Info Terkini

WhatsApp Image 2021 08 25 at 10.56.17 AMBalai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) kembali menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Online Sumberdaya Lahan Pertanian pada 25 Agustus 2021. Pada Bimtek seri ketiga ini, materi yang diusung adalah “Peningkatan Mutu Pupuk Organik melalui Pengayaan Mikroba” dengan narasumber Dr. Ir. Etty Pratiwi, M.Si dan dipandu oleh Dr. Surono, M.Agr sebagai moderator. Dihadiri oleh lebih dari 600 peserta dari berbagai kalangan, acara diawali dengan arahan dari Kepala BBSDLP, Dr. Husnain, M.P., M.Sc, yang berharap adanya manfaat berkelanjutan dari Bimtek ini bagi para peserta.

“Pupuk organik yang terdaftar saat ini tidak banyak. Semoga akan lebih banyak produsen yang memproduksi pupuk organik dan pupuk hayati, terutama dari limbah yang tidak termanfaatkan. Karena ke depannya, kita akan sangat mengandalkan kedua pupuk ini mengingat manfaatnya yang sangat besar. Namun demikian tetap perlu memperhatikan standar kualitasnya.” ujar Dr. Husnain.

Dr. Etty Pratiwi dalam paparannya menyatakan bahwa “Pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Pengkayaan pupuk organik dangan mikroba (pupuk hayati) dibutuhkan untuk meningkatkan  kesuburan tanah, produktivitas, dan kekebalan tanaman terhadap patogen”.

WhatsApp Image 2021 08 25 at 11.25.15 AMPeneliti Ahli Madya dari Balai Penelitian Tanah ini juga menyebutkan bahwa mikroba pengaya yang digunakan perlu memenuhi beberapa syarat, yaitu bersifat unggul dari segi sifat fungsional dan daya tahan, tidak bersifat saling antagonis antar mikroba, serta jumlah mikroba yang ditambahkan terbukti mampu membantu tanaman dalam penyediaan atau penyerapan hara.

Antusiasme peserta terkait pengayaan mikroba pada pupuk organik, cara isolasi mikroba seperti Trichoderma, dan cara mendapatkan pupuk organik serta pupuk hayati, dapat tersalurkan pada sesi diskusi secara lancar dan komunikatif. Dr. Etty Pratiwi mengingatkan kepada peserta untuk  tidak membeli pupuk organik dan pupuk hayati dari sumber yang  tidak terpercaya, mengingat kandungan dan mutu pupuk tersebut yang  tidak pasti.

Bimtek ini merupakan bagian dari Bimtek Sumberdaya Lahan Pertanian yang dilakukan secara series setiap minggunya. Bimtek online selanjutnya akan diselenggarakan pada tanggal 1 September 2021, dengan topik “Memahami Dampak Perubahan Iklim dan Wilayah Kunci Keragaman Iklim Indonesia Mendukung Adaptasi di Sektor Pertanian”, dengan Dr. Ir. Woro Estiningtyas, M.Si dari Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi sebagai narasumber. (MM/WA).

WhatsApp Image 2021 08 18 at 3.12.08 PMBBSDLP melanjutkan sesi Bimbingan Teknis (Bimtek) Sumberdaya Lahan Pertanian dengan topik “Pengelolaan Air di Lahan Rawa Pasang Surut untuk Budidaya Padi”, Rabu (18/8) secara online. Pada Bimtek sesi 2 ini, BBSDLP menghadirkan narasumber Dr. Khairil Anwar, M.S. yang merupakan Peneliti Ahli Utama Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra). Dimoderatori oleh Prof. Masganti, acara ini dibuka oleh Koordinator Bidang KSPHP, BBSDLP, Dr. Asmarhansyah dan dihadiri sekitar 400 orang yang berasal dari berbagai instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi,  stakeholder swasta, petani, dan penyuluh.

Asmarhansyah dalam sambutannya mewakili Kepala BBSDLP mengatakan bahwa Bimtek secara online efektif dilakukan sebagai media diseminasi informasi hasil penelitian. Beliau juga menerangkan bahwa tata air sangat berperan dalam budidaya pasang surut, sehingga diharapkan Bimtek ini mampu memberikan informasi terbaru tentang pengelolaannya. “Semoga Bapak dan Ibu dapat menyimak dengan baik dan berdiskusi langsung kepada pakarnya tentang budidaya di lahan pasang surut,” harap Asmarhansyah.

Narasumber Bimtek, Dr. Khairil Anwar yang menamatkan pendidikan S3 di IPB tahun 2006 ini menerangkan pentingnya pengelolaan air pada lahan rawa.  Pengelolaan yang baik mampu meminimalkan penurunan kualitas tanah sekaligus meningkatkan produktivitas dan indeks pertanaman (IP) padi, sehingga mampu mendukung program pemerintah dalam pengembangan lahan rawa yang berkelanjutan. Lebih lanjut, Beliau juga menitikberatkan pentingnya tanggul untuk mengendalikan tinggi air serta pintu air untuk memperlancar aliran air untuk mencegah keracunan besi dan aluminium.

Bimtek ini sangat menarik atensi peserta dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada narasumber baik melalui tautan yang sudah disediakan oleh panitia maupun pertanyaan langsung pada sesi diskusi interaktif. Sebagian besar bertanya terkait pengelolaan lahan rawa untuk meningkatkan produktivitas komoditas utama padi dan cara untuk meminimalkan pengaruh cekaman. “Pengelolaan air (lahan rawa) tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus dikombinasikan dengan komponen lain seperti penggunaan komoditas yang sesuai, serta memperhatikan kondisi lingkungan seperti curah hujan, suhu, dan infrastruktur” pungkas Prof. Masganti selaku moderator menyimpulkan paparan narasumber. (NC/AS)

WhatsApp Image 2021 08 13 at 9.49.57 AMBBSDLP kembali menyelenggarakan seri Bimbingan Teknis (Bimtek) online bertema “Sumberdaya Lahan Pertanian”. Seri pertama Bimtek dilaksanakan hari Jumat (13/8), dengan membahas topik Potensi Sumberdaya Lahan Dan Paket Rekomendasi Pengelolaan Lahan yang disajikan oleh narasumber yaitu peneliti senior BBSDLP, Prof. Dr. Ir. Sukarman, MS, dengan moderator Dr. Hikmat, MSi. Acara ini dibuka oleh Kepala BBSDLP dan diikuti oleh sekitar 600 lebih peserta yang berasal dari Petani, Penyuluh, Akademisi dan Peneliti yang tersebar pada berbagai instansi di seluruh provinsi di Indonesia.

Husnain dalam sambutannya mengungkapkan bahwa dalam kondisi pandemi, pemerintah harus mampu mencari ide untuk tetap memberikan layanan informasi dan diseminasi kepada masyarakat. Bimtek secara Online melalui platform Aplikasi Zoom ini merupakan salah satu solusinya. “Ini menurut saya efektif dalam kondisi pandemi seperti ini, tanpa bertemu (secara langsung), namun dapat berkomunikasi secara interaktif dua arah antara narasumber dan peserta”.

Dalam materinya, Prof. Sukarman menerangkan peta kesesuaian lahan yang didasarkan dari peta tanah semi detail yang memuat karakteristik data sumberdaya lahan. Narasumber yang juga menjadi Ketua Kelti Sintesis Kebijakan (Sinjak) BBSDLP sejak tahun 2019 ini melakukan simulasi cara membaca Peta Arahan Komoditas dan Rekomendasi Pengelolaan Lahan (RPL) untuk komoditas padi, jagung, dan kedelai.

Menutup acara Bimtek ini, Kepala BBSDLP, Husnain mengatakan bahwa buku RPL dapat diperoleh secara gratis. “BBSDLP telah menghasilkan 511 peta (kesesuaian lahan dan rekomendasi pengelolaan lahan) kabupaten dan kota, dan bagi yang membutuhkan dapat menghubungi panitia. Jangan lupa pantau website dan medsos kami untuk update Bimtek selanjutnya,” pungkas Husnain. (NC/AS)

mentan dorong kepala daerah percepat penyerapan kurJakarta - Presiden Joko Widodo pada Sabtu (14/8) kemarin melepas kegiatan Merdeka Ekspor senilai lebih dari Rp 7 triliun untuk 7 hari. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan kegiatan ekspor tersebut bukanlah seperti ekspor yang biasa dilakukan.

"Ekspor yang kita lakukan adalah ekspor yang akan menyentuh harkat dan martabat sebagai anak bangsa. Menyoal psikologi nasionalisme kita, sekaligus menjadi bagian untuk menghadirkan optimisme bangsa besar Indonesia di dalam menghadapi turbulensi dunia," tegas Syahrul dalam keterangan tertulis, Minggu (15/8/2021).

Syahrul menuturkan Merdeka Ekspor juga merupakan ekspose kinerja Kementerian Pertanian selama dua tahun, khususnya di masa pandemi. Hal ini sekaligus memperingati hari kemerdekaan ke-76 Indonesia.

Menurutnya, hari kemerdekaan ini menjadi hari kebanggan bagi bangsa Indonesia, yang merupakan negara ke-4 terbesar di dunia.

"Perayaan kemerdekaan adalah perayaan sebuah kebanggaan anak bangsa. Kebetulan hari ini kita yang menjalankan amanah sebagai gubernur, bupati, dan ini adalah keterpanggilan kita di tengah suasana dunia, nasional yang tengah menghadapi sebuah turbulensi yang luar biasa, yaitu COVID-19," ucapnya.

Di sisi lain, Syahrul mengatakan pandemi COVID-19 merupakan tantangan yang tidak ringan dan dihadapi oleh hampir semua negara.

"Bukan hanya negara besar yang sedang berjuang melawan COVID ini, tapi negara-negara kecil dan menengah pun bersama-sama menghadapinya. Dan kita belum punya obat yang mujarab menghadapi COVID ini," ungkap Syahrul.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor pertanian pada 2020 mencapai Rp 451,8 triliun atau meningkat 15,54% dibandingkan periode sama pada 2019 yang hanya mencapai Rp 390,16 triliun. Adapun struktur produk ekspor masing-masing adalah 89% hasil olahan dan 11% berupa produk segar.

Sementara itu, hingga semester I, yakni Januari-Juni 2021, nilai ekspor mencapai Rp 277,95 triliun atau meningkat 40,29% dibandingkan periode sama pada 2020 yang hanya mencapai Rp 198,13 triliun. Dengan struktur produk ekspor masing-masing adalah 91,75% hasil olahan dan 8,29 % berupa produk segar.

"Pertanian adalah satu kekuatan dan pilar akan hadirnya kekuatan negara. Pertanian adalah penyangga utama. Ayo, kita hadirkan optimisme dalam Merdeka Ekspor ini," tutur Syahrul.

Diketahui, Merdeka Ekspor telah diluncurkan langsung oleh Jokowi dari Istana Bogor secara serentak dari 17 pintu ekspor, yaitu Pelabuhan Laut Tanjung Priok, Bandar Udara Soekarno Hatta, Pelabuhan Laut Tanjung Perak, Pelabuhan Laut Tanjung Mas, Pelabuhan Laut Belawan, Pelabuhan Laut Makassar New Port, Pelabuhan Laut Jetty Balikpapan.

Ada juga Pelabuhan Laut Dumai, Pelabuhan Laut Panjang, Pelabuhan Sungai Boom Baru, Bandar Udara Hang Nadim, Pelabuhan Laut Trikora, Pelabuhan Laut Talang Duku, Pelabuhan Laut Dwikora, Pelabuhan Laut Batu Ampar, Pelabuhan Laut Teluk Bayur, dan Pelabuhan Laut Bitung.

 

Sumber: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5682804/mentan-sebut-kegiatan-merdeka-ekspor-bukanlah-ekspor-biasa?_ga=2.180646887.1790750534.1629078405-1010236378.1617692054

WhatsApp Image 2021 08 07 at 2.21.08 PM 7Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) mendukung peran perempuan untuk berkiprah lebih luas sebagai ilmuwan di bidang ilmu tanah. Demikian disampaikan Ketua Umum HITI, Prof. Budi Mulyanto, pada acara pelantikan Pengurus Pusat HITI periode 2019—2023 yang digelar Sabtu (7/8/2021) pagi tadi.

Menurut Budi, informasi kiprah perempuan sebagai ilmuwan di Indonesia menjadi penting bagi organisasi dunia seperti United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). “Di Indonesia sebetulnya isu bias gender tidak menjadi persoalan penting seperti di barat, tetapi dunia membutuhkan data yang berkaitan dengan indeks kesetaraan gender,” kata Budi.

Menurut Guru Besar Ilmu Tanah di Universitas Andalas, Dian Fiantis, publikasi UNESCO menyebut partisipasi perempuan sebagai ilmuwan di dunia berkisar 8—63%. “Angka rata-ratanya 30%. Persentase paling rendah di Ethiopia dan terbesar di Bolivia,” kata Dian. Persentase Bolivia melebihi proporsi ilmuwan perempuan di Perancis yang hanya 26%.

Namun, data tersebut belum menyertakan jumlah ilmuwan perempuan di Indonesia. Terkait hal tersebut, Dian berupaya menggali data informasi kiprah perempuan dalam disiplin ilmu tanah. “Berdasarkan sensus penduduk 2020, proporsi perempuan Indonesia 49,42% sehingga dapat dimaknai seimbang dengan pria. Kita ingin tahu bagaimana dengan kiprah perempuannya dalam disiplin ilmu tanah,” kata Dian.

Riset Dian mengungkap pada kondisi saat ini jumlah doktor perempuan yang menjadi dosen di program studi ilmu tanah baru 16%, sementara untuk profesor baru 3%. Demikian pula jumlah dosen perempuan ilmu tanah baru 30—35%, kecuali di Universitas Andalas dan Universitas Padjajaran yang jumlah pengajar perempuan melebihi laki-laki.

“Memang masih rendah kiprahnya, tetapi di masa mendatang ada harapan karena data-data mahasiswa ilmu tanah perempuan justeru sebaliknya,” kata Dian. Sepanjang 2011—2020 jumlah mahasiswa ilmu tanah di 27 universitas setiap tahun mengalami tren peningkatan dari 40 orang menjadi 60 orang. Jumlah perempuan hampir 50%, tetapi beberapa universitas seperti Unibraw, Gadjah Mada, IPB jumlah mahasiswa perempuan mencapai 70%.

Menurut Budi, masih rendahnya kiprah ilmuwan ilmu tanah perempuan di Indonesia di masa lalu bukan karena kendala kebijakan, tetapi karena tantangan pekerjaan. “Bias gender di Indonesia bukan sebuah problem bagi Indonesia. Kita punya akar sejarah yang panjang peran perempuan sebagai pemimpin. Sebut saja Ratu Sima, Cut Nyak Dien, hingga Malahayati,” kata Budi.

Tantangan pekerjaan di masa lalu bagi ilmuwan ilmu tanah adalah survei lahan ke tengah hutan atau menggali profil tanah. Perempuan di masa itu paling hanya berperan di bidang laboratorium atau kesuburan. Di masa sekarang pekerjaan itu bergeser karena ruang lingkup ilmu tanah menjadi lebih luas. “Sekarang berkembang pada pekerjaan yang netral gender. Contohnya manajemen pemanfaatan lahan yang lebih luas hingga ke pemetaan digital dan artifisial intelligent,” kata Budi.

Budi juga menjelaskan, undang-undang yang berkaitan dengan tanah juga sudah lama bebas dari bias gender. “Di Indonesia hak atas tanah bagi laki-laki dan perempuan setara. Bahkan ada hukum adat di Indonesia yang memberi penguasaan tanah lebih besar kepada perempuan,” kata Budi. (Destika Cahyana)

bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling