang ada. Hal ini membangkitkan rasa ingin tahu para peserta, terutama mengenai kendala dan permasalahan di lapangan, yang akhirnya tersalurkan dalam sesi diskusi selama kurang lebih satu jam.

Mengakhiri sesi diskusi, moderator Dr. Rahmah menyimpulkan bahwa konservasi sangat penting untuk diterapkan pada budidaya pertanian demi mengurangi erosi dan aliran permukaan,  baik dengan metode teknis, vegetatif, dan kimia. Diharapkan dengan penerapan konservasi tanah yang tepat, dapat mendukung pertanian berkelanjutan demi masa depan yang lebih baik. (MM/WA)

bimtek 9 5

Lebih dari 250 peserta menghadiri Bimbingan Teknis (Bimtek) Online yang diadakan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (13/10). Dimoderatori Anggri Hervani, S.P. M.Sc, materi terkait "Model Pengelolaan Air pada Berbagai Agroekosistem untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan Pertanian" dipaparkan oleh narasumber dari Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat), Ir. Hendri Sosiawan, CESA. Pada Bimtek ke-9 ini, diskusi berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta dalam mengajukan pertanyaan dan juga jawaban yang diberikan oleh narasumber.

“Permasalahan sumberdaya air di sektor pertanian itu banyak, seperti banjir, kekeringan, perubahan penggunaan lahan, degradasi, ketersediaan air yang terbatas dan lainnya. Diperlukan model pengelolaan sumberdaya air untuk lahan pertanian ini, terdiri dari eksplorasi, eksploitasi, distribusi, dan teknik penyiraman.” ujar Hendri.

Beliau juga menjelaskan berbagai jenis teknik penyiraman dan model-model irigasi di berbagai agroekosistem, seperti lahan kering iklim kering, lahan sawah, dan lahan basah rawa. Jenis irigasi yang dipaparkan diantaranya adalah irigasi tetes, irigasi curah, irigasi alur dan lainnya.

“Jenis irigasi yang paling efisien itu irigasi tetes. Model ini dapat menghemat air sampai 95%, karena air didistribusikan langsung ke tanaman. Sistem distribusi sendiri terdiri dari sistem saluran terbuka dan tertutup. Sistem terbuka cocok untuk lahan yang datar, sedangkan sistem tertutup cocok untuk daerah berbukit dan bergelombang. Karena itu, umumnya sistem saluran tertutup lebih rumit.” lanjut Hendri.

Selain model pengelolaan sumberdaya air, perlu adanya sosialisasi dan membangun partisipasi masyarakat sekitar, sehingga upaya pengelolaan dalam melakukan konservasi sumberdaya air dapat terwujud secara efektif dan sinergis. Moderator, Anggri Hervani, menutup diskusi dan berharap materi Bimtek ini dapat bermanfaat bagi para peserta yang mengikutinya. (MM/AS/WA)

000000Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) kembali lanjutkan Bimbingan Teknis Online dengan mengusung judul “Ameliorasi dan Pemupukan di Lahan Rawa Menggunakan Aplikasi PATRA” yang disampaikan oleh Dr. Arifin Fahmi, SP.,M.Sc sebagai narasumber dan dipandu oleh moderator, Dr. Ir. Muhammad Alwi, M.S. Keduanya merupakan peneliti di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Terbuka untuk umum, Bimtek ke-7 ini dihadiri oleh sekitar 150 lebih peserta yang berasal dari berbagai kalangan, baik petani, peneliti, mahasiswa dan lainnya.

Aplikasi PATRA atau Pemupukan dan Ameliorasi Tanah Rawa merupakan aplikasi berbasis android hasil inovasi dari peneliti Balittra yang memiliki Sistem Pendukung Keputusan untuk membantu  dalam mengambil keputusan bagi perencana dan stakeholders terkait jumlah pupuk dan kapur untuk pertanaman padi di lahan rawa.

Lahan rawa memiliki karakteristik yang khas dibanding dengan lahan lainnya, seperti pH yang masam dan ketersediaan hara yang rendah.  “Untuk melakukan usaha tani di lahan rawa dibutuhkan berbagai upaya seperti pemupukan, pengapuran, pengairan, dan pemilihan varietas yang sesuai. Aplikasi PATRA ini dapat menjadi salah satu alat bantu bagi petani dalam mengelola pertanaman di lahan rawa.” ujar Dr. Arifin.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa aplikasi PATRA menggunakan karakteristik, pasokan hara asli, pola budidaya yang telah umum di lahan rawa sebagai pertimbangan. Hal yang perlu diketahui untuk mendapatkan rekomendasi pemupukan dan ameliorasi dari aplikasi PATRA diantaranya adalah tipe luapan lahan, cara pengelolaan jerami, nilai pH tanah, dan nilai NPK yang terkandung di lahan rawa yang dimaksud.

Aplikasi PATRA telah tersedia dan bebas diunduh di Play Store. “Kami masih terus berusaha untuk mengembangkan PATRA agar menjadi lebih baik.” ujar Dr. Ir. Muhammad Alwi. Dalam pelaksanaannya dibutuhkan data-data yang lebih banyak dan representatif terkait pemupukan dan ameliorasi di lahan rawa, sehingga ke depannya diharapkan aplikasi PATRA ini dapat lebih ramah pengguna. (MM/WA)

bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling