Info Terkini

WhatsApp Image 2021 09 08 at 11.01.56 AMBimbingan Teknis (Bimtek) Sumberdaya Lahan Pertanian ke-5 dengan bertopik “Pemanfaatan Limbah Pertanian sebagai Sumber Inovasi Pupuk dan Pembenah Tanah Mendukung Pertanian Ramah Lingkungan” disampaikan oleh Sukarjo, S.T.P., M.Si., Peneliti Ahli Madya Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan), Rabu (8/9). Bimtek yang dihadiri lebih 200 peserta yang berasal mulai dari peneliti lingkup Balitbangtan, akademisi, penyuluh pertanian, petani, pemangku kepentingan dari Dinas Pertanian serta mahasiswa itu dibuka oleh Sub Koordinator Pendayagunaan Hasil Pertanian, Drs. Widhya Adhy. Dalam sambutannya mewakili Kepala BBSDLP, Widhya Adhy menyampaikan harapannya agar peserta dapat mengikuti dengan baik Bimtek ini karena ternyata limbah pertanian apabila disentuh dengan inovasi teknologi akan sangat bermanfaat bagi kepentingan pertanian.

Sukarjo menjelaskan bahwa pertanian ramah lingkungan merupakan jawaban atas dampak negatif dari revolusi hijau. Salah satunya dengan memanfaatkan limbah pertanian semisal jerami, serasah, tongkol jagung, sekam padi, kulit kacang, tempurung kelapa dan lainnya yang dapat dikonversi sebagai bahan pupuk organik, anorganik maupun pembenah tanah. Contohnya menjadi kompos, biokompos, kompos cair, urea berlapis arang aktif atau biochar, ataupun biochar atau arang aktif itu sendiri. “Dukungan ke pertanian dari produk tersebut secara umum mampu meningkatkan produksi, menurunkan residu pestisida, mengikat logam berat, serta mengurangi dampak Global Warming,” papar Sukarjo. “Jadi, limbah pertanian juga punya nilai tambah yang menjanjikan dengan inovasi yang tepat, selain itu peluang inovasi pupuk dan pembenah tanah berbasis limbah juga masih terbuka lebar,“ pungkas Sukarjo.

WhatsApp Image 2021 09 08 at 11.02.39 AMBanyaknya pertanyaan baik dari tautan yang disediakan maupun secara diskusi interaktif memaksa moderator, Dr. Helena untuk memilih dan memilah pertanyaan sehingga dapat mewakili seluruh tipe peserta dari akademisi, peneliti, penyuluh, maupun juga petani. Banyak informasi baru, masukan dan saran yang didapatkan pada sesi diskusi ini. Menutup sesi diskusi, moderator memberikan highlight bahwa pertanian ramah lingkungan dengan optimalisasi limbah lingkungan menjadi produk dan pembenah tanah akan dapat menanggulangi dampak negatif dari upaya peningkatan produksi pertanian. Selain itu, optimalisasi limbah dapat mengurangi input/cost petani. (NC/AS/WA)

berita070921Keterbatasan lahan produktif menyebabkan ekstensifikasi pertanian mengarah pada lahan-lahan marjinal. Lahan gambut merupakan salah satu jenis lahan marjinal yang dipilih, terutama oleh perkebunan besar, karena relatif lebih jarang penduduknya sehingga kemungkinan konflik tata guna lahan relatif kecil. Sebab itu, Penyuluh dan Petani diajak untuk memanfaatkan lahan tersebut karena memiliki potensi dalam meningkatkan produktivitas pertanian.

Hal ini disampaikan dalam Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 31, Jumat (03/09/2021). Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan lahan rawa yang tersebar Indonesia sebagian besar mempunyai pontensi untuk pengembangan komoditas pertanian.

"Lahan rawa Indonesia luas, sebagian besar potensi untuk lahan pertanian, namun harus hati-hati harus dicari komoditas yang cocok untuk di lahan rawa", ujar Mentan.

Diketahui Indonesia memiliki lahan gambut terluas di antara negara tropis, yaitu sekitar 21 juta ha, yang tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua). Namun karena variabilitas lahan ini sangat tinggi, baik dari segi ketebalan gambut, kematangan maupun kesuburannya, tidak semua lahan gambut layak untuk dijadikan areal pertanian. Dari 18,3 juta ha lahan gambut di pulau-pulau utama Indonesia, hanya sekitar 6 juta ha yang layak untuk pertanian.

Sementara secara virtual, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi menjelaskan bahwa gambut merupakan termasuk lahan yang potensial, terutama yang ada di Sumatera, Kalimantan dan Papua.

“Lahan tersebut harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas. Indonesia memiliki banyak tanah gambut, maka harus dikelola dengan baik agar dapat menghasilkan produksi pertanian yang maksimal. Selain itu Penyuluh pertanian dan Petani Millenial harus tau bagaimana mengelola lahan gambut yang bijak, karena kalau sampai salah bukannya menguntungkan tapi malah merugikan” terang Dedi.

Secara tegas Dedi mengingatkan kembali bahwa tugas kita semua adalah meningkatkan produktivitas dan potensi wilayah pertanian. “Ciri dari keberhasilan pembangunan pertanian yaitu ada di peningkatan produksi karena pertanian adalah andalan dari perekonomian nasional terutama pada saat adanya wabah Covid19”, tambahnya.

Sedangkan Narasumber MSPP Masgati Peneliti Utama Balai Pertanian Lahan Rawa dengan rinci menjelaskan bahwa tanah gambut adalah bahan organik yang tertimbun secara alami, memiliki kondisi basah berlebihan, tidak mampat dan terbentuk dalam kondisi masam.

“Selain itu gambut juga memiliki ketebalan diatas 50 cm. Tanah gambut memiliki lebih dari 30% bahan organik dan fraksi mineral mengandung 60% lempung dan faktor yang mempengaruhi pembentukan gambut yaitu sumber dan neraca air, kandungan mineral dalam air serta iklim yang meliputi curah hujan, suhu dan kelembaban”, ujar Masgati.

Menurutnya, pengelolaan kesuburan lahan gambut harus dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan serta mengurangi kerusakan lingkungan. “Lahan gambut adalah potensi pertanian masa depan, namun bisa mengalami perubahan dikarenakan pengelolaan yang tidak berimbang. Kecepatan pembentukan gambut adalah 0,1 mm per tahun, maka perlu waktu yang lama untuk memulihkannya” katanya.[TIM]




Sumber Artikel :

https://akurat.co/kementan-dorong-petani-dan-penyuluh-manfaatkan-potensi-lahan-gambut-tingkatkan-produktivitas (Erizky Bagus)

01092021Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) mengadakan sosialisasi “Bahaya Penyalahgunaan Narkoba”, dalam upaya meningkatkan pengetahuan, pencegahan, dan pemberantasan narkoba di lingkungan BBSDLP (01/09). Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Balai Besar yang disampaikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha, Eman Sulaeman, S.P, M.Si dan dihadiri secara online oleh seluruh pegawai lingkup BBSDLP.

“Peran BNN dalam sosialisasi pencegahan dan pemberantasan narkoba ini sangat besar. Mengingat banyaknya obat yang disalahgunakan atau obat terlarang yang diperjualbelikan di pasar gelap. Karena itu, penting bagi seluruh pegawai BBSDLP untuk waspada terhadap masalah narkoba ini.” ujarnya.

Narasumber pertama, Widyawati S. KM, Penyuluh dari BNN, yang memaparkan Rencana Aksi Nasional Penguatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (RAN P4GN). “Rencana Aksi Nasional P4GN ini merupakan bagian dari Instruksi Presiden No.2 Tahun 2020, sehingga lembaga pemerintah termasuk kementerian/lembaga perlu menerapkannya. Urgensi terkait narkoba ini sangat besar. Tahun 2015 Indonesia darurat narkoba, ditinjau dari banyaknya aparat yang terjerat, potensi pasar yang meningkat dan kerugian jiwa dan mental. Setidaknya 30-50 orang meninggal akibat narkoba setiap harinya.” jelas Widyawati.

Narasumber lainnya, Gino Prasodjo S.E. menyampaikan materi terkait Bahaya Penyalahgunaan Narkoba, seperti penyalahgunaan PCC (Paracetamol, Cafein, Carisoprodol) dan narkoba golongan lainnya. “Penyalahgunaan narkoba ini tidak melihat siapa korbannya, dari anak usia SD sampai pekerja swasta atau pemerintah dapat terjerat. Narkoba menimbulkan sifat jahat seperti habitual, adiktif dan toleran terhadap narkoba. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kepribadian, lingkungan dan ketersediaan narkoba.” Gino Prasodjo menjelaskan.

Diharapkan Kementerian/Lembaga dapat membuat regulasi terkait RAN P4GN untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya narkoba. Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk regulasi yang memuat materi pencegahan, antisipasi dini, penanganan, partisipasi masyarakat, rehabilitasi, pendanaan, dan sanksi (MM/AS/WA).

WhatsApp Image 2021 09 01 at 11.15.40 AM 1Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) kembali selenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) online, pada 1 September 2021. Judul yang diangkat “Memahami Dampak Perubahan Iklim dan Wilayah Kunci Keragaman Iklim Indonesia Mendukung Adaptasi di Sektor Pertanian”, dengan pemateri Dr. Ir. Woro Estiningtyas, M.Si dan dipandu oleh Dr. Ir. Aris Pramudia, M.Si sebagai moderator. Bimtek tersebut disimak dengan lancar dan jelas oleh 400 lebih peserta yang hadir.

Acara dibuka dengan arahan dari Kepala BBSDLP, yang disampaikan oleh Koordinator Substansi Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian, Dr. Asmarhansyah. “Masalah perubahan iklim ini sangat menarik, karena sangat terasa dampaknya di sektor petanian. Tidak hanya terjadinya fenomena banjir dan kekeringan, namun juga serangan OPT. Hal tersebut tentu sangat mempengaruhi produktivitas dan produksi tanaman baik dari segi kualitas maupun kuantitas.” ujar Beliau.

Pentingnya iklim dan pemantauannya bagi sektor pertanian, disampaikan oleh Narasumber, Dr. Ir. Woro Estiningtyas, M.Si. “Perubahan iklim dapat meningkatkan potensi penurunan produksi di sektor pertanian. Selain karena lahan yang terkena banjir dan kekeringan, pertanaman dapat terkena serangan OPT, mengingat populasi OPT sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Produksi ternak juga dapat menurun karena rendahnya pakan ternak atau air yang diberikan.” terang Beliau.

SS bimtek minLebih lanjut Beliau sampaikan bahwa karena wilayah Indonesia yang sangat luas, terdapat kesulitan untuk mengamati semua daerah secara detail, sehingga dibuatlah Wilayah Kunci Keragaman Iklim di Indonesia. Dengan penentuan berdasarkan korelasi dan signifikansi antara curah hujan dengan indeks ENSO.

“Hasil kajian data Bappenas (2019) menunjukkan bahwa pada tahun 2023, perubahan iklim dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan. Karena itu penting untuk melakukan pemantauan kondisi iklim.” lanjut Peneliti Madya Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi ini.

Beliau juga menyampaikan bahwa pertanian sangat rentan terhadap perubahan iklim, hal ini tercermin dari banyaknya teknologi adaptasi yang dihasilkan oleh sektor ini dibandingkan dengan sektor lainnya. Berbagai teknologi adaptasi dibuat dengan tujuan untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan dari perubahan iklim.

Diharapkan berbagai teknologi adaptasi yang ada seperti teknologi hemat air, irigasi, panen air, asuransi dan berbagai sistem informasi (KATAM, Prediksi Iklim, SIRAMI KEBUNKU), dapat mengurangi risiko dari perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman. (MM/AS/WA)

WhatsApp Image 2021 08 30 at 2.37.28 PMTanam perdana Kopi Robusta dan Rumput Biograss Agrinak menandai resminya Kegiatan Pengembangan Pertanian Adaptif Berbasis Inovasi Pada Agroekosistem Lahan Kering Iklim Kering (PETANI LKIK) di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), tepatnya di Desa Senayan, Senin (30/8). PETANI LKIK merupakan bagian program Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK) Balitbangtan pada fase Program Penelitian Unggulan (PPU) Tahap 2 yang menyasar agroekosistem lahan kering iklim kering di NTB selain lahan kering dataran tinggi di Sumatera Barat dan lahan kering masam di Lampung.

Dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19, acara yang dibuka oleh Bupati Sumbawa Barat Dr. Musyawirin, MM dan anggota Komisi IV DPR-RI Muhammad Syafrudin, ST, MM ini dihadiri oleh pemangku kepentingan setempat seperti perwakilan dari DPRD Kabupaten Sumbawa Barat, Kodim 1628 Sumbawa Barat, Polres Kabupaten Sumbawa Barat, Dinas Pertanian dan Perkebunan, Camat serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Sumbawa Barat. Dari pihak Balitbangtan, hadir pejabat dari lingkungan Puslitbangtan, Puslitbangbun, BBSDLP, BB Biogen, BB Pengkajian, dan BPTP NTB. Kegiatan ini juga mengundang 65 petani kooperator yang tergabung dalam lima kelompok tani.

Kepala BBSDLP, Dr. Husnain, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala BB Biogen, Mastur, Ph.D mengatakan bahwa sejak April 2021, BBSDLP telah melakukan survei yang meliputi sumberdaya lahan, kesuburan tanah, penyusunan rekomendasi pemupukan, analisis sosial ekonomi, dan kelembagaan serta eksplorasi sumberdaya air. Oleh karena itu, PETANI KLIK ini akan sarat dengan fasilitas pendukung dalam budidaya jagung sebagai komoditas utama. “Nanti akan dibentuk Demfarm seluas 100 ha secara bertahap yang dilengkapi dengan teknologi modern terutama untuk penyediaan air dan juga budidaya jagung sebagai komoditas utama di sini,” ujar Mastur membacakan sambutan Kepala BBSDLP. Dengan desain jaringan irigasi dan jaringan pipa yang disalurkan ke sumur yang ada, diharapkan menjadi titik ungkit yang dapat mendongkrak produksi jagung di Kabupaten Sumbawa Besar. Selain itu, pada Demfarm tersebut juga disiapkan teknologi konservasi tanah untuk komoditas kopi, mete, rumput Biograss Agrinak, dan penanganan pasca panen jagung hingga pengembangan kelembagaan petani. “Semoga ini (PETANI LKIK) mampu mendorong dan menjadi show window pertanian modern bagi Sumbawa Barat, memajukan pertanian di NTB, serta meningkatkan pendapatan petani” pungkas Husnain.

Komitmen Balitbangtan terutama BBSDLP untuk mendukung petani juga diwujudkan dengan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pertanian Adaptif Lahan Kering Iklim Kering dengan menghadirkan empat orang narasumber. Sesi pertama Bimtek dengan topik Pengembangan Kelembagaan dan Korporasi Pertanian dengan narasumber Prof. Dr Rubiyo dari BB Pengkajian dan dilanjutkan dengan topik Penanganan Pasca Panen Jagung Berkualitas (Dr. Mulyana Hadipernata – BB Pascapanen). Selanjutnya pada sesi terakhir, dua narasumber dari lingkup BBSDLP dihadirkan dengan topik Teknologi Konservasi Air Mencegah Degradasi Lahan (Dr. Maswar – Balittanah), dan Pupuk Organik dan Pengomposan (Ir. Joko Purnomo, MS – Balittanah). (NC/WA)

bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling